Kartini dan Tren Buku Wajah


Seorang ibu, menjelang 50 tahun, berwajah cantik, berkulit mulus dan putih, membuat karyawan di sebuah klinik kecantikan langganan saya kebingungan dengan pertanyaannya yang aneh, “Apa klinik tersebut punya koleksi ‘buku wajah’ yang saat ini banyak diperbincangkan orang”.

“Siapa penulisnya? Gusnaldi ya Bu?,” tanya karyawan perempuan berusia sekitar 22 tahun tersebut. Gusnaldi adalah make up artist ternama yang beberapa kali meluncurkan buku panduan kecantikan, Dewi Sandra adalah salah satu yang menjadi cover bukunya.

Mendapat jawaban tersebut, si ibu diam sejenak lalu mengatakan tidak tahu siapa yang menulis. Ia kemudian bercerita, keberadaan buku wajah pertama kali didengar dari obrolan anak perempuannya bersama teman-temannya di rumah. “Saya bangga, anak saya masuk buku, diabadikan. Tapi kemudian saya jadi bingung, kok si sulung, anak lelaki saya dan suami juga ikut-ikutan masuk buku ini. Lha, buat apa?,” katanya dengan intonasi cepat.

Si karyawan bertambah bingung, tak tahu harus menjawab apa. Dengan pandangan mata, ia menanyakan jawaban kepada rekan kerjanya yang bertugas merawat saya, dan dijawab gelengan kepala. Saya yang sebelumnya diam, menikmati pijatan di punggung (salah satu tahapan dalam hair spa) mencoba ikut masuk dalam percakapan. “Bu, apa yang njenengan maksud ‘buku wajah’ itu facebook?,” kata saya pelan, yang langsung diiyakan si ibu dengan bersemangat.

Terus terang, saya ingin tertawa keras, ngakak, mengetahui ketidaktahuan si ibu tentang ‘buku wajah’. Untuk menghormatinya, saya tersenyum dan kemudian menjelaskan buku wajah atau ‘kitaabul wajhi’, terjemahan joke dalam Bahasa Arab yang biasa dilontarkan oleh teman-teman saya yang mahir bahasa Timur Tengah.

Dulu Kartini tak mengenal ‘buku wajah’, wong internet saja belum ada. Di masa belum hadirnya dunia maya yang mempermudah siapapun berselancar bebas untuk mengakses informasi di alam tanpa batas, Kartini gigih memperjuangkan hak dan keinginannya agar perempuan mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama dengan kaum pria. Keterbatasan tak membuat Kartini putus asa untuk menimba ilmu, memperkaya wawasan.

Di masa sekarang, Kartini yang diberi label tokoh emansipasi wanita, seringkali dijadikan rujukan oleh aktivis perempuan. Emansipasi yang digagas putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat itu menjadi landasan wajib mereka yang menuntut persamaan hak. Hak untuk meniti karir yang sama dengan pekerja pria, hak untuk dihormati, hingga hak mendapatkan kuota kursi wakil rakyat. Meski ada sebagian yang lupa, kata hak biasanya selalu diikuti oleh kewajiban. Hak tak bisa diminta, apalagi dipaksa untuk diberikan. Meminta hak berarti mengemis pengakuan, memaksa untuk diberi hak adalah kata lain dari arogansi yang tak tahu diri.

Agar bisa meraih posisi puncak dalam karir, perempuan harus membekali diri dengan skill dan etos kerja yang bisa dipertanggung jawabkan, supaya dipilih sebagai wakil rakyat, sudah selayaknya kaum hawa paham dunia politik dan memperkaya diri dengan pengalaman organisasi, kemampuan orasi, dan empati. Seorang ibu, akan mendapatkan hak dihormati oleh anak-anaknya, saat ia mampu memainkan peran yang up date dengan perkembangan zaman.

Dalam pidato pencanangan program nasional deteksi dini kanker di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, kemarin, Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono menyebut Menkes Siti Fadilah Supari sebagai Kartini masa kini. Menurut saya, siapapun bisa menjadi Kartini, Anda sekalipun. Bahkan jika Anda konsen dengan ‘profesi’ tunggal sebagai ibu rumah tangga. Anda, Kartini bagi keluarga dan buah hati.

Tentu saja semuanya tak bisa diperoleh dengan instan, ada kewajiban menanti. Anda seorang ibu, tahukah jika HP putra-putri Anda bisa digunakan untuk mengakses internet? Bahkan saat pulsa menipis. Pahamkah Anda tentang tren munculnya situs pertemanan di internet? (Facebook salah satunya) atau tidak sama sekali seperti ibu yang saya temui di salon.

Satu hal yang saya pahami dari perjuangan Kartini adalah kesempatan mendapatkan pendidikan, dan saat ini akses tersebut sudah terbuka lebar. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dan memacu diri untuk tetap berkarya, tidak stagnan, dan menikmati zona nyaman.

Al ummu madrasatun madaarisul uula, Ibu adalah sekolah yang utama, Ibu merupakan representasi Kartini. Imbangi perubahan dan kehadiran tren dengan mau membuka diri, open mind. Bukan untuk ikut terjebak di dalamnya, tapi supaya tahu dan paham sehingga mampu mengikuti perubahan zaman. Kartini masa kini bukan mereka yang sok dan bergaya modern salah kaprah, tapi yang tetap memililiki jati diri, self esteem, mampu menempatkan diri di tengah perubahan. Selamat Hari Kartini, selamat berkarya, jangan pernah putus asa!. (*)

6 responses to “Kartini dan Tren Buku Wajah

  1. jadi inget ibu gw nih….salam kenyal duyu ya buuuu…

    jgn sungkan mampir ya…and kasih gwkritikan yg menyengat deh…biar gw tambah pinter…thx so much…:-)

  2. Empunya blog ini kayaknya juga bakal jadi penerus semangat Kartini.
    Btw, fenomena buku wajah memang luar biasa. Ibu-ibu juga kudu tahu. Sebagian ibu malah memanfaatkannya untuk memantau aktivitas anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s