Gedung Kuwait dan Haid


*Episode Masih satugontorputri*

Dibandingkan gedung lain, Kuwait selalu menjadi favorit untuk tempat belajar  di malam hari. Gedung dua lantai yang berada di bagian depan area Gontor Putri itu akan dipenuhi oleh santriwati. Ada yang menghapal sambil berjalan mondar mandir di depan gedung, ada yang duduk di dalam kelas, ada yang mengambil kursi dan menjadikan pagar di lantai dua sebagai meja belajar sekaligus bantal untuk tidur 😀 . Tak sedikit juga santriwati yang sengaja masuk ke ruangan KMI di lantai satu, menghadap ke ustadzah atau ustadz untuk sekadar bertanya pelajaran, mengobrol, atau hanya iseng memanggil.

Ustadzah dan ustadz, siapapun mereka, yang sedang berada di kantor KMI, akan siap sedia melayani berbagai pertanyaan. Menjelaskan, dan membimbing dengan sabar anak didiknya, yang mungkin terlelap tidur saat dia menerangkan pelajaran di kelas. Jika sekarang ini ada konsep one stop shopping, maka guru-guru di Gontor Putri memberikan one stop services kepada seluruh santriwati dari semua kelas, dengan ikhlas.

Aku, termasuk santriwati yang sering berada di area Gedung Kuwait. Sejak sehabis Isya sampai bel waktu tidur dipukul. Bukan, bukan untuk bertanya ke ustadz dan ustadzah tentang pelajaran yang belum kumengerti, tapi aku senang berjalan-jalan di sekitar Kuwait yang diterangi lampu ratusan watt sehingga dapat menghilangkan rasa kantuk, duduk di taman kecil depan gedung sambil melihat lapangan hijau dan pintu gerbang, sambil menunggu kantin dan koperasi yang berada di samping kanan gedung dibuka 😀
Jika ada banyak santriwati yang sengaja mengejar-ngejar ustadz atau ustadzah untuk bertanya, maka sebaliknya, akan selalu saja ada ustadz atau ustadzah yang mendatangiku dan bertanya “Dewi sedang belajar apa?”

“Ups! ini ustadzah,” kataku sambil menunjukkan buku yang aku pegang, yang seringkali aku sendiri lupa sedang membawa buku apa.

Suatu malam, sesudah bagian Ta’lim menutup pintu-pintu kamar, dan menyuruh semua santriwati belajar di luar kamar, aku berencana pergi ke Kuwati seperti biasanya.

“Dewi mau kemana?,” kata Nadi, salah satu temen di kelas III B, saat melihatku berbegas dengan dandanan rapi sambil membawa buku.

“Mau ke gedung Kuwait. Jalan-jalan, mo baca koran, kalo nggak males ya belajar”

“Loh, anti kan lagi dapet (baca: haid) to?

“Lah, emangnya kenapa?

“Eh, nggak tau peraturannya ya?

“Peraturan apaan?

“Yang lagi haid, nggak boleh jalan-jalan ke depan. Di sana banyak ustadz”

“Nah, nah. Apa hubungannya haid dengan ustadz?”

“Yaaaa…kan ketauan nanti Dew!”

“HAH?!! ketauan gimmmana?! emangnya ni lagi tembus ya…,” jawabku dengan nada terkejut, mata terbelalak, sambil spontan melihat ke bagian belakang rokku, dan tak kulihat bulatan merah di sana. Bersih, sebersih rok yang baru saja aku cuci. “Waduh, anti bikin kaget saja. Ketauan gimana sih maksudnya?”

“IYAA! ketauan kalo ente tuh lagi HAID!! kan keliatan to Dew!. Muka jadi kinclong, trus payudara membesar, wes pokoknya cewek yang lagi dapet pasti keliatan berbeda di mata cowok. Makanya nggak boleh ke Kuwait, ntar diliat ustadz kan malu”

Waduh. Mendengar penjelasan Nadi, sekali lagi, aku spontan melihat tubuhku.
Ah, masak iya sih, keliatan? Masak orang tau kalo aku lagi haid? Perubahan payudaraku? Aduuh, padahal sudah pake baju gombrong bin longgar gini. “Eh, emang keliatan ya?,” tanyaku khawatir.

Dengan gaya sok ahli, Nadi mengamatiku dengan seksama. Melihatku dari ujung jilbab (he3…bukan ujung rambut…) sampe ke ujung kaki. Tak hanya sekali, dia menegaskan pengamatannya lagi. Kali ini dari kaki, ke rokku, baju, muka, lalu tersenyum. “Ehmmmm….kayaknya sih keliatan. Tapi aku kan bukan cowok,” ucap Nadi sembari memegang dagu lancipnya.

“Waduuuuh…gimana sih??!. Padahal aku sering ke depan kalo pas dapet, trus kalo ada ustadz yang tau gimana dunk. hiks, hiks…..kan malu Nad….”

“Yaaa…anti sih. masak nggak tau kalo nggak boleh ke depan”

“Emang enggak tau. Lagian peraturan dari mana itu? Kok nggak tertulis, aku ya baru denger dari anti”{

“Itu dari ustadzah senior. Emang peraturan nggak tertulis sih, tapi semua orang tau kok, KECUALI KAMU!”

****

Sejak obrolan dengan Nadi saat itu, aku tak pernah lagi nekad belajar di Gedung Kuwait ketika sedang haid. Aku sendiri, tidak pernah mengkonfirmasi apakah peraturan itu memang ada, ataukah hanya akal-akalan Nadi untuk mengerjaiku. Maklum, gadis cantik asal Jember itu memang terkenal usil. Sayang, cewek dari keluarga borju itu tak dapat menyelesaikan pendidikan di ma’had, bukan karena dikeluarkan, bukan karena nggak kerasan, juga bukan karena malas-malasan, tapi atas permintaan orang tuanya. Hi Nad, klo nggak sengaja ngebaca tulisan ini, call me yach…


* Obrolan terjadi pada tahun 1994.


2 responses to “Gedung Kuwait dan Haid

  1. memang benar dew kalo mau haid payudara lebih kencang. tapi itu kan ada di dalam sana. tertutup bra. tertutup baju. tertutup jilbab.

    ustadz ndak bakal tahu kecuali dengan sengaja berjalan tegap sambil membusungkan dada seperti yang banyak dilakukan para gadis remaja dengan tujuan supaya payudaranya kelihatan besar

    lagian kan [harusnya] ndak mungkin ustadz matanya jelalatan ngamati payudara santrinya!

    hahahaha….
    emang nggak mungkin ustadz ngeliat, dan nggak ada santriwati yang dengan sengaja membusungkan dadanya dengan pakaian kebesaran yang super longgar. tapi untuk santriwati muda dan imut waktu itu (he3….)…. “omongan dan isu menyesatkan” kalo ustadz bisa tau kalo ‘kami’ lg dapet, udah bikin malu setengah mati….. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s