Dia [selalu] menjagaku


omaigad!!! deg, gedebuk, gubrak! PINTU rumahku TERBUKA!!! alias tak terkunci. duh, duh, duh….jangan2 didobrak maling nich, itu yang ada di pikiranku saat pulang dari kantor tadi. Aku langsung masuk ke rumah dan mendapati suasana ruang tamu yang berantakan seperti saat aku tinggal 😀 . laptop masih di depan tipi, ehmm…aman pikirku, sambil meneruskan investigasi ke kamar yang alhamdulillah nayamul rapi 😉 dan  melihat barang-barang berhargaku [yang tak seberapa] masih tetap di tempatnya.

whew!! kesimpulannya, penyakit pelupaku KAMBUH!!!. hiks, masak keluar rumah lupa ngunci pintu seh?! untung diselamatkan dengan posisi pintu pagar yang tertutup rapat, jadi orang yang lewat gak tau kalo rumahku terbuka untuk siapapun yang mo masuk. en… d u know? ternyata aku juga lupa matiin sanyo , fiuh!!. parahnya lagi, saat sanyo ngisi air di tandon, kran kamar mandi juga terbuka. di atas diisi, langsung dibuang di bawah. bener2 dech!…….

after all, have to say syukron katsiron kepada Sang Kekasih yang tetap memberikan limpahan kasihNya…
menjaga rumahku dan isinya 😉

hari ini amazing!
sebuah rahasia terungkap
membukakan mataku akan sebuah kebenaran
meski menyakitkan
hari ini kacau!
hingga aku sempat meracau
menghujat tak jelas

aih, ternyata hari ini ditutup dengan indah
lewat bukti nyata kebesaranNya
kurang apalagi?!

semoga dalam tidur, saat batas hidup dan mati begitu tipis, aku masih dapat mengingat dan menyebut nama Sang Kekasih dalam hati dan pikiran, desah napas, dan di setiap detik detak jangtungku…
aku menghadapMu…..




Rapuh, Belajar untuk Kuat


terkadang kita memang harus menjadi lidi,
untuk menyadari bahwa kita tak bisa [selalu] sendiri
membutuhkan orang lain,
untuk saling menguatkan, menyempurnakan…

itu komen saya untuk note seorang teman di fesbuk yang menulis  “jangan menjadi lidi, yang hanya kuat saat bersatu dan rapuh kala sendiri”. hai teman -to not write ur complete name here-, menjadi rapuh bukan sebuah kesalahan, kelemahan, apalagi dosa. menjadi rapuh menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia, makhluk sosial yang diciptakan untuk hidup bermasyarakat, saling membantu, membutuhkan, wujud dari hablun min annaas, ukhuwah dan apapun istilah lainnya.

menjadi rapuh merupakan kesempatan belajar untuk lebih kuat, tegar.
manusia tak akan menikmati saat kuat sebelum merasakan dan melewati fase rapuh. tak akan mensyukuri dan memahami kesenangan dan kebahagiaan sebelum merasakan kesedihan. selalu [harus] ada keseimbangan dalam hidup, ada hitam dan putih, ada yin-yang, malam-siang, matahari dan bulan.

rasakan kerapuhanmu, kelemahanmu, kesedihanmu…
sebagai anugerah nikmat dariNya

aku dan pagi


fiuh! badanku bener-bener remek!!.
nggak seperti biasanya, pagi-pagi aku dah mandi [biasanya mandi siang geeetho 😀 ], karena jam 7.30 musti ngikut acara penyerahan sertifikat tanah di Pasuruan. euh!, kalo bukan relasi lama dan sudah ngajakin sejak sebulan lalu, ndak bakalan mo repot-repot ikutan ke sana hehehehe. secara hari ini juga ada undangan business lunch di hotel Pelangi, sayang si pengundang baru kasih kabar jam 05.30 pagi tadi.

Baca lebih lanjut

…kanopi, Kiki, listrik, dan petir….


Sesaat sebelum berangkat kerja sore tadi, mas Ary, tetangga depan rumah mengetuk pintu dan mengatakan kalo kanopi pesananku bakal mulai dipasang. Nah loh, aku musti kerja, trus ndak ada orang di rumah, sapa yang bakal ngawasin para tukangnya??.

Sesampai di kantor, langsung deh telpon Kiki, dan yes! ternyata doi dah free (maklum neh, kan lagi liburan mahasiswa, ya to bu dosen 😀 ) dan bisa meluncur ke rumah. Well, meluncur di sini itu berarti aq musti ngejemput dia di kosnya bis rapat rutin sore. (ini nih, kalo dah segede ini ndak berani naek motor, huahahaha….pisss Jeng!! ni salah satu cara bwt memotivasi ente biar berani belajar naikin si kuda besi itu).

Baca lebih lanjut