.:: si MBAH ::.


MBOK SARAH: sebenarnya dia kakak dari bapakku, tapi karena usianya, ia lebih dianggap si mbah bagi kami semua...

Kakek dan nenek, mbah kung dan mbah tri dari kedua orang tuaku sudah meninggal semua. Di antara keempatnya, Mbah tri (mbah putri) dari bapak lah yang aku belum pernah bertatap muka dengannya. Beliau meninggal sebelum aku lahir. Hanya cerita dari bapak, pakde, dan bulik yang membantuku untuk bisa membayangkan sosok beliau yang digambarkan sebagai seorang yang tegar, taat beribadah, dan sayang kepada anak-anaknya. Bahkan, beberapa minggu sebelum meninggal, mbah tri-ku sempat mengumpulkan semua anak-anaknya, memberi wejangan kepada mereka, sebagai pesan terakhir sebelum menghadap Ilahi rabbi.

Mbah kung dari bapak, beliau meninggal ketika aku masih kecil. Namun sosoknya yang menjadikanku sebagai cucu kesayangan melekat erat di benakku, hingga kini, sampai nanti. Aku masih ingat, saat beliau pulang dari pasar, dan selalu membawakanku oleh-oleh kesukaanku waktu itu, ketan anget. Aku, dengan setia selalu menunggunya pulang di teras rumah, dan berteriak gembira saat sosoknya mulai mendekat dengan senyum yang hangat.

MBAH: Hasan dan aku bareng Mbah Mariyah

Menurut cerita ibukku, mbah kung-ku ini sering membuatnya keki. Ibuk hampir selalu ketiban marah dan omelan si mbah gara-gara aku. Yupz, saat aku menangis, ibukku yang disalahin, aku belum mandi, ibukku diomelin, aku merajuk, ibukku juga yang kena sasaran si mbah. “Wes, apapun yang berkaitan dengan kamu, selalu jadi perhatian si mbah, sampe beliau ngomong “kalo sudah ndak bisa ngurus anak, (maksudnya aku tuh 😉 ) wes anakmu tak uruse are,” kata Ibuk. dwuuuh, senengnya jadi ratu di hati si mbah 😀

Mbah kung dan mbah tri dari ibuk, sebenarnya juga tak kalah sayang kepadaku, tapi perhatian mereka kepada cucu-cucunya cukup berimbang. Di rumah mereka, posisiku sama dengan cucunya yang lain. Meskipun, kalo diingat-ingat, aku dan Ifa (sepupuku) sepertinya juga menjadi favorit si mbah. Maklum lah, kita selalu pergi dan menginap di rumah beliau saat akhir pekan. Sayang, aku tak berkesempatan mengantar kepergian kedua si mbahku ke peristirahatan terakhir. saat itu, aku masih di pondok, dan kedua orang tuaku, sengaja memberi tahu kabar duka itu setelah liburan tiba.

Lebaran kemarin, aku dan kedua adekku tetap bersilaturahim ke si mbah. si mbah, adek dari mbah kung (dari ibukku). si mbah, yang di usianya yang semakin tua tak pernah berhenti mendoakan kami, cucu-cucunya untuk selalu istikomah, berada di jalanNya.

MBAH: (ki-ka), Hasan, aku, Mbah Tun, dan Aziz....fotoNa pake otomatis neh, untung kamera ga jatuh, he3...

One response to “.:: si MBAH ::.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s