….dan, Aku Menangis ~.~


Tuhan beri kekuatan otak untuk melakukan kontrol dan perintah pada anggota tubuh. Tangan mengepal, kaki berjalan, bibir tersenyum, mata melirik. Tapi ia (otak, Red) tak mampu menghentikan aliran air mata yg menetes tanpa diminta…

Sekuat apapun mencoba, sekeras apapun otak memerintahkan, air mata terus menetes tak tertahan. deras dan semakin deras, ah! mengaburkan pandanganku ke monitor meski jari tangan tetap lincah menekan huruf-huruf untuk merangkai kalimat.

CENGENG!. Salah satu warisan  bunda yang aku syukuri sekaligus ku benci. Bersyukur karena tangisan mewakili rasa dan emosi, tangisan juga bukti belum membekunya sepotong hati.
Membencinya karena telah menunjukkan kelemahan dan membuka benteng pertahanan diri. Tapi apapun arti yang ia wakili, aku tetap berterima kasih untuk sedikit beban yang ia bawa pergi, menguap, lenyap, hilang, meski mungkin akan kembali seperti air mata yang akan selalu ada, abadi.

Tangisku belum jua berhenti, demi menikmati sakit dan detail kenangan yang masih menghantui. Yang seringkali kembali meski otak telah  menghalaunya pergi.
Kali ini aku mengizinkan diri untuk menuliskannya di sini, sekali ini, untuk kemudian benar-benar menjadikannya pelajaran  agar  semakin berhati-hati dan lebih mendekatkan diri pada Ilahi.

***

Dalam tangis, ku teringat perkataan singkat adikku tercinta Aziz, saat makan siang di sebuah resto cepat saji di Jalan Kawi. “Sebenarnya orang pintar, dalam agama dan ilmu, adalah mereka yang memahaminya secara kaffah dan mewujudkannya dalam perilaku. Omong kosong mereka yang fasih berdalil tapi masih berbuat maksiat dan dosa”.

Dalam tangisku pagi ini, sekali lagi, ku teringat status yang ditulis bapak fuad di fesbuknya, bahwa jihad terbesar  adalah jihad ‘ala nafsi. Status itu beliau tulis saat pemimpin di negeri ini belum mengedepankan kepentingan rakyat, masih menjadikan diri mereka sebagai yang harus dilayani dan diperhatikan, mengutamakan keinginan sendiri di atas segalanya dan menjadi yang terpenting dari apapun.

Melawan hawa nafsu bukan perkara mudah. Sangat sulit. Sebuah perjuangan yang membutuhkan ketegasan hati, kejernihan pikiran, ketenangan jiwa. Perjuangan yang tak dapat diukur oleh tingginya IQ, besaran usia, pengalaman akademik, torehan prestasi, jenis kelamin, kekayaan yang dimiliki, jabatan atau pekerjaan. Ia (nafsu) bisa menguasai siapa saja yang dimau, tanpa pandang bulu.

Saat merasakan tetesan air mata, aku teringat sebuah hadits yang ditulis Jaya Suprana di harian Kompas. Jaya Suprana? ya, tidak salah. Kok bisa menulis hadits? bisa, salah satu pelajaran yang diterimanya saat berkawan dekat dengan Gus Dur. Kepada penemu MURI ini, Gus Dur mengisahkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq. ”Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan yang kembali setelah memenangkan peperangan, Rasul bersabda: ’Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!’.
Ketika orang-orang terheran-heran lalu bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: “Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihadul akbar Jihadun Nafsi,  perjuangan menaklukkan diri sendiri, mengalahkan nafsu!”.

***

Aku kalah. Kita kalah.
Tapi Dia Yang Esa masih tetap setia membuka tangan untuk menerima hamba-hambaNya yang ingin kembali.
Dan sungguh, aku ingin kembali.
Tuhan lihat aku, langkahku tertatih, jalanku terseok, semangatku terserak…
aku lemah tak berdaya.
Tidak ada lagi tempatku berpaling dan memohon kecuali padaMu.
Tiada siapapun yang mampu membantuku bangkit selain diriMu,
Ucapkan kun fayakunMu yang hebat itu,
untukku
menjadi hambaMu yang baru
hingga aku mampu mengangkat wajah, membuka mata, dan menatapmu…
“Ini aku, kekasihmu, siap menerima apapun titahmu. karena hidup dan matiku hanya untukmu….”

@hamurlocari, 9/2/10

3 responses to “….dan, Aku Menangis ~.~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s