Rumah Bersubsidi itu….


Awal tahun ini ada banyak temen yang berjamaah ikut kredit rumah bersubsidi, setelah mendengar presentasi dari sebuah bank X yang bekerjasama dengan instansi Y dalam penjualan rumah tersebut. Tawarannya cukup menggiurkan, kita bisa kredit tanpa uang muka dengan cicilan hanya Rp 700 ribuan per bulan selama 15 tahun.

Sebelum presentasi dari bank X itu, saya awalnya sudah ditawari oleh salah satu manager perusahaan (yang tidak perlu saya sebutkan namanya) tentang adanya rumah murah itu. Dia sendiri sudah membeli dan menganjurkan anak buahnya untuk juga membeli. “Ini investasi lho. Harga tanah dan rumah gak akan turun, jadi coba bayangkan 10-20 tahun ke depan, rumah ini akan berharga jual tinggi. Saya sudah membeli dua unit berdampingan, jadi nanti akan saya jebol sehingga rumahnya jadi luas,” kata si manager bersemangat.

Awalnya, saya pengin ikutan beli (kredit) juga, tergiur investasi murah meriah, sambil membayangkan rumah itu nanti akan saya jadikan tempat usaha atau disewakan, atau diapakan lah, pokoknya menghasilkan duit. Keinginan itu semakin kuat saat ada presentasi dari bank X di kantor, meski pada akhirnya saya tidak mengikuti presentasi tersebut karena ada meeting di Polres Malang Kota. Walaupun tak mendengarkan paparan mbak cantik dari bank X (kata temen-temen cowok yang menggambarkan si mbak cantik begitu aduhai), saya menanyakan tentang prospek rumah tersebut pada salah satu teman dan dijawab begini”

“Rumah ini khusus bagi calon pembeli untuk pembelian rumah pertama lho ya…”
“Maksudnya gimana?”
“Ya buat yang belum punya rumah sebelumnya”

Ok, kalo begitu saya tidak memenuhi syarat belum punya rumah dong, karena meskipun rumah saya kecil, yaaaaa…….. tapi kan punya! haha :D. Namun kemudian, teman yang lain menimpali begini:

“Ah, gak apa2 kok kalo kamu mau beli. Namamu kan belum terdaftar sebagai debitur KPR di bank. Rumahmu sekarang bukan kredit kan?”.

“Ooooh, gitu ya mbak. Haduh, kalo gitu, saya beli nggak ya?” *masih mikir*

***

Setelah melalui beberapa pertimbangan, antara idealisme  kok beli rumah bersubsidi siiich? *padahal saya gak mau termasuk kaum dan golongan yang mendapat subsidi (hallah!! 😀 ) dan  rasa malas untuk terikat kredit selama 15 tahun, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil kredit tersebut. Peristiwa ini terjadi berbulan lalu, nah, sore tadi Dinda a.k.a Bunda Juno cerita kalo dia baru saja mampir di pembangunan 10 ribu rumah bersubsidi yang kebetulan lokasinya dekat rumah dia yang di Sawojajar Malang….and the story begins..

Dari hamparan tanah yang super duper luas itu, ada satu rumah yang sudah jadi, dengan kondisi hmmmm….tembok tidak bercat dan dengan lantai porselen ‘aduhai’ yang tidak bisa saya gambarkan karena memang tidak melihatnya secara langsung. Dinda pun susah menjelaskan, dua kata yang dapat mewakili porselen itu adalah ‘kurang bagus’ untuk tidak mengatakan jelek, haha!. Di samping rumah yang bentuknya kurang eye catching itu, menurut Dinda, masih ada rumah lagi dengan kondisi yang jauh lebih ehem…. kurang bagus. Selain tanpa cat dan berporselen biasa, rumah itu juga tanpa plafon.

Kebetulan sekali, Dinda ketemu sama karyawan perumahan dan menanyakan rumah yang belum jadi 100 persen tersebut, dan tahukah Anda jawabannya?
“LHo rumah ini sudah jadi mbak, ini yang nanti diserah terimakan sama pembeli”. kata si karyawan.

Ups! Dinda  super duper kaget dong, rumah yang dikiranya belum jadi, ternyata rumah hasil akhir yang nantinya akan diterima oleh para pembeli. Penjelasan si mbak karyawan belum selesai nich. Menurutnya, rumah yang berplafon akan diterima oleh pembeli yang membayar cash, sementara rumah dengan kondisi lebih ‘sederhana’ akan diberikan kepada mereka yang membeli dengan cara kredit.

“Wah, berarti setelah diterima harus dilakukan renovasi dong mbak?” tanya Dinda lagi.

Jawaban si mbak sungguh mengejutkan (lagi). Sesuai dengan peraturan pemerintah, terangnya. rumah bersubsidi tidak boleh direnovasi selama dua tahun. Jadi, jika Anda membeli rumah bersubsidi, ya harus rela menempatinya dengan kondisi tersebut sampai dua tahun ke depan.
Anda membaca sampai poin ini? OK, sebenarnya nich, saya cerita panjang kali lebar sama dengan luas dari awal tadi, karena  saya dibuat heran dengan peraturan pemerintah tersebut. Kok bisa ya pemerintah bikin aturan yang super unik ituuu??? Gak boleh renovasi rumah bersubsidi selama dua tahun.

Kenapa saya HERAN?

Gini nich, pembangunan rumah bersubsidi, tentu diperuntukkan bagi mereka, masyarakat  kurang mampu. Yang untuk membeli rumah idaman, mereka harus bermimpi panjang, harus berjuang keras, harus mengumpulkan tiap receh yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. LOGIKANYA, saat mereka mendapatkan hunian dengan kondisi yang apa adanya itu, mereka akan sangaaaat bersyukur dan siap menempati tanpa komplain dan keinginan untuk merenovasi bangunan secepatnya. KENAPA? lha wong duit buat bayar rumah aja kekurangan, kok mikir renovasi sich?.

LHA trus kenapa pemerintah bikin aturan TIDAK BOLEH MERENOVASI RUMAH BERSUBSIDI selama dua tahun????

Jangan-jangan nich (oh Allahku, ampuni hambaMu yang bersuudzon ini), pemerintah sudah tahu jika para pembeli rumah-rumah bersubsidi yang mereka bangun itu pada akhirnya adalah orang-orang mampu. Bukan orang dari golongan dimana mereka seharusnya dibantu untuk membeli rumah? Omaigaaadddd…..

One response to “Rumah Bersubsidi itu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s