Berkawan dengan Emosi


Ok, saya minta maaf. Maaf beribu maaf karena tidak bisa menepati janji untuk menulis aktif di blog ini dalam setahun kemarin. Oh, Anda merasa tidak pernah mendengar janji saya tersebut? Ya iyalah! karena saya memang tidak pernah berjanji kepada Anda atau siapapun di luar sana kecuali kepada saya sendiri.

Tidak perlu mengurai alasan #panjang kali lebar sama dengan luas# karena akan selalu saja ada yang bisa dijadikan kambing hitam, kenapa saya enggan menulis di rumah kecil ini, kemarin. Padahal nich, ada banyak cerita, kisah atau apapun namanya yang bisa ditulis loh. Ah sudahlah, 2011 sudah berlalu.

Berkawan dengan Emosi

Ada apa dengan emosi? kenapa harus berkawan dengan emosi? apa saya sedang emosi? yes, Iam!.

Eits, jangan menduga yang aneh-aneh ya, menebak, mengaitkan emosi yang saya rasakan dengan sesuatu, peristiwa atau seseorang, karena semua dugaan dan tebakan Anda pasti akan salah. Wasting time!.  (idih, gw yang ke-geer-an nich, padahal Anda-nya mah gak mikir apa-apa, haha).

Tapi bener kok, saya menulis ini dengan emosi, sedikit-sedikit tersenyum senang sendiri #asal gak keterusan aja senyum2 sendirinya yakz! 😀 #. Kalo ada yang mengernyitkan kening karena saya mengaitkan emosi dengan senyum, saya akan membantu Anda untuk mengembalikan kernyitan itu ke tempat semula. Biar gak cepet kelihatan tua ;).

Banyak dari kita yang seringkali mengaitkan dan mengasosiasikan emosi dengan marah. Makanya, sering terdengar kalimat “Jangan emosi donk”, atau “Ih, orang itu emosional banget ya!”.

Kasian banget ya si emosi? hanya dideskripsikan dengan marah, padahal sebenarnya emosi tidak hanya marah, adaaaaaa banyak lagi lainnya. Coba Anda lihat diri sendiri, dalam sehari tentu tidak diisi dengan marah-marah aja to?. Anda bangun tidur, melihat pasangan terlelap di samping lalu tersenyum bahagia. Ketika salat shubuh, berdoa, bermunajat kepadaNya, Anda menangis untuk rasa bersalah atas dosa. Saat dalam perjalanan menuju tempat kerja, Anda terdiam  dengan mata nanar menahan tangis melihat pengemis tua renta yang harus menengadahkan tangan demi recehan uang penyambung hidup. Campur aduk. Silih berganti. Itulah emosi.

Manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk mengontrol dan mengatur emosi, sehingga  dapat menampilkannya sesuai dengan situasi. Saat bahagia dan senang, tentu senyuman yang akan mengembang riang. Ketika sedih dan kecewa,  raut wajah pun berubah sendu dan terkadang diiringi uraian air mata. Marah? Bisa berujud teriakan, omelan, amukan atau terkadang diam. *saya biasanya ngomel, kalo marahnya sudah kebangeten, bisa diiringi tangisan, hehehe :).

Dalam praktik sehari-hari, tidak semua dari kita mampu mengontrol emosi dengan baik. Ada yang perubahannya begitu cepat, ngalah-ngalahin pergerakan saham di lantai bursa. Ada (emosi) yang muntup-muntup pengin keluar tapi ditahan sama si empunya emosi -dengan berbagai alasan-. Ada pula yang salah menempatkan emosi dengan situasi seharusnya, senang melihat penderitaan orang lain, menangis tanpa sebab dan banyak contoh lainnya.

Emosi, membantu kita beradaptasi dengan lingkungan, sehingga kemampuan kita dalam mengaturnya menjadi sangat penting. Sebab ketidak mampuan dalam mengatur emosi menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan-gangguan (disorders), bahkan psikopatologi. Hiii…

Kata rekan saya (Barret & Campos, 1987), emosi merupakan sistem motivasi yang berfungsi membantu seseorang dalam mencapai tujuan. Kalo si mbah Freud sich mengatakan, energi emosi yang terbelenggu menjadi penyebab psikopatologi. Makanya, nggak usah membelenggu apalagi memenjarakan emosimu.

Seperti yang saya katakan secara implisit di awal, emosi itu kan banyak jumlahnya. Nah, semuanya itu (emosi) mempunyai kaitan dengan motivasi penerimaan dan penolakan loh. Contohnya, senang, marah dan empati merupakan emosi yang beroerientasi penerimaan, meskipun masih ada perdebatan nich, kapan marah menjadi bentuk emosi penolakan dan kapan menjadi emosi penerimaan (Coan & Allen, 2004).  Kapan hayooo?

Saat kita menempatkan marah sebagai emosi penerimaan, argumentasi secara teori mengatakan bahwa, perasaan marah bisa memotivasi sikap seseorang untuk mengalahkan rintangan dan halangan (Barret & Campos). Right?

Sementara itu , emosi-emosi yang termasuk sistem penolakan itu antara lain kesedihan, ketakutan dan beberapa emosi sosial seperti malu dan rasa bersalah.

*swear saya ngantuk beudh!. jadi dilanjut besok aja dech.

2 responses to “Berkawan dengan Emosi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s