24 Hours, Malang – Gaza


Beberapa hari terakhir, udara Malang terlalu dingin. Menusuk. Meski berselimutkan bed cover tebal, di atas spring bed besar, tetap tak bisa mengusir desiran udara yang masuk, membelai kulitku yang terbuka, membuatku gelisah, tak nyenyak.

Tadi malam aku kembali mengeluhkan udara yang terlalu dingin, hingga aku putuskan untuk menyegerakan tidur, menghindari air yang berarti menghilangkan ritual cuci muka, membasuh kaki, bahkan membersihkan wajah dari bekas bedak dan make up.
Saat Tuhan membangunkanku pukul 02.46, aku bergeming. Kembali memejamkan mata, memeluk boneka, merapatkan kaki dengan dada. Ah, nyaman.

Azan subuh berkumandang. Aku masih menawar untuk tidak segera membuka mata dan bergegas mengambil air wudhu. Subuhku telat, dan aku masih mengutuki udara yang sangat dingin.
Rencana mandi pagi urung kulakukan. Laptop yang terbuka kuabaikan. Berselimutkan bed cover, aku menonton tivi dari chanel yang sangat terbatas, karena  Metro TV, TransTV, Trans7, TVOne, GlobalTV, tak lagi menyapa pemirsanya di Malang sejak beberapa minggu terakhir. Kali ini aku tak mengeluh, tapi mengutuki Balmon, Badan Monitoring atau apalah namanya yang melarang tipi-tipi itu siaran di Malang.

Pagi ini langit Malang diselimuti mendung tebal yang membawa rintik hujan,  membuat udara semakin dingin, menjadikanku bertambah malas beraktivitas.
Pukul 09.00 aku putuskan untuk memasak sup merah, meski dengan bumbu hasil ‘perkiraan’. You knowlah, aku bukan koki andal, dan perempuan idaman mertua karena pandai memasak.  Tapi kalo sup, bumbunya pasti ya itu-itu saja (he3, sengaja nggak nyebutin takyut salah en tambah malu2-in).
Dengan cekatan, aku memasukkan tomat yang diblender ke dalam panci, bumbu yang sudah aku haluskan, rajangan bawang bombay, sosis, dan kacang polong. Nyam, nyam….. sup merah menjadi sarapan yang menghangatkan.

***

Malam ini sangat dingin, menusuk. Lebih dingin dari malam-malam kemarin, berhari-hari lalu. Tak ada aliran listrik, tak ada gas untuk menyalakan pemanas. Dingin dan gelap.
Aku tidur berselimutkan bed cover besar bersama dua orang adik dan dua sepupu.  Bukan, bukan di atas tempat tidur karena tempat tidur kami rusak, hancur berkeping akibat serpihan bom yang katanya nyasar.

Kami tidur dengan posisi duduk, bersandarkan dinding, dengan kaki saling menyilang satu sama lain, tangan berpegangan dan saling mengelus, menghangatkan. Ah, itupun tak mampu mengusir dinginnya udara.
Menggigil? sudah pasti. Gemeletukan gigi yang beradu terdengar bagaikan simphony lagu. Suaranya saling melengkapi, terus, tak pernah berhenti.
Jangan, jangan pernah berhenti, sebab berhenti berarti mati. Aku tak akan sanggup kehilangan lebih banyak lagi….

Kami tidur,  mata terpejam, telinga terjaga. Mendengarkan suara tembakan, desingan meriam, gelegar bangunan yang rubuh, sembari berharap dan berdoa tak ada bom, misil, atau apalah namanya yang mampir ‘kembali’ ke bangunan yang kami tempati. Ah, terlalu megah jika reruntuhan ini dikatakan bangunan. Ruangan terbuka bekas ruang tamu rumah seseorang, sebab rumahku sudah tak berbekas, rata dengan tanah bersama orang tua yang tewas di malam pergantian tahun.
Aku masih ingat, saat jutaan orang di dunia berpesta pora menyambut tahun baru, aku kehilangan orang tua, dua kakakku, paman dan bibiku. Mereka terkena serpihan bom bersama puluhan tetanggaku yang sedang menolong beberapa korban bom di halaman depan rumah. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kekuatan untuk membangunkan kedua adikku yang terlelap tidur, mengajak mereka untuk lari, bersembunyi.

Sejak malam itu, hidupku yang rumit semakin sulit. Tapi aku harus tetap tegar, untukku, dan untuk adik-adik dan sepupuku. Menjaga mereka, dan mengajak untuk tetap bisa bersyukur kepadaNya. Karena aku yakin, selalu ada hikmah dan cintaNya dalam setiap peristiwa yang kami alami.

Malam ini aku bermimpi. tentang dingingnya udara, tembakan, desiran bom, ratusan orang tewas, ribuan terluka, merintih, mengernyit kesakitan. ah, bagaimana mungkin ini mimpi? bukankah ini kejadian nyata yang aku saksikan kemarin, kemarin lagi, dan hari ini?.
atau……? apakah peristiwa itu sebenarnya tak nyata? semuanya hanya mimpi belaka? orangtuaku masih hidup, kedua kakakku pun belum tewas?!! Tak ada tembakan apalagi bom?!, katakan aku masih bermimpi!!!

***

Sore ini aku bersiap untuk berangkat ke kantor. Mandi, dandan, dan sibuk memilih celana. Pake celana kain atau jins ya?. Aku ambil celana 3/4 yang aku beli di sebuah FO di Bandung tahun lalu. Ehmm, akan sangat cocok dengan sepatu anyar yang aku beli di Matahari Dept Store kemarin sore. Huehehehe, keliatan banget mau pamer ya?!. Emang! lagian beli sepatu baru kan buat ditunjukin kalo itu baru 😀 .

Sesaat sebelum keluar rumah, aku putuskan untuk mengganti celana. Well, terlalu pendek dan ya! too sexy. Akhirnya aku pilih jins, biar ujung sepatuku tetap bisa nongol dan terlihat indah. Bukan celana kain yang akan menyembunyikan desain apik sepatu baruku. Aku mematut diri di depan cermin, sekali lagi.
Sudah oke, tapi rasanya ada yang kurang. Apa ya?
I know! aku ambil kalung dan gelang, yupz! cocok dengan warna sepatuku yang kombinasi hitam dan putih.

***

Ternyata aku tidak bermimpi. Azan subuh yang berkumandang lemah membangunkanku dan saudara-saudaraku. Kami membuka mata, saling memandang, menguatkan, tanpa suara. Aku yang pertama kali menggerakkan badan yang kaku bak papan, mencoba berdiri dan mengusir rasa dingin, mengajak mereka bertayamum untuk kemudian menyapaiSang Khalik. Bercerita tentang apa yang kami alami, dan berharap Dia tak akan tinggal diam, memberikan yang terbaik, untuk kami, dan masyarakat Palestina lainnya.

Sinar matahari menyibak sisa gelap malam. Namun hatiku tak bisa mengikuti cahayanya yang menyilaukan. Sebab, pagi menjelang berarti akan ada banyak pemandangan menyakitkan yang tertangkap oleh mataku. Semua bangunan runtuh, asap hitam mengepul, misil melesat, darah, tatapan putus asa, sedih, dendam, bercampur aduk menjadi satu. Siang, adalah ketakutan lain dari malam yang kelam.

Perutku sakit, berteriak meminta jatah makan. Hal sama yang aku yakin juga dirasakan kedua adik dan sepupuku. Ya, kami manusia  biasa, meski dalam perang, kebutuhan biologis tetap harus dipenuhi.
Masih tanpa bercakap-cakap, kami berjalan sejauh 200 meter untuk ikut mengantre roti bersama ratusan masyarakat lainnya. Semoga pagi ini kami beruntung dan mendapatkan jatah masing-masing. Kemarin, salah satu adikku tak kuat antre dan aku harus rela untuk berbagi roti dengannya. Ah, bagaimanapun aku harus tetap bersyukur, masih ada bantuan yang sampai ke daerah kami. Sebab menurut cerita yang aku dengar kemarin, banyak yang mati kelaparan karena bantuan tak sampai ke wilayah mereka.

***

Aku tiba di kantor, agak telat 15 menit tapi masih bisa ikut rapat sore seperti biasanya. Usai rapat singkat, aku buka kompi, onlen, buka blog, baca imel, buka fesbuk, ngebalas imel, ngedelete message di fesbuk, dan ber-YM ria dengan Rachma di Jakarta dan Lia di Bandung, sembari mengerjakan tugas kantor.

Saat menjelajah dunia maya, mbah gugel menyuguhkan aneka pemandangan dan berita yang membuat hatiku miris, tersayat, perih. aku tak kuat menahan tangis menyaksikan pembunuhan brutal dan terencana itu. Melihat penderitaan anak-anak kecil tak berdosa, menyaksikan para ibu yang kehilangan putra tercinta, kaum bapak yang kehilangan seluruh keluarganya.
Dan aku masih saja mengeluhkan dinginnya Malang???
kurang bersyukur untuk semua nikmat dan karunia yang Engkau berikan?
Ampuni hamba Ya Tuhan…




5 responses to “24 Hours, Malang – Gaza

  1. usahakan nonton tv one karena di situ anda bisa melihat kekejaman neo-nazi zeonis israel

    lah, gimana to….
    kan udah saia tulis di atas bang…
    Metro TV, Trans TV, Trans 7, TV One, Global TV, ilang dari peredaran tipi di Malang. Disetop sama yg namanya BALMON.

    hiks, dirikyu belum punya budget bwt ambil tipi berlangganan 😦

  2. ah memang sudah waktunya mencari selimut yang lebih tebal dew: suami 😉

    masalah hilangnya sinyal beberapa TV itu bukan salah balmon. balmon tidak melarang mereka siaran. yang salah ya tv-tv itu yang ndak mau disiplin mengurus ijin siaran di malang yang dingin itu

    israel?

    ah….

    duh, arek sinting….
    alinea keduamu tak hapus!
    uh, napa kmaren ga ol ya…. 😦
    bisa ngehapus dr maren2 :mrgreen:

  3. malang masih dingin? Di sini di bawah cermai sudah mulai panas. mungkin karena makin padatnya pemukiman

    yupz….
    masih diiingginnn…..
    palagi hari2 terakhir ini….
    meski ndak sedingin dulu pas pertama kali menginjakkan kaki di Malang seh… 😦

  4. Numpang komen ah…..,
    Menurut saia ISRAEL memang kejam sama kejamnya dengan malang raya dengan HUGOS, BALE BARONG, PLAME, JOKO TARUP dan SANGGORITI-nya Nazzi yang parnah membantai kaum mereka. Tapi yo wis ga usa dikomentari terlalu panjang, lah wong mereka juga punya alasan untuk melakukan itu kok, yang bisa menilai secara objektif cuma Tuhan. Gitu aja kok repot.

    *salam kenal….*

    waduh, dulu pas di Malang jangan2 penggemar setia hugos, bale barong, en flame tinggal di daerah mana mas?
    salam kenal juga yach…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s