Komunikasi Efektif


Kemarin, seorang humas dari sebuah institusi bertanya kepada saya tentang cara berkomunikasi pimpinannya yang menurutnya kurang fokus, tidak sistematis, dan susah dimengerti. Sesaat dia membahas tentang permasalahan A, sedetik kemudian pindah ke topik B, dalam menit ke 10 bercerita tentang politik, pada menit ke 15 sudah berganti ke tema agama, yang sama sekali tak ada kaitan satu sama lain. “Apa memang itu strategi beliau ya mbak?”

Saya tersenyum dan bertanya balik, “Menurut njenengan gimana?”

“Wah, gimana ya? kalo strategi kok begitu, saya ndak paham blas-e. Tapi kalo bukan, kok ya cara berkomunikasinya seperti itu,” katanya.

“Saya sih cuman bisa ngomong gini, komunikasi yang bagus itu kalo pesan dan ide yang disampaikan komunikator dapat diterima dengan baik oleh komunikan. Lha kalo njenengan dan temen-temen yang lain kurang paham apa yang disampaikan beliau, gimana dunk? :)”

“Eh, iya ya mbak…”

***

Terus terang si pemimpin tersebut memiliki banyak ide yang cukup bagus, namun itu dia, gaya penyampaiannya kurang bisa dimengerti oleh sebagian besar orang. Ketika ia berbicara di depan audiens, memberi penjelasan panjang lebar dan berbicara banyak hal,  sebagian besar orang yang mendengarkan memang mantuk-mantuk, mengangguk-anggukkan kepala, yang dalam artian normal merupakan tanda mengerti.

Tapi yang terjadi sebenarnya adalah, mereka tak paham!. Jika diibaratkan dengan angka 100, maka grade pemahaman audiens itu mungkin maksimal ada di posisi 10, waduh, benar-benar komunikasi yang tidak efektif. Membuang-buang waktu, energi, dan tentu saja emosi.

Emosi? yupz, seseorang bisa terpancing emosinya saat ‘dipaksa’ untuk mendengarkan sesuatu yang tidak ia pahami, apalagi dalam waktu lama. Maka muncullah rasa kesal, sebel, benci, hingga marah. Apalagi jika sang komunikator tak jua ‘ngeh’ bila topik pembicaraannya tidak dimengerti sama sekali oleh audiens. Alih-alih berempati dengan menyudahi pembicaraan, ia tetap melanjutkan omongannya, merasa enjoy, tanpa mampu mengartikan arti senyum tipis setengah hati yang tampak di raut wajah orang-orang di depannya.

Untuk menjadi seorang komunikator yang oke, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Penampilan, menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Komunikator harus  menyesuaikan  diri dengan lingkungan dan komunikan, atau disesuaikan dengan tata krama dengan memperhatikan tempat, waktu, dimana komunikasi tersebut berlangsung. Apakah dalam suasana formal, semi formal, atau dalam kondisi santai.

Menguasai masalah, adalah hal kedua yang tidak boleh ditawar. Penguasaan masalah, topik, atau tema, akan berpengaruh besar pada kepercayaan komunikan terhadap apa yang disampaikan komunikator, sekaligus mempengaruhi efektivitas komunikasi [bisa dipahami atau tidak]. Dalam komunikasi dua arah, mereka yang lebih menguasai masalah yang biasanya akan lebih berjaya alias memenangkan tujuan komunikasi.

Namun penguasaan masalah belumlah cukup, seorang komunikator yang baik haruslah memiliki penguasaan bahasa yang bagus juga, sehingga pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh komunikan. Eitz, bukan berarti  harus menguasai berbagai bahasa di dunia loh, tapi mampu menggunakan tata bahasa sesuai dengan gaya bahasa yang biasa digunakan komunikan. Gaya bahasa saat berbicara dan berkomunikasi dengan eksekutif tentu berbeda dengan anak SMA. Iya to? 🙂

Selain itu, komunikator juga harus memiliki kemampuan dalam mengartikan body language, untuk mempermudah dirinya dalam mengambil langkah komunikasi yang akan dilakukan selanjutnya. Saat komunikan terlihat jenuh, bosan, dia harus bisa membuatnya kembali ceria dan bersemangat. Ketika audiens sangat bersemangat, komunikator harus mampu memanaje bagaimana agar semangat tersebut tetap ada hingga proses komunikasi usai.

Nah, terkait dengan si pemimpin yang saya sebutkan di atas, fokus dalam berkomunikasi juga sangat berpengaruh pada tercapainya target komunikasi. Fokus di sini adalah, komunikator harus tetap konsisten dalam koridor tema utama yang hendak ia sampaikan.  Tidak menjadikan beberapa ragam tema dalam satu pembicaraan. Saat menyampaikannya, harus dilakukan dengan jelas dan gamblang, tidak samar-samar. Misalnya,  ketika memberikan perumpamaan ya harus  senyata mungkin, jangan perumpamaan ambigu yang multi tafsir sehingga memungkinkan untuk dipahami berbeda oleh komunikan.

Berbicara tentang komunikasi memang panjang, ia akan terus berkembang seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri. Well, saya sich berharap tulisan ini bisa dipahami sehingga target komunikasi saya juga tercapai 😉 .

3 responses to “Komunikasi Efektif

  1. Betul sekali ini …
    What To Say …
    How To Say …
    The Way you Say …

    Dan satu lagi …
    Just Be Your self …
    Jangan pernah meniru cara komunikasi orang lain …
    It won’t works …

    Salam saya

    Yupz mister trainer….
    kudu jadi diri sendiri…. 🙂
    dengan ciri khas masing2…
    bukankah tiap individu diciptkan unik dan berbeda dari yang lain? 😉

  2. yup. Setuju buanget. Sebuah pemikiran dan ide yang brilian sekalipun menjadi kurang bermakna ketika tidak mampu dikomunikasikan dengan baik

    iyupz…
    punya ide, dikomunikasikan, direalisasikan…
    [eh, dipanggil apa ya? Alam?]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s