Pak Kamilun Muhtadin itu. . .


Subuh hari ini (17/7/12) saya dikagetkan dengan broadcast dari pak Husnun yang mengabarkan tentang wafatnya pak Kamilun Muhtadin, Ketua Takmir Masjid Jamik Kota Malang, tadi malam. Perasaan sedih dan kehilangan muncul dengan tiba-tiba, apalagi tak berapa lama kemudian muncul komentar dari teman-teman tentang pengalaman dan kesan mereka saat bersinggungan dengan mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang ini.

Saya sebenarnya tidak terlalu lama berhubungan dengan beliau, pun tidak begitu sering bertemu. Saya hanya beberapa kali bertatap muka untuk urusan pekerjaan karena menggantikan tugas rekan yang sedang cuti. Tapi momen yang ‘hanya beberapa’ itu begitu membekas dan terkenang  Pak Kamilun  mampu menempati satu sudut penting di hati saya, sebuah ruang yang berdiri tegak tanpa ia perlu bersusah payah membangunnya. Kecil, namun kokoh dan kuat. Kecil, tapi akan selalu ada meski ia sudah tiada.

Sebagai pejabat, ia adalah sosok yang sangat menghargai siapapun yang bekerjasama dengannya. Siapapun yang berbincang dengannya, tanpa memandang status dan strata sosial. Ia tahu nama lengkap saya dan hapal. Oh, padahal siapa sich saya ini?. Sikap tersebut juga ia tunjukkan kepada teman-teman saya yang lain. Menurut pengakuan mereka.

Perhatian Pak Kamilun terhadap masalah pendidikan begiituuu besar, maka sosoknya menjadi langganan berbagai media massa -khususnya yang berada di Malang- untuk dimintai komentar dan pandangan. Ia, menjadi kesayangan media karena tidak pernah pelit informasi dan selalu berkata apa adanya. Ia dapat dihubungi kapanpun dan tidak akan mengelak jika disinggung tentang permasalahan yang terjadi di dinas yang dipimpinnya.

Pak Kamilun memang produk lama, sudah tua, tapi saat menjabat sebagai Kepala Dinas ia mampu menjadi PR bagi dirinya sendiri. Di kala pejabat lain tak punya kemauan dan kemampuan untuk menuliskan opini dan ide-idenya, Pak Kamilun menulis sendiri segala unek-uneknya tentang ragam masalah pendidikan dan mengirimkannya ke media massa. Menulis, bukan mengetik. Tulisan latin lama yang hanya dapat  dibaca oleh mereka yang juga produk lama. Tulisan latin di kertas berbau wangi dengan aroma khas.

Tak banyak yang bisa saya tulis tentang beliau, namun melihat status teman-teman di BB, mulai dari teman kerja, teman ketemu gede, petinggi partai, mereka kehilangan sosok Kamilun Muhtadin. Selamat bertemu Sang Kekasih pak, selamat berbahagia untuk dapat menatapNya lekat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s