kepercayaan yang hilang


Pemerintah, dinas kesehatan, pejabat, ulama, seharusnya malu saat melihat berita tentang aksi masyarakat yang mulai tak logis, mengambil air comberan dan tanah di sekitar kediaman Ponari yang diyakini (juga) mampu menyembuhkan!. omaigad!! nggak bisa ngebayangin ada yang ‘tega’ meminum air comberan!.

Meski semua media cetak, elektronik, dan pengumuman di rumah Ponari menyebutkan bahwa praktik pengobatan tersebut ditutup, ribuan masyarakat itu tak mau tahu. Mereka tetap datang, berdesak-desakan, menunggu sesuatu yang tak pasti. Miris, tapi itulah potret masyarakat kita. Masyarakat yang sudah lelah, putus asa, dan hilang kepercayaan. Tak ada lagi tokoh, pejabat, dan janji pemerintah yang bisa dipercaya.

Berapa banyak calon kepala daerah, calon legislatif yang berjanji menyediakan pengobatan murah [gratis] saat kampanye? dan berapa yang terealisasi? well, nggak usah ngomong terealiasi deh, bahwa mereka beritikad baik dengan berusaha untuk melaksanakan program dan janji muluk yang sebelumnya diobral, ada berapa?

Ya, pemerintah memang belum dapat menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan memadai bagi masyarakat [baca: dengan harga terjangkau atau gratis]. Ada dokter, tapi mahal biaya konsultasinya apalagi obat yang diresepkan. Ada puskesmas, namun tak ada dokter yang stand by setiap hari. Sementara rasa sakit dan penyakit datang seenaknya, tak bisa ditunda apalagi dilobi untuk absen. Ponari dengan ‘amal’ lima ribu rupiah menjadi alternatif yang menggiurkan, sehingga tak heran puluhan ribu orang rela pergi ke Jombang, antre di tengah panas dan hujan, berdesak-desakan, untuk kemudian menengadahkan gelas, toples, ember, atau wadah apapun berisi air untuk DICELUPIN batu yang digenggam Ponari.

Mereka, puluhan ribu orang itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan hingga luar provinsi. Nah, jika demikian, pergi ke rumah Ponari tentunya membutuhkan dana yang tak sedikit, ada biaya transportasi dan dana untuk makan. Pertanyaannya, kenapa dana itu tidak digunakan saja untuk berobat di dekat rumah dan membeli obat?
Jawabannya, mungkin akumulasi dana transport dan makan masih tetap tak cukup untuk membayar jasa konsultasi dokter beserta obatnya. Atau, sebenarnya cukup namun masyarakat yang sudah terlalu sering dibohongi mencari figur lain, tokoh yang diharapkan mampu menyelesaikan segala penyakit, fisik dan psikis yang mereka rasakan, Ponari.

5 responses to “kepercayaan yang hilang

  1. tidak ada yang salah…kecuali kesalahan apabila kita membiarkan diri kita…atau orang-orang terdekat untuk mengikuti mereka…

    apakah mereka itu…para pejabat yang berbohong

    atau

    masyarakat yang putus asa sehingga alternatifnya malah jadi tidak masuk akal

    dan tidak ada yang benar…kecuali kita harus mengakui bahwa tiap tindakan adalah pilihan gadis…dan setiap pilihan memiliki tanggungjawabnya masing-masing..

  2. HHmmm …
    Ya … aku melihat berita nya akhir-akhir ini …
    Ampuh atau tidak aku tidak tau …

    Yang jelas …
    Semua itu datangnya dari Allah …
    Jangan sampai Anak itu di eksploitasi sedemikian rupa …

    Salam saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s