Sambal, Si Seksi Nan Eksotis ^.^


Sakit perut dan segala hal yang menyertainya. Itu hasil dari ‘ngidam’ sambel kemarin (baca posting sebelumnya, bukan puisi). Yup, malam itu, sekitar pukul 22.30 WIB, saat harus menyelesaikan kerjaan tambahan plus iseng ngurusin farmville (hahaha ini sih nggak iseng tapi niat banget! 😀 ), keinginan untuk makan sambel (ups, tulisan yang benar SAMBAL) benar-benar nggak bisa dibendung dan akhirnya nekat bikin sambel korek super pedes dimakan sama nuget n’ tahu sutera, karena hanya dua item inilah yang bisa ditemukan di kulkas, hehehe.

hufh, NGEMIL tengah malem dengan menu utama sambal?!. merusak program hidup sehat dengan mancal yang sudah aku canangkan beberapa minggu terakhir, hiks 😦 .
Kenekatan ini, mungkin (dan memang benar) terkait erat dengan tamu bulanan yang sebentar lagi datang 😀 .  karena keinginan kuat itu  masih terulang keesokan harinya, sampai hari ini saat main ke rumah bapak di Landungsari, aku pun melengkapi menu makan siangku dengan sambal pedas!.

ehm,  bukan sedang melakukan pembenaran sih, tapi iya banget. Tadi iseng gugling bahan utama sambal alias cabe dengan memasukkan keyword ‘manfaat cabai’, and here is the result. Tahukah Anda, jika cabai itu mengandung senyawa kimia yang dinamakan capsaicin dan senyawa lain capsaicinoids yang terus terang baru aku ketahui tadi, entah jika dulu pernah dibahas dalam pelajaran di sekolah dan diriku tidak mendengarkan, hehehe 😀 .

Saat makan sambal, senyawa-senyawa capsaicinoids berikatan dengan reseptor nyeri di mulut dan kerongkongan sehingga menyebabkan rasa pedas. and then reseptor mengirim sinyal ke otak  menginformasikan kalo kita baru saja makan sesuatu yang pedas. Setelah sinyal diterima, otak meresponnya dengan menaikkan denyut jantung,  meningkatkan pengeluaran keringat, dan melepaskan hormon endorfin. Oia, hormon endorfin adalah hormon yang bisa memicu rasa tenang dan bahagia.
Khusus padaku, otak juga memerintahkan hidung untuk menumpah ruahkan persediaan (maaf) ingus, hwehehehe. Jadi bisa dibayangkan tampangku saat ke-pedes-en, uh! seksi ancur banget.

Baca lebih lanjut

bukan puisi


menuju cahaya berbekal asa dan doa.
wahai Yang Kuasa, kepadaMu aku menghamba hingga akhir masa
…dan,
bila saat itu tiba,
aku (berharap) akan (bisa) menegakkan kepala,
menatapmu lama penuh cinta dan berkata,
“akhirnya kita bersua, bersama, selamanya…”

*****

hidup.
apa sih hidup?
saat jantung masih berdetak, bernapas…
hanya itu?

“sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi yang lainnya”
sudahkah kehadiran kita bermanfaat bagi sesama,
menjadi anugerah dan berkah
ataukah ada dan tiadanya kita sama saja…

(iseng gugling eh malah nemu salah satu komenku di revolusibelajar.wordpress.com, dicomot dweh… 😀 )

****

Ini bukan puisi
juga bukan  kalimat motivasi
apalagi sok berfilosofi

Ini, tulisanku tentang sakit hati!

Baca lebih lanjut

….dan, Aku Menangis ~.~


Tuhan beri kekuatan otak untuk melakukan kontrol dan perintah pada anggota tubuh. Tangan mengepal, kaki berjalan, bibir tersenyum, mata melirik. Tapi ia (otak, Red) tak mampu menghentikan aliran air mata yg menetes tanpa diminta…

Sekuat apapun mencoba, sekeras apapun otak memerintahkan, air mata terus menetes tak tertahan. deras dan semakin deras, ah! mengaburkan pandanganku ke monitor meski jari tangan tetap lincah menekan huruf-huruf untuk merangkai kalimat.

CENGENG!. Salah satu warisan  bunda yang aku syukuri sekaligus ku benci. Bersyukur karena tangisan mewakili rasa dan emosi, tangisan juga bukti belum membekunya sepotong hati.
Membencinya karena telah menunjukkan kelemahan dan membuka benteng pertahanan diri. Tapi apapun arti yang ia wakili, aku tetap berterima kasih untuk sedikit beban yang ia bawa pergi, menguap, lenyap, hilang, meski mungkin akan kembali seperti air mata yang akan selalu ada, abadi.

Tangisku belum jua berhenti, demi menikmati sakit dan detail kenangan yang masih menghantui. Yang seringkali kembali meski otak telah  menghalaunya pergi.
Kali ini aku mengizinkan diri untuk menuliskannya di sini, sekali ini, untuk kemudian benar-benar menjadikannya pelajaran  agar  semakin berhati-hati dan lebih mendekatkan diri pada Ilahi. Baca lebih lanjut

Resolusi ‘MANCAL’


salah satu resolusi 2010-ku adalah memperbanyak gerak tubuh alias olahraga 😀 . uh, aktivitas yang terus terang belum bisa dilakukan dengan konsisten, istiqomah.
masih teringat jelas ketika aku dan Mbak Indah dengan semangat mendaftar yoga di kawasan Blimbing, belakang Telkom Malang. saat hari H, ternyata ada telpon dari instruktur jika kelas hari itu dikosongkan hingga 15 hari kemudian karena akan berlibur ke Singapura, Hongkong, atau entahlah negara mana lagi. pupus sebelum berkembang…. 😦

atau, ketika aku dan Jeng QQ ikut yoga di Ijen Nirwana dan berencana untuk meneruskan setiap minggu. Semangat pol!, apalagi ngelihat foto2 hasil jepretan si futugraper, karena kebetulan sesi yoga kala itu bakal masuk koran, wkwkwkwk…asli jueleeek bin ancur banget pose-pose kita (baca: keren abis! 😉 ). ya iyalah!!! yoga gitu!  adabanyak gerakan menekuk badan, dll.  dan ternyata semangat plus niat itu tinggal keinginan yang belum jua terwujudkan. karena yoga yang digelar di perumahan milik bakrie grup itu hanya salah satu program promosi yang gak digelar kontinyu.

yang lumayan sempat berjalan cukup lama adalah program body language. meski setelah beberapa bulan aktif dengan mengikuti kelas tiga kali seminggu di area ruko Dinoyo, harus berhenti karena Jeng QQ absen untuk prajab di surabaya. loh, alasan kok nggak masuk akal gitu ya??. banget!. masak berhenti BL gara2 orang lain, padahal hasilnya dirasakan sendiri 🙂 .

Baca lebih lanjut

kompromi sang waktu


waktu terus berjalan
ke depan…
tak sekalipun berhenti, stagnan, apalagi mundur ke belakang.
naifku meminta ia mengulang,
sebuah masa ketika hati masih menjadi satu-satunya penguasa
saat warna terlihat sebagaimana adanya
tanpa cacat tak ternoda
putih menebar keanggunan khas miliknya
hitam berdiri tegak, jumawa dengan kelegaman dan pekat andalannya
merah terus meronakan lewat suntikan semangat dan keberanian.

dan biru,
biru menawarkan peluk hangat penuh kedamaian.

satu masa saat senyum adalah sebenarnya,
kala kecup dan cium mengirimkan pesan cinta
menggugah asa memberi makna tanpa dusta.
ketika kata ‘ya’ mewakili penerimaan sepenuhnya
sebagaimana kata ‘tidak’ diucapkan dengan tegas,
wujud dari penolakan tanpa syarat.

satu masa ketika seharusnya tidak memilih setapak ilusi untuk dilewati…

bukan salah waktu jika ia tertawa terbahak
menyaksikan kebodohan terus terulang berbalut kemunafikan
hak waktu untuk mencibir aksi pemeran suci memperdaya mangsa
atau, melenguh kecewa melihat pejuang terkalahkan nafsu angkara
tak mengindahkan dosa dan petaka

naifku meminta waktu berhenti
sebab tak akan pernah terjadi.
bukan, bukan karena ia tak mendengar dan tak mau mengerti.
seringkali waktu mencoba berkompromi
memberi kesempatan kedua kali
yang terlewati tanpa perubahan berarti…

3/2/10 @Locari

Al-waktu kas-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka…..
Waktu laksana  pedang, jika tidak kau tebas maka ia akan menebasmu…