Katanya…


Katanya.
”Eh, kata si fulan, data-data undangan ada sama kamu ya?”.
”Saya boleh minta nama-nama anggota. Katanya ada sama sampean”
”Oia, katanya kamu yang simpan berkas-berkasnya?”.

Fiuh!, katanya-katanya-katanya. Satu kata yang diucapkan oleh banyak orang dalam waktu hampir bersamaan. Mendengarnya bikin tensi naik, esmosi tumpah, dan pengin menelan hidup-hidup orang yang barusan ngomong “katanya” #lebaaaayy 😀 . Untung saya lagi dapat diskon gak puasa, jadi kalopun sebel, nggak mbatalin puasa dech #pembenaran aja, haha. Baca lebih lanjut

menulis = mengajarkan kepekaan


Menulis tidak sekadar mendokumentasikan peristiwa, ide, rasa, asa, dan menjadikannya sebagai jejak sejarah. Menulis, mengajar dan mengasah kepekaan dalam menyikapi setiap momen yang terjadi di sekitar kita. Menulis, menuntut kita untuk dapat merasakan sesuatu yang tidak tampak di balik peristiwa.
Hohoho, ternyata begitu lama saya tidak menulis di blog ini. Selama itu pula sepertinya saya menjadi kurang ‘peka’ dan egois. Bahkan yang paling parah, menjadi sulit untuk berbagi dan mengurai ide serta rasa yang sering kali muncul (namun segera dibinasa-kan) 😀 .
Ok, resolusi Ramadhan saya kali ini adalah memanggil kembali si peka, mendudukkannya dalam posisi semestinya dalam hati nurani, memupuknya dan berharap ia terus bertumbuh, menetap. #semangat yakin bisa nich.
Sebagai langkah awal, saya memaksa diri untuk kembali menulis dan berbagi sembari berharap si peka tak harus membutuhkan waktu lama untuk menempati rumahnya, lagi. #berharapbanget, swear ewer2 boom2…