Dia Hartaku, Cintaku karena Cinta kepadaNya


“Saya ikhlas jika suami menikah lagi. Saya lumpuh, badan sudah tidak berbentuk, gigi rompal dua, dan saya menghabiskan uangnya ratusan juta untuk berobat. Dia bergeming, bahkan semakin menegaskan hanya saya satu-satunya wanita yang dia nikahi, karena saya hartanya, tak ternilai, dan akan dijaga sampai mati”

Kalimat itu diucapkan seorang wanita berjilbab, berkulit coklat, kepada saya dan Kiki saat menunggu pesanan sup asparagus ayam dan fuyunghai di salah satu tempat makan di Jalan Dieng. Ia bersama anak perempuannya, berkulit putih, berhidung mancung dan memiliki alis tebas khas keturunan Arab. Sekilas memandang keduanya, tak ada kemiripan wajah sedikitpun yang menunjukkan mereka ibu dan anak.

“Suami saya Arab mbak. Usai melahirkan secara caesar, ada infeksi dan mungkin kesalahan medis. Saya lumpuh total dua tahun dan sempat kehilangan memory,  tujuh tahun sesudah itu menjadi masa-masa pemulihan yang berat. Suami saya pontang-panting mencari uang untuk biaya pengobatan, anak saya diasuh neneknya dan baru kembali ke saya ketika kelas 4 SD,” lanjut si ibu sekaligus menjawab pertanyaan kami yang tak terucap tentang ketidak miripannya dengan sang anak.

Bukan tanpa alasan ia meminta suami menikah lagi. Selain dia merasa sudah tidak seperti dulu lagi, ia berharap putri tunggalnya mendapatkan saudara. “Saya berasal dari keluarga besar, begitu juga suami. Ada keluarga yang saling tolong menolong. Lha kalo anak saya sendirian, saya tak bisa membayangkan bagaimana dia nanti ketika dewasa, kami sudah tak ada dan dia sendirian. Mungkin sekarang dia (putrinya, Red) tak setuju ketika saya meminta papanya menikah lagi, tapi nanti saat dewasa dia akan berterima kasih pada ibunya ini,” jelas si ibu, yang membuat saya dan Kiki tercengang. Whew!, meminta suami menikah lagi. Membayangkannya pun kami tak mampu.

Si anak, yang ikut mendengarkan, hanya tersenyum simpul.  Ibu  tersebut kembali melanjutkan cerita. Masa-masa kala itu (menurutnya awal 90-an) ia hanya bisa menyerahkan nasib dan masa depan keluarganya kepada si pemilik ruh, sang pencipta, yang hanya kepadaNya kita kembali dan meminta. Ia juga mengungkapkan, dalam keterbatasan gerak motorik, ia tak melupakan untuk selalu membuat temu janji denganNya di sepertiga malam dan waktu dhuha, selain janji ‘kencan’ wajib lima kali sehari.

“Jika dinalar, kami sekeluarga tak mampu membiayai pengobatan. Gaji suami sebagai guru SD dan kerja sambilan di pabrik tak mencukupi. Kami masih mengontrak dan tabungan ludes, tak ada materi. Tapi saat itulah Allah menunjukkan kebesaranNya kepada hamba yang pasrah. Ada saja rejeki yang datang, dan alhamdulillah saya sekarang bisa berjalan lagi,” urai si ibu.

Saya dan Kiki menyimak ceritanya dengan takjub sembari bertanya kepada diri kami masing-masing, bisakah kita setegar si ibu jika diberi ujian seberat itu.
Sudahkah kami bersyukur untuk semua anugerah indah yang diberikanNya di tengah sedikit ujian kecil yang bila dibandingkan dengan apa yang dialami orang lain terasa bagaikan butir pasir?.
Masihkah kami kurang meyakini bahwa Dia Maha Mendengar, Melihat, dan akan membimbing para hamba yang kembali kepadaNya?.
Masihkah kami mengeluh, selalu mengeluh, untuk sedikit rasa sakit yang mungkin membawa hikmah dan pelajaran berharga untuk hidup di masa mendatang dan nanti.

Ketika kami masih berdiam dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di kepala, datang seorang pria bertubuh tinggi besar, berkulit gelap, dengan rambut tipis pendek, ke meja kami. “Ini suami saya mbak,” kata si ibu sembari memperkenalkan si pria.

Mengenal si suami, kami mendapat pelajaran tambahan. Cerita yang diuraikannya tak jauh berbeda dengan sang istri. Kami semakin takjub dengan cinta yang besar dari mereka berdua, satu sama lain, dan cinta keduanya kepada sang pencipta.

“Segala sesuatu harus diniati untuk Allah, kita benar-benar harus berserah diri kepadaNya, karena dialah yang Maha menggerakkan. Ketika kun fayakun sudah dititahkan, manusia tak dapat berbuat apa-apa,” katanya.

Ia menambahkan, jika Tuhan pemilik alam semesta tak menjaga kesabaran yang dimiliki, bisa jadi ia meninggalkan sang istri, mencari perempuan lain yang siap antri. “Tabungan sebelum menikah ludes, semua barang terjual, saya harus kerja keras. Saat orang lain naik motor, saya harus jalan kaki ke pabrik. Bertahun-tahun. Istri saya, dia tak bisa melayani, wong dia sendiri seperti bayi yang harus dilayani orang lain. Tapi saya percaya akan kuasaNya,” tambah si pria bersemangat.

Kepada kami, ia kembali menceritakan kisah yang sudah diceritakan si ibu. Tentang permintaan istrinya untuk dia menikah lagi. “Lha untuk apa? dia meminta saya menikah karena sudah tak pede dengan kondisinya. Saya mencintainya, ia lebih berharga dari apapun, rumah, mobil, dan harta dunia lainnya. Saya katakan padanya, saya mencintai dia seluruhnya. Kecantikan hatinya, bukan sekadar cantik fisik. Wong satu saja nggak habis kok mau nambah lagi, hehehe,” tutur si bapak berkelakar.

“So sweeeeett…..,” ucap saya dan Kiki bersamaan.

Percakapan kami belum berakhir. Si ibu, yang kemarin sore mengenakan busana biru dengan cincin bermata biru, mengungkapkan berita bahagia kepada kami. Bahwa Tuhan mempercayai dia dan suami untuk mengasuh anak lagi, insya Allah. “Saya selalu berdoa meminta yang terbaik menurutNya, apapun itu. Mungkin ini jawaban Allah, insya Allah saya hamil. Doakan agar kehamilan ini sehat hingga nanti melahirkan. Sehingga putri saya, memiliki adik, tak sendirian,” pungkasnya.

***

Pelajaran, bisa kita peroleh di manapun, dari siapapun, kapanpun. Sore itu, kami mendapat pelajaran berharga tentang syukur, pasrah, dan cinta. Cinta kepada keluarga, cinta kepada pasangan, dan cinta kepadaNya. semoga pelajaran ini tak berhenti sampai tulisan ini, tapi bisa menyusup masuk ke relung hati, menemani hari-hari hingga saatnya nanti.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin…
Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillaahi rabbi l-alamin… 🙂


6 responses to “Dia Hartaku, Cintaku karena Cinta kepadaNya

  1. cinta manusia, seberapapun tulusnya, berharap balas dari yang dicintainya. semakin sedikit “balas” yang ia harapkan, maka semakin tulus cintanya…

    wajar loh pak, klo manusia berharap balas
    sebab manusia bukan malaikat…
    oia, soal semakin sedikit balas yang diharapkan, belum tentu semakin tulus cintanya…
    bisa jadi semakin ia rendah diri karena berharap pun tak mampu…
    padahal manusia hidup, salah satunya karena ia memiliki harapan

  2. aSs,.
    hiKKKKssss,,aRTikeL di ataSS bkinn maTaku beRKaca_kaCa,..
    sEoraNg sUami yG sgtt setia paDa iStrinya,..dan sEOrang iStrii yG sgtt RELa daN sABarr mengHAdapii cOBaannya,..
    mUGa ini bSA diaMBiL hiKmahh bUAd seMUa oRangg yaa??

    buAD mBa,deWii..
    sALamm keNALL yaa??
    akuhh ngeFans sAMa bLOg mba ,deeehh,.hhhhooo
    bLOGnya tOP n isinya kERenn abiSSSt,…..!!jadi pGENd keNAL n keteMUu Langsung dehh ma mB.dewii,..hhee^.^

    waSS.drii deWii,di wONosOBo,…

    hi dewi….
    salam kenal juga yach….
    mo ketemu langsung? u’r welkam lwoh…
    klo pas main ke Malang, kabar-kabari aja, ntar ketemuan 🙂
    btw, alamat blogNa mana? kok ga diisi?

  3. wah wah wah……
    saya membaca dengan jantung berdebar-debar……….

    meskipun saya seorang laki2,,tapi sampai sekarang saya percaya cinta seutuhnya masih ada di dunia ini…….

    hehe, berdebar2 ya…
    kok pake kata “meskipun saya seorg laki2”?
    gimana klo ga usah pake mas/pak?
    so, qt (mau laki ato perempuan kek) emang kudu percaya, cinta seutuhnya itu memang ada di dunia ini ^^

    btw, makasih dah mampir di sini yach… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s