Krisis Finansial dan Pak Ali Ndut


Krisis ekonomi global [akhirnya]  berimbas juga pada dunia bisnis di Malang. Perusahaan -sekala kecil dan besar-  mulai mengencangkan ikat pinggang, efisiensi, dan tak sedikit yang melakukan rasionalisasi. Jumlah karyawan yang dirumahkan memang tak sebesar pekerja yang di-PHK di Jawa Barat maupun luar Jawa, tempat sebagian besar perusahaan joint venture dan perusahaan orientasi ekspor berada. Tapi tetap saja, kehilangan pekerjaan menjadi masalah tersendiri bagi karyawan bersangkutan dan keluarganya.  Dan jika dirunut lebih lanjut, juga berpengaruh dan menjadi problem bagi masyarakat lain yang masuk dalam lingkaran dan mata rantai ekonomi.

Kehilangan pekerjaan berarti tak ada pemasukan. Tak memiliki uang,  merekapun  mengurangi [atau bahkan menyetop] belanja sehingga menurunkan omzet para pedagang. Penurunan income pedagang, produsen, dan sejenisnya membuat mereka berpikir ulang untuk menambah stok,  mengurangi atau menghentikan kiriman barang dari suplier, menerapkan efisiensi di berbagai sektor, menghentikan produksi. Begitu seterusnya.

Penurunan BI Rate hingga 50 basis poin menjadi 7,75 persen tak jua direspon bank. Mereka masih ‘malu-malu kucing’, enggan, dan berat hati untuk menurunkan suku bunga. Walaupun kemudian ada bank BUMN yang memangkas suku bunga kredit [meski masih sedikit] rasanya juga kurang greget dan belum menjadi angin segar yang mampu me-refresh sektor riil.

Seorang manager perusahaan BUMN yang biasanya sangat royal dalam mengucurkan dana untuk program brand image produknya, beberapa hari terakhir menjadi lebih pendiam, mulai mengeluhkan kondisi ekonomi. Lain lagi dengan seorang pimpinan anak perusahaan milik salah satu orang terkaya negeri ini. Sejak beberapa hari terakhir ia merasa perlu melakukan safari ke beberapa perusahaan rekanan, mengunjungi media dan mencoba berkawan lebih akrab, [berharap] untuk memuluskan iklan [dengan budget rendah] dan pemberitaan positif tentang produk dan layanan yang ditawarkan.

Ya, aneka strategi dilakukan untuk lepas dari jeratan krisis. Paling tidak, bisa meminimalisir efek dan dampak yang dirasakan. Kalopun sakit, hanya terasa bagaikan gigitan semut, celekit, tapi tak berbekas. Pak Ali termasuk salah satu orang yang juga memiliki strategi khusus dalam menghadapi krisis ekonomi global ini. Menurutnya, hanya satu syarat yang dibutuhkan untuk bisa keluar dari segala permasalahan yang dirasakan saat ini [ia tak menyebut krisis ekonomi], yaitu sabar.

“Mereka yang bisa selamat adalah yang sabar, yang mampu mengendalikan emosi, berpikir jernih. Majikan sabar kepada bawahannya, anak buah sabar terhadap perilaku majikan dan orang sekelilingnya. Ya, kuncinya hanya sabar,” katanya.

Ia mengaku sedang belajar untuk bersikap sabar, tentu saja tetap dengan segala usahanya. “Ya seperti sekarang ini, saya sudah berangkat bekerja sejak pukul 3 pagi. Berharap mendapat tambahan, tapi ternyata sampai sekarang belum juga ada rejeki,” ungkapnya. Saya langsung melihat penunjuk waktu di hape, pukul 09.17. Whew!! Berjam-jam, dan dia masih belum juga mendapatkan sepeser uang.

“Dulu, dari hasil pekerjaan ini saya bisa menghidupi tiga orang sekaligus. Sekarang untuk makan dan kebutuhan saya saja masih kurang, tapi apa saya harus marah dan berkeluh kesah? Saya sudah berusaha dan hasil akhirnya seperti ini. Jadi sekarang ya tinggal sabar saja. Rejeki sudah diatur sama Yang Kuasa,” ucapnya lagi panjang lebar.

Mendengar perkataannya yang panjang, saya kemudian mencoba menanyakan tempat tinggalnya. “Wah, pindah-pindah, dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain mbak,” tambahnya tersipu.

Pak Ali, adalah potret dari sekian banyak masyarakat yang mencoba bertahan di tengah kesulitan yang entah sampai kapan akan berakhir. Bukti hidup dari kondisi riil perekonomian kita, penjelasan asli dari angka-angka dan grafik laporan peningkatan serta keberhasilan yang dibuat manis oleh para elit. Pak Ali adalah tukang becak di stasiun Gadang, ia biasa mangkal di samping toko paling pojok di dekat pemberangkatan bus. “Semua orang di sini mengenal saya. Bilang aja nyari Pak Ali ndut,” katanya terkekeh.


5 responses to “Krisis Finansial dan Pak Ali Ndut

  1. Abang becak ya? Gimana ya? Saya termasuk anti becak sih. Karena bagi saya selama kaki masih bisa berjalan, kenapa harus berlehaleha di atas keringat orang lain. Dan becak serasa membuat perbedaan kelas terlihat. Sayangnya, masyarakat kita melestarikannya, membuatnya ada dan menjadikan diri mereka terlihat malas. Sedikitsedikit naik becak, padahal ga sampe sekilo jaraknya. Mirip priyayi aja!

    Dulu, pernah dengar pidato bung Karno yang menyebut saudarasaudaranya kaum Marhaen dan tukang becak. Sayang sekali, pidato yang sangat simpatik itu, bukannya membuat kita meninggalkan ‘kebecakan’ kita, malah menjadikannya abadi. Beliau memang bisa membuat dirinya menyatu dengan rakyat jelata, bukan untuk meningkatkan posisi dan taraf hidup mereka, tapi untuk membuat mereka nyaman di posisi kelas bawah tersebut. Seakanakan ia hendak bilang, ‘ya sudah, hidup jangan mulukmuluk, sudah takdirmu menjadi tukang becak, nikmatilah. Toh saya ada bersama kamu, tidak usah khawatir.’

    Hal serupa juga dilakukan oleh para majikan yang memelihara sistem ‘kepembantuan’ di rumahtangga mereka menjadikan pekerjaan pembantu itu nyaman sehingga kita kini dikenal sebagai eksportir pembantu nomer satu sedunia. Halah, ternyata sejak dulu kita memang dididik untuk berdamai bukannya berusaha dan bersaing. Hasilnya, relasi jauh lebih efisien dan efektif dalam mempengaruhi nasib seseorang daripada karya otentik dan hasil kerja keras. Prinsipnya, kalau ada yang mudah, kenapa harus yang susah!

    Rupanya juga, sistem ini yang terjadi dalam roda ekspor bangsa kita. Sudah tahu barang olahan memiliki nilai lebih dari barang mentah, kenapa juga mengekspor segala yang mentah? Sudah tahu, ketergantungan itu buruk, masih saja tergantung kepada pangsa pasar Amerika. Sudah tahu perubahan perlu, kenapa ga mau berubahubah!? Akhirnya, kita langganan krisis. Amerika bangkrut kita menjerit. Kontraksi ekonomi di Prancis 1,6 kita 3,4.

    Suatu saat, kalau Amerika masuk neraka tingkat 1, kita pasti masuk neraka tingkat 7. Ya iyalah, dimanamana kalau ada apaapa, yang kena ya pembantunya dulu baru majikan. 😀

  2. kata Aa gym kalo semua orang kaya raya, dunia malah ga karuan..ga ada yg mau jaga perlintasan KA, ga ada yg mau jadi supir pribadi, ga ada baby sitter, ga ada PRT, ga ada yg mau jadi kuli bangunan. Krn semua dah kaya, can u imagine..?

    waduh mbak, bkn pengin semua org jd kaya seh. ntar malah ga bakal ada yg bersyukur. kita mampu mensyukuri nikmat kaya kan setelah merasakan bagaimana nikmatnya miskin, tak punya duit.
    tpi kaada-l-fakru an yakuuna kufran kemiskinan bisa mendekatkan/menjadikan org menjadi kufur.

    miskin tapi diberi akses fasilitas kesehatan, pendidikan, dll dengan mudah, tentu bisa membuat kehidupannya lebih baik. lha ini, udh miskin, ga punya apa2, tak bisa apa2, malah di-apa2in oleh mereka yg berkuasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s