Ingin [sebenarnya] HIDUP


Manusia dikatakan hidup saat ia masih mau dan mampu memilih, berharap mendapatkan sebuah tantangan baru dari waktu ke waktu, menghadapinya, menyelesaikannya, begitu seterusnya. Ia hidup karena punya rasa dan asa, tak sekadar pasrah menunggu datangnya ketentuan dariNya.

Berani menentukan pilihan, terlepas apakah pilihan itu salah ataukah benar adalah hidup itu sendiri. Jika benar, beruntunglah dia yang terselamatkan oleh pelajaran dari tiap pengalaman dan tanda-tandaNya hingga bisa menganalisa dan memprediksi kebenaran.

Bila salah, ia tetap beruntung karena akan belajar sebuah kesalahan, menambah pengalaman dan hikmah untuk bisa lebih baik di kemudian hari. Klise, ya. Tapi manusia seperti inilah yang memiliki makna hidup sebenarnya di hadapan sang pemilik ruh, penggerak alam semesta.

Aku masih bernapas dan ingin tetap hidup di hadapan Tuhan.
Dia tahu itu, sama ketika mengetahui dengan pasti saat aku dengan sadar memilih untuk berbuat salah.
Melakukannya, menikmati kesalahan itu.
Bertobat, mengulangi lagi, lagi, dan lagi.
Kesalahan yang membuatku merasa begitu hidup sekaligus mati dalam waktu bersamaan.

Mati, karena tak kuasa  memandangMu untuk mengakui aku salah, walau tanpa pengakuan pun Engkau Maha Tahu.
Mati, sebab aku sengaja mematikan dan membuang pelajaran dari pengalaman.
Mati karena mengulang kesalahan sama berulang kali.
Mati, sebab aku menikmati kematian itu.

Tapi Tuhan,
aku masih bernapas,
dan benar-benar ingin hidup dengan sebenarnya hidup di hadapanMu…



One response to “Ingin [sebenarnya] HIDUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s