Ikhlas Memberi Ikhlas Menerima


Ikhlas memberi, ikhlas menerima…
Ikhlas berbagi, ikhlas mendapatkan anugerah apapun dariNya…

itu kalimat yang saya tulis dalam status di fesbuk hari ini (6/7/9). saya tulis langsung sesaat sesudah bangun tidur, agar tidak lupa dan hilang begitu saja. ini karena, kalimat tersebut muncul begitu saja dalam pikiran, menyela mimpi dan nyenyaknya tidur.

ah, muncul begitu saja?
I dont think so.
Saya yakin kalimat itu keluar sebagai jawaban dr pertanyaan, keresahan, dan keluhan yang berusaha ditekan, tak diungkapkan, namun tetap tertangkap subconscious mind (SM). Di sisi lain, saya melalui conscious mind (CM) mencoba tetap memegang kendali dengan memberikan input positif, memotivasi, memunculkan hal-hal baik, agar SM menangkap sinyal yang baik juga. hingga keduanya, SM dan CM bisa bekerjasama dan menghasilkan sikap positif, percaya diri, dan yes penuh terima kasih kepada Dia Yang selalu memberi.

FYI, ada dua jenis mind, conscious dan subsconcious mind, ato paling gampangnya pikiran sadar dan bawah sadar kita. Selama masih bernapas, diberi kesempatan menghirup udara, dan menikmati apapun yang dihalalkan di dunia, mind menjadi our best friend sekaligus worst enemy.

Selama kita masih bisa mengontrolnya, mind akan berperan sebagai best friend, sebaliknya bila tak mampu mengendalikan, it will run on autopilot, bekerja tanpa tujuan, mengamuk sesuka hatinya, gelap mata, dan jangan bayangkan apa yang bisa dihasilkannya.

Ada banyak hal, kata dan peristiwa yang menstimulasi, merangsang senses hingga menciptakan bermacam bentuk pikiran di conscious mind, yang kemudian dikirim ke subsconcious mind dan menjadi beliefs, keyakinan, kepercayaan. Keyakinan inilah yang berpengaruh besar pada perilaku kita, menjadi sikap positif ataukah negatif.

Contoh : seorang bos selalu mengatakan “Kamu kerja nggak becus, salah terus!” pada karyawannya. Karena terlalu sering mendengar kalimat itu almost everyday, akhirnya menstimulasi conscious mind si karyawan hingga dia berpikir “Aku nggak becus bekerja dan salah terus”. Pikiran itu kemudian ditransfer ke subconscious mind dan menjadi keyakinan. Hasilnya? tanpa tau kenapa dia selalu membuat kesalahan saat bekerja.

Atau seorang ibu mengatakan pada anaknya yang masih berumur lima tahun, sebut saja namanya Manohara. “Jangan jadi anak pemalu dan kikuk gitu! Masak kalo jalan selalu nunduk!”. Niat si ibu mungkin baik, tapi cara dan kalimat yang diucapkannya yang salah. Sampai dia dewasa, ia menjadi sosok Manohara yang pemalu, seringkali bersikap kikuk, dan jarang menegakkan badan saat berjalan.

Kenapa bisa begitu? karena subconscious mind menerima apapun yang dikirim conscious mind tanpa filter dan analisis. Mendengar perkataan ibunya, sebenarnya Manohara berpikir “Aku nggak boleh jadi anak pemalu dan kikuk, kalo jalan nggak boleh nunduk”. Kalimat itu dikirim conscious mind Manohara ke subconscious mind, hasilnya “Aku anak pemalu dan kikuk, kalo jalan nunduk”. Kata “nggak boleh” hilang karena ia kata yang abstrak, tak bisa diterjemahkan dalam sebuah gambar oleh subsconsious mind.

Atau, maksud dari ucapan si bos “Kamu kerja nggak becus, salah terus” mungkin adalah “Bekerjalah dengan baik, teliti”, tapi karena subconscious mind tak bisa menganalisis, maka kalimat negatiflah yang diterima karyawannya. The moral of the story adalah, kita harus berhati-hati saat berbicara kepada orang lain DAN kepada diri kita sendiri. Jika bisa berkata positif kenapa harus memilih yang negatif?

Subconscious mind tak bisa membedakan pikiran yang diciptakan oleh peristiwa nyata atau imaginer. Jika saya sering membayangkan sebagai sosok yang percaya diri, bisa berbicara asik di depan publik, my subconscious will accept that as true, dan bila saya terus mengulang pikiran dan bayangan tersebut, maka sikap atau perilaku saya akan berubah menjadi sosok percaya diri yang saya bayangkan. Karena itu, kita harus menghindari pikiran dan bayangan negatif. Dan itulah yang saya coba lakukan malam ini hingga pagi menjelang, membuang pikiran negatif dengan mencoba memasukkan input positif.

Ikhlas memberi, ikhlas menerima…
Ikhlas berbagi, ikhlas mendapatkan anugerah apapun dariNya…
the point of the sentence adalah ikhlas.

Ikhlas, tentu saja berbeda dengan pasrah. saya ingin menjadi orang yang bisa ikhlas, dan karena bagaimana menjadi ikhlas tak diajarkan di sekolah dan dibuatkan satuan kredit semester (SKS) di bangku kuliah, saya mencoba dengan mengoptimalkan kinerja tim dari conscious dan subconscious mind.
Hasilnya? harus bisa. bukankah Dia sendiri berkata tidak akan mengubah kaumnya sampai mereka ingin berubah sendiri?. Saya, dan Anda termasuk dalam kata ‘kaum’ tersebut. maukah kita?

.:: dewi ::.

4 responses to “Ikhlas Memberi Ikhlas Menerima

  1. Ikhlas memberi, ikhlas menerima…
    setara dengan kata bijak : jika ingin bahagia bikinlah orang lain berbahagia terlebih dahulu….
    Karena 20 tahun ke depan dia akan mengingat 2 hal, tentang kebahagiaan itu sendiri dan tentangn anda yang telah membuatnya bahagia 🙂

    yuuppp….
    bennner banget ya!
    makasih udah membahagiakan saya ya…
    krna berkomentar di sini 🙂

  2. Sangat tersentuh dengan pena Ibu. Sederhana tapi memiliki daya sentuh yang dalam. Terima kasih. Saya akan kembali lagi.

    makasih,
    alhamdulillah kalo begitu…
    dan sekali lagi terima kasih untuk niatnya yg akan kembali
    selalu disambut hangat di rumah kecil ini ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s