Tandhiful ‘Am


Saat di pondok dulu, kami terbiasa untuk melakukan tandhiful ‘am, kerja bakti, atau bersih-bersih area kamar dan pondok bersama-sama, di hari Jumat. Kenapa Jumat? ya karena itu hari libur kami, sama artinya dengan minggu. Biasanya, kamar yang sehari-hari hanya disapu akan di-pel sampai kinclong. Kasur-kasur yang biasa ditumpuk ala kadarnya berbentuk kotak (untuk efisiensi waktu karena kami diburu untuk segera masuk kelas sebelum jam 7) akan dibentuk dengan berbagai macam desain dan hiasan kain.

Ok, Anda yang bukan alumni pondok, khususnya dari Mantingan atau Gontor Putri mungkin kebingungan kenapa kok ada acara tumpuk menumpuk kasur. Sebelum saya jelaskan lebih lanjut, ada satu pertanyaan nich, sudah melihat film Negeri 5 Menara (N5M)?. Jika belum saya sarankan Anda melihatnya, nanti, ketika DVDnya sudah diluncurkan. Jika belum, mari bayangkan saja gimana suasana dan gambaran kamar kami dulu di pondok. 

Setting dan lokasi syuting film yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi dengan judul sama itu adalah area Pondok Modern Gontor Ponorogo, jadi settingan kamar saya dan teman-teman dulu pun tidak jauh berbeda. Meski harus saya akui, kamar kami “lebih bagus dan rapi” 🙂 . Jika di film N5M, satu kamar hanya diisi belasan anak dan ukuran kamar terlihat kecil, maka kamar saya dulu diisi sekitar 25-30 anak, dengan ukuran lebih besar. Lemari pakaian kami juga lebih besar bila dibandingkan dengan lemari yang ‘muncul’ dalam film tersebut. Seingat saya dulu, bagian dalam lemari dibagi menjadi tiga bagian. Bagian atas khusus untuk menyimpan aneka buku pelajaran, lalu di bagian bawah dibagi menjadi dua, kanan dan kiri. Bagian kanan dibagi lagi menjadi tiga kotak dan bagian kiri merupakan area gantungan baju.

Lemari pakaian  ibarat ‘kamar’ yang menjaga semua privacy kami. Maka dari itu, setiap lemari diberi kunci yang selalu dibawa santriwati ketika ia keluar kamar, kecuali kami yakin memang tidak ada barang berharga atau uang berlebih yang tersimpan di sana, yaa terkadang ‘kamar’ kotak itu pun kami tinggalkan tanpa kunci. Sebagai hak milik pribadi, masing-masing santriwati selalu menjaga kebersihan dan kerapian lemari. Bahkan, kami berusaha untuk menampilkan tatanan dan lipatan baju yang super duper rapi, lurus, sehingga enak dipandang. Apalagi ada program penilaian lemari pakaian yang terkadang digelar mendadak -poor me, rasanya saya pernah mendapat predikat lemari paling berantakan- karena belum sempat melipat baju setelah saya ambil dari jempuran. Hanya dimasukkan begitu saja ke dalam lemari :D.

Selain lemari dan isinya, kekayaan kami yang lain adalah kasur. Setiap santriwati dapat membeli kasur ukuran single di pondok ketika pertama kali masuk. Kasur tersebut menjadi hak milik abadi, selama kami merasa kapuknya masih empuk dan nyaman untuk ditiduri. Nah, supaya kamar yang sudah sangat crowded karena dihuni oleh 25-30an anak ini tetap nyaman untuk ditempati dan terlihat lapang serta rapi, maka dibuatlah piket harian yang bertugas untuk menata kasur-kasur yang diletakkan di tengah kamar, menutupinya dengan sprei supaya tumpukan tersebut tampak rapi dan tidak diporak porandakan oleh ‘kami sendiri’ yang terkadang tergoda untuk mengambil bantal atau guling demi memuaskan diri untuk mencuri waktu tidur di sela istirahat atau pergantian antara waktu salat menuju waktu masuk kelas berikutnya.

Piket harian itu biasa kami lakukan sekitar pukul 05.30-an, sebelum waktu makan pagi. Urutannya adalah, kami mengangkat dan menumpuk semua kasur tersebut di tengah, menutupinya dengan sprei (seperti saat kita menutupi meja dengan kain), kemudian menyapu lantai kamar, lalu menata puluhan sandal dan sepatu di luar kamar. Waktu yang sempit tersebut membuat kami biasanya tidak terlalu sempat memperhatikan bentuk dari tumpukan kasur tersebut, tapi saat tandhiful ‘am di hari Jumat, biasanya tumpukan kasur dibuat lebih variatif. Misalnya saja, dibuat seperti tatanan meja dan kursi. Kasur menjadi meja, lalu bantal-bantal didesain layaknya kursi. Atau sekali waktu membuat desain mirip candi, pintu gerbang dan masih banyak lagi. Super kreatif.

***

Pagi ini (18/7/12) saya dan teman-teman kembali melakukan tandhiful ‘am, tidak bertepatan dengan hari Jumat karena saya sudah tidak di pondok, dan ini juga teman-teman pondok. Tapi teman kantor.

Menjadi tradisi di kantor saya untuk kerja bakti dan bersih-bersih kantor dan area sekitarnya menjalang Ramadhan, ya minimal para karyawan membersihkan meja masing-masing. Supaya ruangan kantor lebih ‘segar’ karena banyak aneka barang dan kertas yang selama ini tertumpuk -sayang untuk dibuang, malas untuk dibuka lagi- akhirnya benar-benar dibuang. Di ruangan saya sendiri, yang seringkali disebut sebagai pinkroom karena dominasi warna pink di sana, saya dan teman-teman berhasil mengeluarkan lebih dari lima kardus dan dua kresek besar kertas. Tumpukan proposal, surat, sampai aneka jurnal yang baru saya baca sekilas dan ternyata tidak sesuai dengan variabel tesis (semangat selesai!!!) akhirnya benar-benar dibuang. Tenkyu buat mba Siti dan mba Dinda yang pagi ini bersemangat untuk sama-sama ngebersihin pinkroom. ^^

NOTE: Saya seringkali menulis masa-masa di pondok sebagai backgroun dan prolog tulisan. Kenapa ya?
Karena masa enam tahun di sana, di usia perkembangan dan pertumbuhan saya merupakan masa yang tidak akan pernah terlupakan. Sebuah masa pembentukan yang menjadi awal mula siapa saya sekarang (hah, emang siapa elu Dew? :p ). Ah, apapun, kalau Anda punya masa SMA yang selalu terkenang, nah itu juga masa-masa di pondok dulu…. 🙂

 

 

 

One response to “Tandhiful ‘Am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s