Cinta & Antimateri


Cinta seperti partikel antimateri, sumber energi terkuat yg bisa menghasilkan energi dengan efisiensi sebesar 100 %. Antimateri tidak menimbulkan polusi dan radiasi, setetesnya dapat menghasilkan listrik untuk daerah Jakarta, sepanjang hari. Cinta menguatkan & menyebarkan kebahagiaan utk siapapun.

Mereka yang lemah, dikuatkan oleh cinta. Mereka yg terpuruk dibangkitkan oleh cinta.
Cinta juga menyembuhkan luka kecil dan besar pada mereka yg sakit. Cinta menjadi keajaiban dan oase di padang pasir.
Cinta, menghidupkan.

Namun di balik kekuatannya yg maha dahsyat, antimateri mempunyai kekurangan, ia sangat tidak stabil & langsung terbakar begitu bersentuhan dengan apa saja. Padahal satu gramnya setara dengan 20 kiloton bom nuklir atau seukuran bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Karena itu sering muncul pertanyaan, apa zat ini akan menyelamatkan dunia atau malah digunakan untuk membuat senjata paling berbahaya?. Begitu pun cinta, bisa menghancurkan, membakar siapa saja. Meluluh lantakkan. Tergantung sang pecinta memilih yang mana.

Tapi satu yang pasti, pecinta sejati tak akan mau menyakiti.

Selamat mengisi hari-hari dengan cinta & menyebarkannya dg penuh kedamaian.

*fakta tentang antimateri diambil dr angels & demons 😀

Sup Merah dan Cinta Segitiga


Minggu (23/8/9)

Pagi tadi seperti sehari sebelumnya, malaikat membangunkan aku. Malaikat? ah, mana mungkin?. eh, mungkin banget lagi!!, sebab aku terbangun begitu saja, tanpa ada alarm atau mendengar tukang ronda di luar rumah. Siapa lagi kalo bukan makhluk Tuhan tanpa dosa itu? jin dan setan? ah, mereka terlalu takut dan pengecut untuk mendekat, apalagi berani mencoba untuk membangunkan diriku 😉 untuk sahur.

Menu sahurku masih sama dengan kemarin, xixixixi…sup merah!. Yupz, maklum saja, mba Nur masak banyak banget, cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan dua anaknya :)) . Jadi yes, sampai dua hari ke depan, sahurku bakal ditemani dengan sup merah berisi ayam, sosis, wortel, bakso, minus kacang capri ini.

Sambil menikmati sup hangat, iseng aku nyalain tipi, ngeliat semua acara di channel berbeda, dan memutuskan untuk menonton Para Pencari Tuhan (PPT) 3. Eh, ndilalah kok ya pas scene yang menunjukkan cinta segitiga antara Azam, Kalila, dan Aya.

Azam, yang saat ‘digantung’ oleh Aya sempat berpaling ke Kalila sekarang dibuat bingung harus memilih siapa. Aya, perempuan pertama yang dulu terus ia kejar dan sekarang menunggunya, ataukah Kalila, perempuan yang mau menerimanya saat hatinya gundah gulana.

Ia, masih mencintai Aya, tapi juga tak bisa meninggalkan Kalila. Azam jadi plin-plan ya? hallah!.
GlEk, glodak!@#!$!  kok jadi familiar banget dengan ceritanya yakz?. hahahaha, asli bin swear ewer-ewer boom-boom dweh, bingung kalo disuruh harus memihak kepada siapa. Aya atau Kalila. Dua perempuan yang dibuat bingung oleh cinta, merasakan manis sekaligus pahit dalam waktu bersamaan.

Susah memihak, karena cinta bukan soal pihak memihak,
cinta juga tak bisa dipaksakan untuk tumbuh dan berhenti begitu saja.
Cinta tak pernah memilih, ia mendatangi siapapun yang dimaui, kapanpun, dimanapun.
Cinta tak mengenal pantas atau tak pantas,
ia bebas, merdeka…semerdeka siapapun dalam mendefinisikannya 😉

***

eh, nggak terasa sup di mangkuk dah habis…
sampai di sahur berikutnya dech, wa in Allah yasya…  😀

Dijual Mahal, Lebih Laku!


Sore tadi (Jumat, 21/08/09), saya bertemu dengan pelaku UKM binaan salah satu BUMN di Malang. Si bapak menceritakan sukses marketingnya berkat memajang produknya di blog gratisan [termasuk punya saia ini juga gretongan yakz? 😀 ]. Pemasarannya menjangkau Bandung, Jabodetabek, Pontianak, Mataram, Sumbawa, hingga Batam.  Seluruh buyer baru itu dia peroleh dari kunjungan di blog, sounds great dan layak untuk ditiru hwehehe 😉

Tapi bukan itu yang menarik dan membuat batin tergelitik, melainkan ceritanya saat suatu ketika ia mengikuti sebuah pameran UKM di Jakarta. Seperti biasa, ia membawa aneka produknya seperti keripik tempe, nangka, apel, dll, dan tetap menjual dengan harga pasaran biasanya, Rp 5000 per kemasan.

Hari pertama pameran, sangat sedikit pengunjung yang membeli keripiknya, hingga ia disarankan oleh salah satu rekan peserta pameran untuk menaikkan harga jual. “Loh, kenapa harus dinaikkan? dengan harga Rp 5000, saya sudah untung. Masak harus naik,” katanya.

Tapi kemudian ia mencoba mengikuti saran itu, dan menaikkan harga menjadi Rp 7500 per kemasan di pameran hari kedua. Cukup mengagetkan, penjualan meningkat dibanding hari pertama. Hingga kemudian ia sengaja memasang bandrol Rp 10 ribu per kemasan di hari ketiga, dan tahukah Anda? semua dagangannya ludes hari itu juga. hahahaha… dasar konsumen kita, masih berpikiran  kalo harga mahal selalu lebih berkualitas  dari yang murah. So, beli aja yang mahal, karena pasti lebih bagus. iya to :p

“Ini riil mbak, saya juga heran. Karena pengalaman itulah saya memasang harga berbeda di setiap pameran yang saya ikuti. Melihat karakter konsumennya”.

Ketika saya menceritakan cerita ini kepada anggota teen-gank di kotak super girl di kantor, dinda-teen langsung nyeletuk membenarkannya. “Iya mbak, salah satu produsen kopi di Malang dimarahi sama distributornya saat ia menjual dengan harga lumayan murah dan terjangkau. Katanya, ntar nggak bakal laku, orang menengah ke atas lebih suka beli dengan harga mahal. Ya udah deh, produknya dijual mahal dan laku!”.

nah, bagaimana dengan Anda? 🙂

Ingin [sebenarnya] HIDUP


Manusia dikatakan hidup saat ia masih mau dan mampu memilih, berharap mendapatkan sebuah tantangan baru dari waktu ke waktu, menghadapinya, menyelesaikannya, begitu seterusnya. Ia hidup karena punya rasa dan asa, tak sekadar pasrah menunggu datangnya ketentuan dariNya.

Berani menentukan pilihan, terlepas apakah pilihan itu salah ataukah benar adalah hidup itu sendiri. Jika benar, beruntunglah dia yang terselamatkan oleh pelajaran dari tiap pengalaman dan tanda-tandaNya hingga bisa menganalisa dan memprediksi kebenaran.

Bila salah, ia tetap beruntung karena akan belajar sebuah kesalahan, menambah pengalaman dan hikmah untuk bisa lebih baik di kemudian hari. Klise, ya. Tapi manusia seperti inilah yang memiliki makna hidup sebenarnya di hadapan sang pemilik ruh, penggerak alam semesta.

Baca lebih lanjut