terima kasih….. ^.^


Tatapan mataku nanar, semakin berkabut, dan yes! butiran air mata menetes tak terbendung saat membaca sebuah cerita di salah satu majalah online. Menangis karena diingatkan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua meski terkadang kesempatan sama tak datang dua kali. Menangis karena cerita itu berakhir sedih sementara aku tak pernah suka sad ending. Hei!….bukankah tak selamanya kenyataan sesuai keinginan?

Seorang pria, setengah baya, berkulit gelap, berkumis tipis. Dia berteriak nyaring pada pukul 19.00 malam di gang pada area kos mahasiswa di Sumbersari Malang, “diiipaan….”. Tertegun aku melihatnya dan dua dipan kayu yang ditaruh di atas sepeda pancal yang didorongnya pelan. Tertegun, tak bisa membayangkan beratnya dan siapakah yang akan membeli dipan itu, malam hari?. Tertegun membayangkan berapa lama ia harus berjalan sembari mendorong sepeda dan beban di atasnya, tanpa tahu kapan terjual, sementara ada beberapa mulut di rumah yang menunggu lembaran rupiah.

Anak kecil, 6 tahun, berkulit putih, ceplas-ceplos, selalu berbicara lepas tanpa tekanan. Ketika senang, saat sedih, bahkan, di kala  menceritakan kata per kata omelan mamanya tercinta. Mengajarkan tentang sebuah kejujuran, yang kian lama terasa semakin terkikis.
Saat kecil kita selalu berkata apa adanya, tanpa bumbu, apalagi hiasan pemanis yang tak menyehatkan

ah, terima kasih kepada cerita, tulisan, dan mereka yang telah mengajarkanku sesuatu. aku bukan pecinta seremonial, tapi di Hari Guru Nasional, hari ini, tak ada salahnya berterima kasih kepada siapapun dan apapun yang sudah berjasa dan membuat kita belajar, bahkan ketika itu menyakitkan.

Resensi N5M dan NS


Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar” [N5M]

Itu adalah status [atau note ya?] yang ditulis mas Fuadi di akun fesbuknya, Agustus lalu -kalo tidak salah. Banyak yang berkomentar, salah satunya saya. Komentar yang juga pengakuan kalo saya menangis setelah membaca kalimat itu. Swear ewer-ewer boom-boom, saya memang benar-benar menangis, sesenggukan, terharu, merasa tertampar, termotivasi, wes poko’e campur aduk dech.

Aneh ya?
Well, bagi sebagian [banyak] orang mungkin memang aneh. Tapi saya yang menurut beberapa teman termasuk sosok tegar [hallah!], memang gampang banget meneteskan air mata untuk hal-hal yang menyentuh. Termasuk kalimat itu.

Menyentuh?
Absolutely yupz! 😉 bagi saya. Ketika membacanya, saya sedang merasa hampa dan bosan dengan rutinitas *pernahkah kau merasa hatimu hampa…pernahkah kau merasa hatimu kosong…eh! lha kok jadi nyanyiin Hampa-nya Ungu :D. Kalimat itu terasa seperti baterai dan energi luar biasa yang mencoba me-recharge semangat saya untuk bangkit, kembali berani bermimpi, dan mewujudkannya.

Baca lebih lanjut