Jangan Pernah Menunda (lagi)


Dulu, saya sempat membaca artikel ini di milis (meski saya lupa milis yang mana). Ketika tadi pagi browsing artikel tentang psikologi, tak sengaja saya menemukannya lagi. Membaca ulang, saya masih tetap saja menangis, tersedu, merasakan kegelisahan dan kebingungan si pemuda, sekaligus perasaan campur aduk si ibu. Menyesal dan bersalah, mungkin itu yang dirasakan perempuan itu atas tuduhan prasangkanya kepada si pemuda.

Saya paling susah mentolerir pengamen, pengemis, dan peminta-minta necis yang mendatangi setiap rumah dengan kedok sumbangan untuk panti asuhan. Biasanya, saya selalu melihat performance mereka untuk menentukan apakah akan berbagi rejeki dari Allah receh ataukah tidak. Jika secara fisik si peminta tak memungkinkannya untuk bekerja (tua sekali, cacat), saya akan berbaik hati. Jika masih segar bugar, kuat, lebih baik saya mengatakan tidak, dari pada memberi namun kurang ikhlas.

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Matos, sengaja mau belanja di Matahari memanfaatkan voucher pemberian teman. Di tangga masuk mal, seorang anak duduk dengan kepala tertelungkup di atas paha, kecapean, sementara di sampingnya ada sekitar 20 an lebih tahu goreng. Ia bukan pengemis, tapi berjualan dan belum habis hingga malam menjelang. Saya ingin membeli semua dagangannya tapi masih harus masuk mal, rasanya akan ribet jika harus menenteng puluhan tahu dengan aromanya yang khas tercium oleh siapapun yang ada di dekat saya. Ah, saya bisa membeli ketika pulang belanja, pikir saya kemudian, sembari masih melihat anak itu dari kejauhan.

Well, sejak berbulan-bulan terakhir saya memang berpuasa belanja, menahan diri untuk tidak gampang lapar mata seperti diri saya yang lalu. Saya tidak mengatakan berhasil 100 persen, tapi bisa lah mengurangi dan mengalihkan sesi belanja baju dan aksesoris ke barang-barang yang memang saya butuhkan dan bermanfaat, atau membeli buku. Malam itu, saya berniat membeli sandal atau sepatu, hanya itu, tak boleh ada yang lebih. Walaupun mata saya liar, nanar memandang ke setiap stan toko baju, jilbab, dan aksesoris di Matos serta aneka pajangan new arrival di Matahari, tekad saya sudah bulat, hanya beli sepatu dan yes bisa!.

Kegembiraan menemukan sepatu yang cocok dan kebanggaan bisa menahan diri untuk tidak gila belanja langsung lenyap, hilang seketika saat keluar Matos dan mendapati tangga sudah kosong. Si anak tak ada lagi di sana, meski sudah saya cari di emperan dan di dekat parkir. Duh gusti, saya tak tau apakah dagangannya laku ataukah ia harus pulang dengan sisa yang menumpuk itu. Sepanjang perjalanan pulang, saya terus mengutuki diri kenapa tidak langsung membeli tahunya, menaruh di motor, dan tetap berbelanja. Atau, tetap membawa tahu-tahu itu, memasukkannya dalam kresek ke tas, cuek meski tas terlihat menggelembung dan berat. Atau, dan atau yang lain.

Menyesal dan bersalah. Hiks, hanya karena terlalu banyak pertimbangan untuk berbuat baik.
Tapi bukankah setiap peristiwa  mengajarkan kita pelajaran dan hikmah?
saya belajar dan mencoba untuk tidak menunda dalam melakukan kebaikan, meski terkadang bisikan setan terus terdengar keras di telinga.

*hiks, hiks, hiks…pagi ini diisi oleh linangan air mata saat membaca artikel-artikel lain di resensi.net

6 responses to “Jangan Pernah Menunda (lagi)

  1. Menangislah sepuas-hatimu, mbak, kalau itu dapat melegakan hatimu…menghapus rasa bersalahmu, pada bocah itu….
    huk…huk…huk…

    Btw…aku setuju kalau mau berbuat baik jangan ditunda-tunda en ditimbang-timbang. Ntar malah nggak terlaksana atau terlaksana tapi nggak iklas (ada imbal-balik yang diharapkan).

    yupz….yupz…. 😉

  2. Emmm….*termenung*

    Di bekasi bahkan sangat banyak mba anak2 yang seperti itu, bahkan saya pernah menemukan anak balita usia mungkin kisaran umur 2 tahun sudah berkeliaran diteriknya matahari sambil bawa amplop kosong dan krencengan untuk ngamen di angkot (angkutan kota)……dan hanya ditemani anak yang juga masih berumur 5 atau 6 tahun saja,…BAYANGKAN coba…!! kemana ibunya..??? zaman apa ini, wong orang dah banyak yang ‘GENDENG’ semua…

    Dan jika de dihadapkan kepada kedua mata mereka yang masih jernih, de tidak suka memberikan uang tapi lebih baik memberikan mereka roti, coklat, permen, dan bahkan aku pernah membelikan mereka ice cream mba ^-^…(kecuali memang keadaannya de cuma bisa kasih uang) Karena buat saya pastilah mereka tidak pernah memakan makanan tersebut walaupun mereka telah menghasilkan uang dari kerja keras mereka sendiri….

    Jadi motto de adalah : berikanlah mereka (pengemis & pengamen anak2) kebahagiaan bukan uang…. Geeettooo mba dewiqu ^_^ nanti besok2 jangan tunda2 lagi ya dear… apa lagi klo ketemu dede langsung aja traktir jangan mikir2 lagi 🙂
    wkwkwkwk..wkwkkw…wkwkkwkw….. 😀 😀 😀

    With Love,

    Dee ^.^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s