parpol


“Selamat, resmi jadi caleg ya…”
“Hahaha, alhamdulillah”
“Posternya sudah terpasang, besar, bagus”
“Iyo, iku masang-e mendadak. pas malam takbiran”

Saya yang sebelumnya cuek, tertarik dengan percakapan dua pria yang namanya sengaja tak saya tulis di sini.
“Caleg dari partai apa pak?,” saya bertanya.
“Oh, dari partai xxx”
“Bapak aktif di partai itu?”
“Ya enggak, buat nyaleg aja mbak”
“Oh, lha kok bisa jadi caleg di sana?”
“Ya ditawarin. sebenarnya saya dulu mencoba di partai X (partai bernomor urut pertama), tapi calegnya nggak jamin di nomor urut jadi, ya sudah pindah ke partai Y. Eeeh, di sana juga dikasih nomor urut jauh, nah partai yang sekarang ini lah yang mau menaruh saya di nomor urut jadi. Lagian, kalo saya jadi, mereka ya tak openi kok, ndak bakal saya tinggal”
“Ooooooh…….”

Partai politik benar-benar hanya menjadi kendaran politik bagi mereka yang mencoba mencari peruntungan dan tambahan penghasilan. Momen Pemilu pun terasa seperti masa panen yang sayang sekali untuk dilewatkan. Tak lolos dengan parpol A, bisa berganti ke parpol B, lalu ke C, begitu seterusnya. Visi dan Misi yang diusung parpol hanya menjadi hiasan, tak dipahami sebagai dasar perjuangan yang menjadi landasan seseorang hingga memutuskan untuk bergabung dengan parpol tersebut.

****

Beberapa waktu lalu saya dibuat terheran-heran oleh cerita temen tentang pacarnya yang menurut pengakuannya bekerja di partai politik XYD.
“kerja di partai XYD?
“Yupz”
“Sebagai apa? Staf sekretariat?
“Bukan lah!! masak staf sekretariat”
“Lha trus sebagai apa?”
“Ya pokoknya kerja di partai! wong dia sering ikut kegiatan partai kok”
“Ups!…”

Rasa-rasanya, partai politik bukan sebuah perusahaan yang mempekerjakan karyawan untuk kegiatan produksi dan operasional. Lha kalo ada 10, 100, 1000 orang yang berpikir seperti pacarnya teman saya, bahwa aktif di parpol adalah sebuah pekerjaan, dan pekerjaan tentu saja berkaitan dengan gaji, waaaah…….


4 responses to “parpol

  1. Ya….. dari pada ngetik naskah dirental mending memperkerjakan orang kan lebih hemat, bisa ngabisin tinta & kertas sepuasnya. hi…hi… 🙂

    Yo. ngga’ po-po Bu, mereka kan juga butuh makan, lipstik, bensin, itung2 mengurangi angka pengangguran. Bukan begitu Bu Dewi? :p

  2. hehe… parpol itu kan memang alat para pengusaha buat jadi penguasa…
    bahkan buat jadi caleg pun kan kudu “melamar” seperti melamar pekerjaan… 🙂

  3. daftar no caleg : tambahan dana untuk parpol
    siapa yg terbesar upetinya akan yang menjadi urutan pertama di daftar caleg.

    miris memang,bagaimana mgkin DPR dapat menjadi representatif rakyat di pemerintahan klo ternyata oknum caleg hanya menjadikan kursi caleg sebagai lahan investasi,
    klo udah dapat kursi saatnya bgi oknum tersebut untuk jual kebijakan yg mengorbankan rakyat…

    lihat juga:

    http://suarapembaca.detik.com/read/2007/08/23/071227/820518/471/pembaruan-pendidikan

    http://suarapembaca.detik.com/read/2008/10/11/092654/1018477/471/optimalisasi-desa-tekan-urbanisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s