…..untitled…..


Pukul 05.00 WIB Flexiku berbunyi membangunkan dari tidur nyenyakku. Ehmm, dari nomer yang tak tersimpan di memory meski sepertinya alam bawah sadarku kenal dengan nomer itu 😀 . Saat kuangkat ternyata ya! aku mengenal si penelpon yang mengkonfirmasi tentang jam pemberian materi Motivasi di sebuah sekolah, hari itu.
“Jam segini dan belum salat subuh ya?,” tanyanya kemudian.
“Hehehehe, belum,” jawabku.
“Ya udah, nggak usah panjang-panjang, salat dulu!,” ucapnya sembari menutup telpon.

Usai membasuh muka, wudhu,  salat, membuka jendela kamar dan menghirup segarnya udara pagi, aku seperti disadarkan. Jika si penelpon yang tidak boleh disebutkan namanya di blog, yang merekomendasikan aku untuk menjadi pembicara di sekolah, berarti ada miss!. Hari ini aku akan memberi materi untuk anak SMP, dan bukan SD seperti yang aku bayangkan selama ini. Whew!!! masih dengan terkaget-kaget, aku melihat jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 06.00.  Secepat kilat aku bangun, ambil koran bekas, mencari foto headline, menggunting dan memotongnya kecil-kecil menjadi delapan bagian lalu memasukkannya ke dalam amplop. Total ada delapan foto yang aku gunting.

Untuk apa??
Guntingan foto itu akan menjadi puzzle yang bisa dimainkan oleh anak-anak SMP nanti (jika dibutuhkan). Hu..hu..hu secara aku sudah menyiapkan game untuk anak SD 😀 yang tentu saja ndak cucok dimainkan anak usia SMP. Tak hanya mengganti game, dalam waktu mendesak, aku juga mengubah materi yang akan kusampaikan, meski intinya tetap sama, motivasi!.

Sesampai di sekolah, tak sengaja aku membaca surat edaran internal yang menyatakan bahwa dari try out yang digelar sebelumnya, hanya satu siswa yang nilainya memenuhi standar kelulusan, yang berarti 99 persen siswa lainnya terancam tak lulus!!. Whew!!  harus ada treatment, trik khusus untuk memacu semangat belajar mereka agar tidak putus asa lebih dulu.

Memasuki sesi materi, aku lebih trenyuh lagi. Ketika meminta satu per satu dari mereka untuk memperkenalkan diri, menyebut nama, mereka tak mau! malu-malu sambil bersembunyi di belakang tubuh temannya. Tak ada yang dengan gagah berani unjuk diri, selalu harus berdua atau bersama-sama. Di saat seperti itu, aku memutuskan untuk bersikap layaknya teman mereka, membaur, agar dapat masuk, menyelami pikiran masing-masing, memahami semua ketakutan, kekhawatiran, dan harapan.

“Hi, aku mo tanya nich, siapa di antara kalian yang seriiiing bangetz pengin ngejawab pertanyaan guru di kelas, tapi takut mengangkat tangan?”. Yang dijawab oleh acungan tangan hampir semua anak.

“Setelah itu ada teman kalian yang menjawab, dan ternyata jawabannya sama dengan yang kalian pikirkan. Iya apa enggak?”. Dan secara serantak mereka menjawab “Yaa…..”

“Kalo sudah githu, nyesel nggak kenapa tadi ndak jawab?,” lanjutku. “Nyesel banget”, “Wah, iya tuh mbak”, “Bener banget Bu!” “Iya, kesel banget”, adalah celetukan-celetukan mereka bersama.

“Lalu kenapa nggak angkat tangan?”. Jawabannya bisa ditebak, takut salah dan malu.

“Padahal ada teman kalian yang berani mengangkat tangan dan ternyata benar?”, yang kemudian dijawab dengan senyuman, he..he..he.
Selalu ada pilihan dalam hidup, kita memilih untuk berani menghadapi risiko yang menghadang di depan atau, takut melangkah dan hanya stag di satu tempat. Di luar rencana, akhirnya aku sedikit berbagi tips pada mereka untuk bisa percaya diri berbicara di depan forum. Sayang, setelah pembagian kelompok, meminta mereka untuk membuat nama kelompok, yel-yel penyemangat, dan ketika suasana sudah mulai menghangat, ada warning waktu habis. Jadi meskipun ada  celetukan-celetukan anak meminta untuk melanjutkan sesi itu, aku terpaksa menutup acara karena sudah diwarning untuk kedua kali.

Nah, sesudah sesi inilah aku kembali kaget ketika seorang guru mengumumkan agar anak-anak yang piket memasak untuk segera bergegas ke dapur dan menyiapkan makan siang bersama, nah loh??!. Aku tau sekolah itu bukan termasuk sekolah kaya dengan fasilitas mewah, sangat sederhana. Tapi rasanya tak adil meminta sebagian siswa untuk memasak dan meninggalkan sesi materi.

Anda, mungkin sering menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) singkat, workshop atau apapun lah namanya. Tentu Anda harus mempunyai target minimal dan tujuan dari kegiatan tersebut. Siapa peserta kegiatan, kenapa dilaksanakan, tujuannya, dan apa target kegiatan tersebut?

Dari semua pertanyaan itu Anda dapat merancang materi yang akan diberikan, memilih pemateri dan teknik penyampaiannya. Sebagai pelaksana acara, Anda berhak meminta kepada pemateri atau instruktur untuk memberikan materi sesuai dengan yang Anda inginkan, agar mampu mencapai target minimal yang ditentukan. Kegiatan pembelajaran, diklat, atau apapun namanya tentu bukan acara gugur kewajiban semata. Ada tanggung jawab di balik semua kegiatan yang kita gelar.


4 responses to “…..untitled…..

  1. assalamualaikum
    salam hangat selalu dan salam kenal
    banyak banget tulisannya………………………..tapi oke deh,,
    pengen sih punya tulisan yang banyak dan berisi..
    moga makiin sukses yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s