Menutup Buku Lama


sad ending. aku paling tak suka dengan cerita yang berakhir sedih, karena dipastikan akan menguras persediaan air mataku. terus menetes, jatuh, deras, habis. Kisah sedihnya tak hanya mempengaruhiku sesaat setelah membaca, tapi berhari-hari sesudahnya. Bisa dipastikan aku langsung menangis ketika teringat akhir yang kurang bahagia itu, euh!.

Biasanya aku tak mau membaca buku yang menyuguhkan kesedihan dan air mata sebagai jualan utamanya, namun kali ini berbeda, aku mengikuti seluruh alurnya, sejak mula, sedetil-detilnya. Aku tenggelam dalam cerita cinta sajiannya yang bak melodrama India, eits! bukan ding, karena sesedih apapun cerita dari India pasti berakhir bahagia, tentu saja setelah para pemainnya menari sambil menyanyi bersama di taman, di jalan, atau bahkan di atas gedung.

Buku yang aku baca kali ini sungguh amat sangat berbeda. Tak ada alur sistematis dalam ceritanya, sama sekali tak terstruktur, berantakan, tapi karena itulah kisahnya menjadi indah. Tak hanya indah, juga menyuguhkan ketegangan ala roller coaster, sesekali mengajakku tertawa dan teriak gembira, meski didominasi jerit ketegangan penuh rasa takut dan khawatir.  Aku sempat memutuskan untuk menutup buku itu, cerita sedihnya membuatku menangis berdarah-darah, bersedih melebihi kesedihan sang tokoh utama. Aku menyudahi membaca meski belum sampai di halaman terakhir. dan aku bisa.

Hingga beberapa bulan terakhir buku itu terasa memanggilku, memintaku untuk kembali membuka, membaca, mencari dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah disiapkannya untukku. Aku tak kuasa, dan meneruskan penjelajahanku di halaman demi halaman yang tersisa. Penasaran. Ya, aku terbiasa menyelesaikan bacaan dan aktivitasku hingga akhir, selesai, finish. Lumayan, ada beberapa cerita menyenangkan yang membuatku ikut tersenyum bahagia, tertawa jenaka, hingga meringis kecut akibat kisah dramatis yang dibungkus apik di setiap scenenya.

dan Alhamdulillah, setelah tertunda sekian lama, malam ini aku menyelesaikannya hingga halaman terakhir.  Aku bisa menutup buku itu dan menyimpannya. Cukup aneh, kali ini aku tidak menangis, bahkan tak muncul rasa sedih. Mungkin karena air mata dan kesedihanku sudah habis saat membaca buku itu hingga bab pertengahan beberapa waktu lalu. Aku tak sedih apalagi menangis sebab sudah bisa memprediksi ending bagaimana yang akan aku temui di akhir bab.

Aku juga tak menyesal meluangkan waktu hanya untuk membaca buku ber-sad ending ini karena ya, ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil, untuk diriku lebih baik nanti. amin.

Aku tak menangis, karena seorang teman sudah menjanjikan memberiku buku baru. Buku yang ia sendiri belum tahu kisah akhirnya.

“Kayaknya hepi ending,” katanya

“Tapi gimana klo sad ending,” tanyaku

“Jang berprasangka buruk dulu. Sampulnya aja bagus, sinopsisnya keren, masak berakhir sedih,” ucapnya lagi.

“Yaa….yang namanya akhir itu kan ndak liat sampul dan permulaan. sampul bagus, bisa akhirannya mendayu-dayu mellow melebih aliran dangdut,” bantahku tak mau kalah.

“Ah, dari pada debat nggak jelas, kita baca bareng aja dech. Kalo ada yang sedih kan bisa saling menghibur, menguatkan,” katanya tegas.

“Hayuuuk….sapa takut,” kataku bersemangat sambil berdoa dalam hati, semoga akhir dari kisah kali ini benar-benar berbeda dari  sebelumnya, amiin 😉 ^o^


@Locari, menjelang tidur…
15, Juni, 2009, 22.15 WIB


2 responses to “Menutup Buku Lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s