Berita Membahayakan


Beberapa hari lalu saat sebuah harian dari Jawa Timur memuat foto anak kecil merokok sebagai foto headline di halaman pertamanya, saya sempat membicarakannya dengan beberapa rekan. Terus terang saya tidak setuju dengan kebijakan redaksi media tersebut, sehingga saya meminta kepada seorang rekan media di Malang 😀 untuk tidak memuat foto tersebut sebegitu gamblang. Kalopun dimuat, paling tidak wajahnya diblur, dibikin samar.

Berita tentang anak kecil yang kecanduan merokok sejak usia 2,5 tahun memang bagus, gud news. Tidak heran jika kemudian beberapa stasiun TV berlomba menyiarkan si anak yang memang sudah terlihat lihai memainkan batang rokok, mengisapnya, dan menghembuskan asap dari hidung mungilnya. Dilihat dari sisi “rukun iman” kelayakan sebuah berita, memang ada unsur luar biasa dan human interest dalam berita tersebut.
Tapi sayang sekali para pencari berita tak memperhatikan sisi psikologis anak bersangkutan dan (yang paling penting) adalah ribuan dan jutaan anak-anak Indonesia lain yang menonton tayangan tersebut!. Lah, mana ada anak kecil yang memperhatikan “Adegan ini tak layak untuk ditiru” yang ditulis kecil di bagian pojok gambar bergerak si anak yang sedang merokok. (mungkin) yang terlintas di otak generasi penerus bangsa ini adalah “wah, ada anak seumurku yang memegang rokok, dia bisa masuk tipi. aku juga mau ah…”. Ato, bagaimana jika mereka penasaran dengan rasa linting rokok yang di dalam tipi berada di bibir mungil teman sebaya mereka. Ingat, rasa penasaran dan ingin tahu anak kecil sangat, sangat besar!. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, itulah yang diterima oleh otak mereka. Tanpa filter.

Saya kemudian ingat keputusan Komisi Penyiarain Indonesia (KPI) yang menyetop tayangan empat mata. Nah, apa mereka ndak melihat ada unsur membahayakan dari berita di tivi yang menyiarkan, menayangkan dengan sangat gamblang si kecil yang sedang merokok itu. Uh, help me! saya tak pernah membaca ketentuan yang dibuat KPI dan malas membacanya. Tapi saya tak ingin generasi muda (lebih) terkontaminasi dari berita yang tak bertanggung jawab.

Ups!, ada temen yang mencubit lengan saya setelah membaca “berita tak bertanggung jawab”. Saya pelototin dia dan “Enak aja lu! gw tuh tipe yang bertanggung jawab!” (nah, nah…apa hubungannya?… 😉 )





17 responses to “Berita Membahayakan

  1. Untung banget aku baca postingan ini. kalo sedikit aja kelewat, waduhh….
    mo masang foto anak asongan penjual rokok yang dagangannya/rokoknya di”embat” sendiri.

    terlepas dari masalah anak “nakal”, apa sih yang dikeruk oleh media non/elektronik itu dengan memuat sisi lain potret kehidupan anak Indonesia?

    opini yang kelewat batas atau hanya sharing rating?
    Yo wislah, sak karepmu!

    Ulasan psikonya mana? pingin baca duikit aja.
    nice posting. Bu.

    Yo wislah, sak karepmu!
    hiks, hiks…. menohok bangetz

  2. keknya sebagian media komersil deh mba, jadi mereka lebih mengutamakan faktor untungnya buat mereka daripada dampak dari berita mereka.
    agak susah juga ya….

    btw mendingan jgn ngerokok deh… 😀

    he3… emang seh mas, yg namanya media tuh komersil bangetz
    bisa diitung jari yang emang bener2 mengedepankan edukasi dan memperhatikan dampak pemberitaan terhadap psikologis masyarakat….

    soal mendingan jang ngerokok, SETUJU!!! 😉

  3. Media di Indon memang masih jauh dari bertanggungjawab. Tapi itulah gambaran rakyatnya, so harus ngapain yach ?
    🙂 salam kenal.

    masnya orang Indo bukan? 🙂
    btw salam kenal juga yach…
    matur tenkyu dah mampir di sini

  4. setuju bu. harusnya gambar sedemikian gak dimunculkan secara vulgar. efeknya justru memprovakasi. good posting?

    emang jadi beda tipis antara penyajian berita yang komplit dengan vulgar ya?
    informatif ato provokatif…

  5. Pers/mediamasa memang begitu, mbak. Nggak dikontrol sering lepas kendali, dikontrol katanya memberangus hak mereka.
    Pastinya mereka tahu efek samping pemberitaannya, namun sepanjang masih bisa “ngeles” dan menaikkan tiras/oplah/sharing atau apapun istilahnya….ya tabrak saja!

    ehmmm…..
    mereka di sini mungkin back to pemilik modal ya pak….
    meski sebenernya ga semua pelaku media seperti itu
    (he3…. ngebela insan pers yg masih punya kepedulian pak 😉 )

  6. media di indonesia masih lebih mengedepankan rating daripada unsur psikologis pemirsanya…
    apa mau dikata itulah dunia pertelevisian kita, tinggal kita aja yg kudu pinter2 mem-filter…hehehe..

    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    yupz…
    semuax emang back to konsumen…
    kita mau menonton ato tidak…
    cuman ya itu, sebagian besar konsumen alias pemirsa televisi menerima apa aja yang disajikan 😦

  7. wah jadi ingat… keluarga mertuanya Om saya… sejak kecil pada suka ngrokok.. tp emang di keluarga itu laki perempuan pada ngerokok.. kadang sedih ngelihatnya 😦

  8. Ya mbak.. saya setuju dengan komentar yang lain… tolong dong… sisi psikologisnya… untuk kasus ini… lebih baik lagi kalau di postingan ini juga memasukkan “pendapat Islam”… Biar bisa belajar nih…
    Jazakillah

    fiuh!!
    dr sisi psikologi aja dah berat….
    apalagi memasukkan pendapat yang Islami 🙂
    will try hard deh 🙂

  9. @ Ada yang panggil mbak, ada yang panggil bu, ada yang panggil jeng. Yang bener yang mana.
    @ Kalau media elektronik masih ada KPI yang bisa menegur dan menghentikan, kalau media cetak, tidak ada yang berwenang untuk menghentikannya. Tidak ada yang bisa membredel media cetak, yang bisa hanya masyarakat. Caranya, jangan dibeli – juga jangan dibaca. Lama-lama kan mati sendiri.

    Lah pak, apalah artinya sebuah panggilan 😀
    dipanggil mbak, yaaa memang dirikyu cewek….
    dipanggil bu, yaaa calon ibu 😉
    dipanggil jeng, ehmmmm……terkadang mang suka ngerumpi

    soal KPI, saya berharap ndak hanya perhatian sama empat matanya tukul, tapi juga melototin berita2 kek gambar anak kecil perokok itu

  10. …hihihiy… cak Nun ngamuk, mbak Dewi dipanggil jeng, ibu, mbak. Tapi sebetulnya semuanya berbahaya: mbak (dijambak), jeng (dijengkangno), ibu (dikibuli). Yang mana hayo… hihihiy.. *ngibrit*

    yaaaaaaaaaacchh…… 8)

  11. Bah… kalau semuanya hanya mementingkan rating dan menjadi terkenal… habislah Bangsa ini… apakah harus ada gerakan Revolusi Budaya…?!

    waduh, kekny belom revolusi budaya githu deh bang 😀
    ngeri juga dengernya….
    tpi boleh lah klo revolusinya dimulai dr diri sendiri dulu
    gimana? 🙂

  12. Wah begini itu. Sering banget media mengutamakan popularitas medianya tanpa memperhatikan dampak yang terjadi jika dipasang berita itu.

    ya, ya….. begitulah yg terjadi…
    so, kontrolnya ada di pembaca dan penonton deh…
    salam kenal,
    makasih dah mampir di sini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s