terima kasih….. ^.^


Tatapan mataku nanar, semakin berkabut, dan yes! butiran air mata menetes tak terbendung saat membaca sebuah cerita di salah satu majalah online. Menangis karena diingatkan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua meski terkadang kesempatan sama tak datang dua kali. Menangis karena cerita itu berakhir sedih sementara aku tak pernah suka sad ending. Hei!….bukankah tak selamanya kenyataan sesuai keinginan?

Seorang pria, setengah baya, berkulit gelap, berkumis tipis. Dia berteriak nyaring pada pukul 19.00 malam di gang pada area kos mahasiswa di Sumbersari Malang, “diiipaan….”. Tertegun aku melihatnya dan dua dipan kayu yang ditaruh di atas sepeda pancal yang didorongnya pelan. Tertegun, tak bisa membayangkan beratnya dan siapakah yang akan membeli dipan itu, malam hari?. Tertegun membayangkan berapa lama ia harus berjalan sembari mendorong sepeda dan beban di atasnya, tanpa tahu kapan terjual, sementara ada beberapa mulut di rumah yang menunggu lembaran rupiah.

Anak kecil, 6 tahun, berkulit putih, ceplas-ceplos, selalu berbicara lepas tanpa tekanan. Ketika senang, saat sedih, bahkan, di kala  menceritakan kata per kata omelan mamanya tercinta. Mengajarkan tentang sebuah kejujuran, yang kian lama terasa semakin terkikis.
Saat kecil kita selalu berkata apa adanya, tanpa bumbu, apalagi hiasan pemanis yang tak menyehatkan

ah, terima kasih kepada cerita, tulisan, dan mereka yang telah mengajarkanku sesuatu. aku bukan pecinta seremonial, tapi di Hari Guru Nasional, hari ini, tak ada salahnya berterima kasih kepada siapapun dan apapun yang sudah berjasa dan membuat kita belajar, bahkan ketika itu menyakitkan.

7 responses to “terima kasih….. ^.^

  1. Selamat hari guru juga ya Dewi…

    Kata para tetua kita: “Alam takambang jadikan guru”, artinya, semua yang kita lihat, dengar dan rasakan akan menjadi pembelajaran berharga buat kita…

    Ada beberapa guru yang menjadi inspirasiku, sila tengok di surau-ku, hehehe… 😀

  2. Banyak pelajaran dari kehidupan yang membuat kita berpikir dua kali untuk mengeluh. Seperti si Bapak penjual kacang goreng yang selalu saya jumpai setiap malam sepulang kuliah. Menunggu pembeli dipersimpangan jalan…. tak pernah mengeluh dengan keadaan sebagai suatu keterpaksaan….. salam mbak,…. blog yg inspiratif

    salam…
    makasih ya mas, pak, untuk sudah mau mampir di rumah mungil saya ini…. 🙂

  3. great story dan membuat kita tahu bahwa ada banyak orang yang survive tanpa meneluh…”mungkin ini yang dimaksud dengan IQRO’.”
    trimakasih

    terima kasih kembali ya mas tri… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s