Tuhan Sembilan Senti


no-smoking

Dewi kecil selalu memarahi siapapun yang merokok di rumah. Bukan bapak dan ketiga sodara lelakinya, karena mereka bukan perokok. Tapi para tamu, tetangga, dan keluarga lain yang bertandang. Asap rokok membuatnya pusing, serasa ada di dalam bus penuh penumpang, pengap, bikin mabuk.

Saat sekolah di Mantingan Ngawi, dia bersyukur selama enam tahun tak  pernah mendapati rokok, ya iyalah! gilingan aja klo sampek ada santriwati ngerokok!!. Para asatidz yang ramah dan bertampang bening pun terlihat sangat anti rokok. Lha ndak pernah sekalipun terselip batang rokok di jari mereka, apalagi bungkus rokok di saku kemeja atau jas.

Berbeda ketika kuliah di Malang, Dewi  selalu mendelik kepada teman-temannya yang merokok. Eh lha kok ndilalah dia malah terjebak dengan para perokok dalam setiap diskusi, rapat, atau acara apapun di luar kampus.
Katanya, otak mereka akan mati suri tanpa rokok, ide brilian tak akan muncul sebelum dipancing dengan nikotin, dan diskusi akan terasa hambar tanpa asap lintingan tembakau itu. Ia sayang dan mengagumi pemikiran teman-temannya, tapi tetap saja, Dewi tak menyukai rokok dan akan selalu  menatap sebal plus mematikan kepada mereka, para perokok.

Jika bertemu perokok di dalam angkot, di bus, atau di angkutan umum lainnya, ia pasti akan menyemprot mereka dengan omelan panjang dan menyebalkan. Sampe bikin siapapun yang sedang jalan bersamanya pura-pura nggak kenal, takut sama sikap spontannya pada perokok.
Pernah suatu hari, dia pergi ke Matahari Pasar Besar bersama seorang teman sekos, Fitri yang juga tak tahan bau rokok. Masuk ke dalam angkot, sudah berisi lima orang, seorang pria duduk termangu di kursi deret kanan, memandang kosong keluar jendela. Seorang pria lagi, duduk di pojok dengan rokok terselip di tangan. Cuek, ia mengisap dan mengembuskan asapnya, lewat mulut, dari hidung. Sementara tiga orang perempuan merasa jengah, dua di antaranya menutup hidung dengan tisue, seorang lagi mengibas-ibaskan tangan. Tanda mereka berharap si pria mematikan rokok, yang tak jua dia lakukan.

Bahkan sebelum pantatnya menyentuh kursi angkot, Fitri yang punya penyakit asma langsung menutup muka dengan ujung jilbabnya. Dewi, melotot sebal ke arah perokok. Sedetik, mata keduanya beradu, si pria  pun  melengos, cuek, meski mendapat tambahan “musuh”.

10 detik dirasa cukup untuk memberi kesempatan si pria mematikan rokok, tapi ia bergeming. “Pak, bisa matiin rokonya ndak?,” kata Dewi, membuat si pria kaget, memandang Dewi.

Ditunggu dua menit, si pria masih cuek. “Eh, ngerti bahasa manusia kan?! bapak bisa mematikan rokok?! tuh liat, ada tiga ibu yang sebel sama asap rokok bapak. Mbok yo ngerti!,” ucap Dewi ketus. Dari balik tisue, dua wanita melihatnya dengan tatapan terima kasih.

Si pria tetap diam, tak mengisap rokoknya, tapi juga tidak mematikannya. Sangar, ia memandang Dewi, tak berkedip. Yang dibalas Dewi dengan tatapan marah dan sedikit takut. “Ya ampun, ana akhof (takut),” kata Fitri yang alumni pondok pesantren Ngabar Ponorogo.

Lebih dari satu menit mereka beradu kuat saling menatap, melihat tepat ke mata masing-masing. Kalo ada sutradara sinetron Indosiar, pasti wajah mereka disorot bergantian, di zoom in ke mata, zoom out, sembari menyorot ekspresi wajah penumpang lain, lalu kembali mensyut keduanya dalam satu scene. Tak lupa dengan iringan musik ala genderang perang. Whew!.

Tak tahan dengan itu, Dewi mencoba strategi selanjutnya, berteriak. “PAk supiiiiiirrrr!!!! ini lho ada perokok di angkot bapak!! disuruh matiin rokok nggak mau”.

Pak sopir bingung mau berbuat apa. Lha wong dia juga perokok. Kalo nyuruh penumpangnya tidak merokok, berarti dia juga harus tak merokok. “Lah, gimana mbak…..?”

“KOk gimana seh pak?! Ya suruh berhenti!!. Bapak itu harus kasih servis bagus ke penumpang. Coba liat penumpang bapak yang nggak merokok ini berapa? yang merokok berapa? Kalo kita semua turun, ndak mau bayar, bapak mau??? pilih yang mana?!,” kata Dewi dengan mata masih menatap tajam kepada si perokok.

“Eh, eh…nggih mbak. Ehmm, ngapuntene mas, rokok-ipun dimatiin nggeh….,” kata pak Sopir dengan wajah melas. HAH! dia bingung seh!

Si pria masih juga diam (bisu kali ya….?). Tak mematikan rokoknya, tapi langsung membuangnya lewat jendela angkot.
“Lah, bapak iki yo opo seh?! Tadi ngerokok sak enake dewe, sekarang buang puntungnya sembarangan! Wes ndak cinta kesehatan, nggak suka kebersihan!,” omel Dewi lagi.

“Duh Wi, kholash….,” celetuk Fitri.

***

Saya tadi baru saja buka milis gontorians dan membaca postingan ini, yang kemudian saya copy di sini. (eh, saya juga nyomot judulnya jadi judul postingan saya. keren seh…. 😉 )

TUHAN SEMBILAN SENTI
Oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPRMahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.


Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfatu malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

19 responses to “Tuhan Sembilan Senti

  1. Ampun Pak Taufik, aku juga sempat “merokok” di Ladang Jagung mu 🙂
    Tuhan itu sudah merasuki darahku.
    bibirku jadi hitam pucat.
    Tapi…
    oh Tuhanku.

    mas, sempat merokok, berarti sekarang ENGGAK kan?????
    awas kalo masih!! :mrgreen:

  2. waduh…aq pha salah masuk neh…, hehehehe. Aq memang perokok, bisa dibilang perokok berat. Gak peduli dimana aja, pas lagi kecut pingin ngerokok ya ngerokok aja terus. Pernah sekali di Padang kami metting dengan komisaris jamsostek, seantero aula bertebaran rokok, lha wong komisarisnya duluan kok *sory bos komisaris, buka rahasia*.
    Yup, bagi aq dan perokok lain memang merokok dapat meransang ide yang brilian, kalau gak ngerokok otak jadi buntu rasanya. Tapi aq selalu menghormati yang tidak perokok, minta izin atau ngumpet di tempat lain. Aq bukannya gak pernah nyoba untuk berhenti, tapi tiap kali dicoba aq malah bingung gak tau mo ngerjain apa. Jujur aq sebenarnya takut ma ancaman bahaya rokok, tapi aq selalu gak berhasil menghindarinya. Yach..mudah2an aq gak jera aja nyoba untuk stop. Doain ya.., hehehe..

    gak salah masuk pak….
    duuh, didoain dech biar ga jadi perokok lagi…
    tapi selaksa doaku ndak bakal mempan kalo situ ndak ada usaha…
    sehari dikurangi satu, besok satu lagi…begitu seterusnya sampe gak ngerokok lagi…

  3. Wah, hebat sekali gertakannya. Saya saja yang secara natural bukan perokok, “shigor” seh, nggak sampai segalak itu sama orang yang merokok. Tapi memang seharusnya begitu, karena mereka yang merokok di negara ini hampir tidak punya sopan santun.
    Apa iya rokok bisa mencetuskan ideide cemerlang? Sebenarnya sih di otak mereka itu memang sudah ada ideide cemerlang, tapi karena efek ketagihan itu, ya seperti polisi “seceng” deh. Bagi dulu dong rokoknya, nanti keluar deh saya. Duh, kasihan sekali diperas sama diri sendiri ya 😀

    lah, wajar dunk kalo dirimu ndak segalak itu sama perokok…
    sesama cowok.. 😀
    oooooo…di shigor yach…
    emangx ngaruh to, penempatan kamar ama kebiasaan merokok ?
    trus bukanx habis shigor yaa ke kibar jga? 😀
    iya tuh, yg ngomong rokok bisa ngebantu ngeluarin ide cemerlang, karna dah tersugesti en terkontaminasi ama nikotin…

  4. SETUJU……Mba Dewi….!!!

    De juga salah satu orang yang SANGAT AMAT MEMBENCI ‘ROKOK’…..!!!! sampai2 de dah males banget naik angkot karena ya itu tadi sering sekali kejadian seperti yang mba alami dengan sahabat mba, aku tau koq mba rasanya di angkot yang dah SUMPEK ditambah lagi sama ASAP ROKOK waaaduuhhh…kebayang dech tue kita yang benci rokok akan langsung sesak nafas dan mau pingsan rasanya, makanya de lebih nyaman untuk naik motor atau taxi (Klo DOku-nya lagi banyak ^.^) 😀

    Tapi…ya bener juga kata abangku Taufiq Ismail (Ciiyyeee…Ngarep.COm) kalau merokok itu sudah menjadi BUDAYA di Indonesia, jadi susah juga untuk bikin ‘resolusi’ yang minimal ‘win-win solution’ untuk perokok,orang yang benci rokok,Pengusaha rokok,dan juga buruh rokok. Ribet dech urusannya….. 😦

    Cuma ada satu hal yang de mau sampaikan:
    “KALAU MAU ADA PERUBAHAN, MAKA MULAILAH PERUBAHAN ITU DARI DIRI KITA SENDIRI :)”
    dengan begitu semoga perubahan itu juga bisa menular ke orang disekitar kita, Amin…

    With LOVE,

    Dee…

    yupz De…. benner bangetz..
    mulai perubahan positif dari diri kita, dan lingkungan terkecil..
    sukses selalu bwt Dede ya… 🙂

  5. sampen harus bawa obat nyamuk kemana2 jadi kalo pas ada yang ngrokok di angkot tinggal nyalain obat nyamuk…. kalo protes… gatian protes tuh orang :mrgreen:

    nah, klo yg kek gini nambahin kerjaan saya dunk pak 😀
    keknya lebih enak bawa baygon semprot aja x ya….
    klo ada yg ngerokok tinggal disemprot pake baygon
    what d u think? 😉

  6. rokok yah? untung saya bukan perokok..kadang2 terganggu juga sih ama asap rokok orang lain..

    bkn perokok?
    gud..gud…
    asap rokok ga cuman ngeganggu, bikin sakit!
    eh, makasih dah mampir di sini ya… 🙂

  7. saya bukan perokok 😀
    salam kenal

    bukan perokok?
    welkam d rumah mungilku 😉
    mo minum kopi, teh, air mineral, ato bw minuman sendiri?
    salam kenal juga… 🙂

  8. Setuju tu mbak, bukan perokok yang merasa terganggu mesti berani menegur perokok di dekatnya. Kita harus menjungkirbalik-kan persepsi para perokok, bahwa perokok adalah laki-2 jantan, smart, gentle. Tunjukkan pada mereka, bahwa merokok (di tempat umum) adalah laku seorang laki-2 brengsek!

    Tapi kalau kita satu-2 nya bukan perokok di tempat itu, ya lebih baik ngacir aja!

    perokok di tempat umum = brengsek 😀
    di tempat khusus = setengah brengsek 🙂
    sembunyi2 = setengah brengsek dan pengecut 😉

  9. saya bukan perokok, mbak…. salam kenal 🙂

    salam kenal juga Fietha…
    welkam…to area bebas rokok 😉
    tpi… mana alamat rumahx..? biar bisa berkunjung balik 🙂

  10. hhmm dewi emang cerewet demi kebaikan saya jadi malu hihihihi

    waaaaah….
    perokok to Om????
    duh, berhenti deh….
    ok…..
    say yes!!
    pasti yayanknya tambh seneng tuh,
    ndak bakal tanya2 yg di kuningan lagi 😀

  11. Harusnya lebih banyak ”ahli hisap” mampir ke blog ini sambil mengepulkan marlboro, a mild, starmild, x mild, gudang garam, dll, biar disantlap sama sang empunya blog ha..ha..ha. Hidup lebih nikmat tanpa rokok….apalagi kalau ditambah sepedaan

    huehehehehe…….
    duh Mr Nun….
    dah lammma bangetz dirikyuh tah mengayuh sepeda…
    mannna skrg ujan lagi…
    (uh, banyak alasan yakz?!)

  12. Heheh….
    Para kyai sekarang pro kontra atas fatwa haram MUI tentang rokok.
    Yo opo tho…..

    nah, itu dia mbak….
    tapi klo bwt aq seh…mo diharamin mo enggak, NO SMOKING 😉

  13. **************************
    ::::::::::::kutulis komentar ini sambil menancapkan sisa-sisa rokok 234 ku di asbak yang sudah rada usang ini:::::::::

    AgrRRRRRrrrrrrrh……nikmate pop….pol…pol….

    ni’mal ngudude ba’da dahaaar…

    kwek…..kwekkk…300x

    tidak diterima di sini :mrgreen:

  14. Hallo sobat, happy weekend ya.., hehehe.. dah kesorean ngucapinnya.

    makasih….
    alhamdulillah deh mas, wiken ini bener2 hepi
    smoga besok, lusa, lusa lagi, minggu depan, minggu depannya lagi tetap bisa ngerasaian anugerah dan karuniaNya 🙂
    hepi wiken jga untukmu 😉

  15. aku gak berani komen, karena aku perokok (ih.. malu aku) …apalagi stelah MUI berfatwa haram merokok… duh gimana ya..dah terlanjur nulis di sini.. jangan dimarahi ya mbak
    tapi ni juga lagi nyari inspirasi/artikel yang bisa membuat berhenti merokok. tak kopi tulisan TAUFIK ISMAIL tu ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s