Aku dan Dia


Aku bertemu denganMu, sekali lagi, dalam pikiran liarku. Kembali berhadapan denganMu, bercengkerama, bercanda, bahkan saling mengolok. Uh, ya, aku memang kurang ajar dan tak tau sopan santun. Itu bukan masalah bagiMu. Karena Kau paling mengerti, memahamiku. Luar dalam. Bahkan untuk hal-hal yang aku ingkari keberadaannya.

Berbeda dengan biasanya, kali ini aku tak banyak meminta, tak ada permohonan khusus, hingga Engkau bingung dan menanyakannya kepadaku. “What happen aya naon Dew?! say it!”

“Ngomong apaan, wong emang gak ada apa-apa kok”

“Jangan pernah melupakan kata-kata dan janjiku,” kataMu mengingatkan.

“Yang mana?”

“Aku akan menjawab semua permohonan orang yang berdoa kepadaku”

“I know. Tapi aku sedang tidak ingin memohon”

“Jangan berbohong, dan sekali-kali jangan pernah lagi berbohong di depanku!”

“Loh, gimana to?! aku tidak berbohong. Dan aku tidak sedang atau ingin memohon, aku hanya menunggu”

“Menunggu apa?”

“Menunggu balasanMu, sanksiMu atas perbuatan tolol yang pernah aku lakukan”

“Ehmmm, kenapa harus  sanksi. Aku mengampuni orang yang bertaubat”

“Aku bertobat, dalam lisanku, melalui usaha perbuatan baikku. Tapi, aku tak yakin dengan semuanya. Bagaimana kalau perbuatan baikku diikuti pamrih? apakah tobatku diterima?”

“…….”

“Engkau diam! bagaimana mungkin Kau tak bisa menjawab?!

“Enak aja. Kalo aku jawab sekarang, kamu akan mengulangi perbuatan  yang menurutmu tolol itu, bertobat, merasa suci lagi, lalu berbuat yang katamu tolol itu lagi, tobat, begitu seterusnya”

“Uh, lalu harus bagaimana dunk???!”

“Lah, gampang bangetz!. Baca petunjuknya di setiap lafadz dalam firmanku. Jangan tanya dulu sebelum mencari!!”

“He, he, he….. aiem suooorrri yaaa…. lembaran surat cintaMu memang tersimpan rapi dalam lemari, hingga aku lupa menyentuhnya. Well, habis ini deh, aku akan membukanya kembali, membacanya dengan penuh cinta 😉 “

“Oke. Patuhi janjimu!”

“Jika Engkau menghendaki”

“Aku berkehendak!! hanya kamu mau melaksanakannya atau tidak?!!”

“Ups! iya, iya. Afwan. Akan berusaha dech 😉 ”

“Lalu permohonanmu?”

“Idih, wong dah dibilangin sedang tidak ingin memohon. Ehmm….gimana kalo jatah permohonanku disimpen aja… nanti kalo pas butuh, aku ambil. Gimana, boleh kan?”

“Masyi’ti”

” 😆 huehehehehe, terima kasih, matur tenkyu. Engkau memang paling mengerti. Salaam…”

“Salaam, take care 🙂 ”
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

***

CintaMU kepadaku tak ternilai
Cintaku kepadaMU, bisa dinilai
tunggu aku di singgasanaMU
malam ini, detik ini…..  cu……

ditulis Minggu (4/1/09), pukul 22.00 WIB
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>

****

Engkau sekarang pasti sedang tersenyum dan berkata “Apa gw bilang?!!”

Ya, ya, ya…. aku mengaku kalah dan salah.
aku tak sedang menunggu sanksiMu,
ternyata…
aku tak bisa untuk tidak memohon kepadaMu.
Dalam sembah sujudku,
di setiap untaian kataku, terselip selaksa doa dan permohonan ampunMu untukku, untuknya…

karna aku tak akan pernah sanggup menahan sanksiMu
saat ini, atau nanti… 😦
ampuni hamba ya Tuhan…

Senin (5/1/09), 15.30 WIB

 

7 responses to “Aku dan Dia

  1. dialog yang indah.
    manusia pasti tak kan pernah berhenti memohon, kalau mau jujur

    Iya mas/pak….
    jujur kacang ijo, selalu ada permohonan setiap hari, setiap saat, setiap detik
    Dia Maha Tahu, meski terkadang kita sering mengingkarinya 🙂
    makasih dah mampir di rumah kecil saya….
    en….jangan kapok bwt balik lg yach…. 😀

  2. Walah, sebuah obrolan tingkat tinggi, dimana saya sendiri tidak berani membayangkan akan mengalaminya….
    Mbak, klo ketemu lagi, minta tolong saya juga dimintakan ampun atas segala dosa…

    he3… tadi barusan ketemu (hallah!)….
    dan sekrang saya mencoba merasakan kehadiranNya
    di samping saya, selalu
    insya Allah ya mas… ntar tak sampein 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s