Jantung Koroner (Part 1)


Saya sebenarnya sudah kepingin menulis tentang penyakit jantung koroner sejak akhir tahun 2011 lalu, setelah bapak saya dirawat di RS Husada Utama dan Graha Amerta Surabaya untuk pemasangan ring. Tapi, menulis penyakit yang diderita oleh orang yang kita sayangi tentu tidaklah mudah, hingga kemudian 23 Agustus 2012 lalu, bapak harus kembali ngamar di RS dan mendapat tindakan lanjut karena terjadi penyempitan pembuluh darah ‘baru’ di jantungnya. Saya tergugah kembali untuk menuliskannya, siapa tahu, tulisan ini dapat membantu mereka yang sedang menderita jantung koroner dan menambah informasi bagi keluarga penderita sehingga dapat membuat keputusan untuk penanganan lebih lanjut.

Saya membuat tulisan ini menjadi beberapa bagian, karena memang ada banyak latar belakang yang menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Nah, karena yang menderita bapak saya, ya akan saya ceritakan apa yang beliau rasakan dan sebagian penyebabnya.

Masakan Bersantan

Anda warga Tulungagung? Atau mungkin pernah ke Tulungagung?, jika belum saya akan bercerita sedikit tentang kebiasaan dan menu makanan yang seringkali disajikan di daerah kelahiran saya itu. Sejak kecil, saya dan juga sebagian besar keluarga di Tulungagung, selalu memakan aneka masakan bersantan. Mulai dari sayur, seperti daun singkong, bayam, bayam dicampur oyong (gambas), hingga ikan lele, gurami, nila, tongkol dan sebutkan nama ikan lainnya pasti dimasak dengan santan. Bumbunya? Ok, jangan tanya saya yang bukan pecinta dapur, saya nggak ngeh sama sekali tentang bumbu-bumbu masakan itu. Yang jelas, semua masakan tersebut jadi maknyus. Bagaimana cara memasak daging? Idem. Jika Anda pernah merasakan Ayam Lodo asli Tulungagung, pasti ada santan kental yang menyertainya. Iya kan?

Karena itu, jika dalam sehari ada menu sayur mayur dan ikan atau daging, maka semua pasti melalui proses pemasakan dengan santan. Eh, gimana kalo dikukus dan dibuat lalapan? Bisa saja, tapi sambalnya juga bersantan. Kok bisa? Ya karena cabe, bawang merah and the gank dikukus bareng santan yang kemudian diuleg untuk menjadi sambal (bersantan). Sayur non santan, ya cuma sayur asem dan sop saja, tapi itu amat sangat jaraaaaaang sekali.

Anda bisa membayangkan, bagaimana efek dari semua masakan bersantan tersebut pada kondisi tubuh. Kolesterol meningkat dan tentu saja berefek pada penyakit lain, salah satunya jantung koroner. Itu juga yang dirasakan bapak saya sejak bertahun lalu. Jika tidak salah, penyakit tersebut terdeteksi pada awal 2000-an. Dari rasa nyeri yang hanya datang sesekali, masih bisa ditahan hingga kemudian tak tertahankan.

Saat itu, saya masih kuliah, masih sangaaaat muda dan kurang care dengan orang tua. Saya tahu bapak saya sakit, tapi kan tiap bulan sudah kontrol ke dokter? Jadi ya saya tidak pernah mau tahu gimana rasa sakitnya, dan bagaimana jika ia kesakitan. Apalagi kesibukan saya di Malang mulai dari kuliah hingga kemudian bekerja membuat intensitas pertemuan saya dengan bapak sangat kurang. Terus terang saya tidak pernah tahu bagaimana ia menahan sakit kecuali dari cerita ibu. Hingga tahun 2010 lalu saya mempunyai kesempatan untuk terus bersama bapak dan ibu selama hampir dua bulan saat beribadah haji. Ketika itulah, saya mengetahui dengan mata kepala saya sendiri bagaimana bapak kesakitan menahan nyeri di dadanya. Plus, bagaimana ia mencoba menutupi rasa sakit tersebut di hadapan jamaah lain dengan bersikap ’sok sehat’.

Nyeri di Dada

Gejala serangan jantung koroner untuk setiap orang berbeda-beda, ada yang gampang lelah, capek, sesak napas dan nyeri di dada, namun gejala yang paling dominan dirasakan oleh bapak saya adalah nyeri di dada. Seringkali saat kontrol ke dokter, atau masuk ke rumah sakit baru (dulu ke Husada dan Graha Amerta), pasti dokter atau terkadang perawat menanyakan ”Apakah bapak merasakan sesak napas?” dan selalu dijawab TIDAK oleh bapak saya.

Dan sepengetahuan saya ketika 2010 lalu di sepanjang perjalanan antara Tulungagung, Surabaya, lalu ke Mekkah dan Madinah, bapak memang tidak pernah merasakan sesak napas. Tapi kalo soal nyeri di dada, itu bisa sangat sering terjadi, hingga membuatnya berkeringat dingin karena menahan sakit. Akibatnya juga, bapak ’sebenarnya’ tidak bisa berjalan jauh, bahkan ketika berjalanpun haruuuss sangat perlahan. Tidak bisa cepat dan harus sering istirahat. Karena itu pula, saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan, supaya kami (saya dan ibu) bisa menjaga bapak sembari beribadah sekaligus ’menutupi’ egonya yang tidak mau terlihat sakit di mata jamaah lain.

Pengalaman yang tak terlupakan terkait dengan penyakit jantung koroner bapak saya, dimulai ketika kami harus melaksanakan thawaf qudum sesaat setelah di Mekkah. Saat itu, kami memulai thawaf pukul 02.00 pagi, bus yang mengantar menurunkan kami di jalan yang cukup jauh dari Masjidil Haram, hingga saya, ibu dan bapak harus berjalan lebih dari setengah jam untuk sampai ke Masjidil Haram. Sebenarnya, jika jalan kaki tersebut dilakukan oleh ’orang sehat’ bisa lebih cepat lagi, tapi ya itu tadi, kami harus mengimbangi cara jalan bapak yang lambat sembari memegangi tangannya.

Ketika akhirnya kami sampai di sekitar ka’bah dan memulai thawaf, saya dan ibu memutuskan untuk berjalan mendekati Ka’bah. Semakin kami dekat dengan kiblat umat muslim di dunia itu, maka kami tidak perlu berjalan terlalu jauh. Diameter yang harus kami putari tidak terlalu besar, dan itu untuk memudahkan bapak saya yang memang kurang kuat berjalan. Supaya dia tidak terlalu capek. Namun setelah satu putaran, kami bertiga menjadi perhatian hampir setiap jamaah yang melakukan thawaf di sekitar kami. Mereka memandang dengan heran dan kasihan kepada bapak yang ’sebenarnya’ sudah tidak bisa berjalan tegak, tapi condong ke belakang dengan tangan saya dan ibu yang memegangi tubuhnya.

Setiap jamaah, dengan berbagai bahasa mereka masing-masing menyarankan kami untuk keluar dari lingkaran thawaf, dari bahasa Arab, Inggris, sampai bahasa yang tidak saya pahami. Apakah kami keluar? Saya sudah meminta bapak untuk keluar dan dia tidak mau. Keukueh dengan pendiriannya untuk memutari Ka’bah di atas kakinya. Saran saya untuk memakai kursi roda sejak awal memang dia abaikan. Setelah putaran kedua, badan bapak saya semakin condong ke belakang, sehingga membuat tangan saya harus semakin kuat menahan tubuhnya yang besar dan berat. Sepanjang jalan itu juga saya terus meminta bapak untuk mau diajak keluar, dan dia bergeming. Memasuki putaran ketiga, semakin banyak jamaah yang memandang kami dan melontarkan saran untuk keluar dari lingkaran, dan seperti awal, bapak masih tidak mau hingga kemudian dua jamaah (saya tidak tahu dari negara mana karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan Arab, dua bahasa yang sedikit saya pahami) langsung memegangi saya dan bapak dan membuka jalan untuk keluar lingkaran. Baru di sinilah bapak mau untuk menurut dan keluar lingkaran.

Omaigad, kenapa saya akhirnya malah bercerita pengalaman tahun 2010 itu? Well, karena saat itulah saya benar-benar tahu bagaimana bapak saya menahan sakit dan kesakitan karena nyeri dadanya. Pada akhirnya, alhamdulillah kami dapat meyakinkan bapak untuk beribadah dengan menggunakan kursi roda. Tapi tentu saja, tanpa sepengetahuan jamaah lain, hehehe (masih ingat ego bapak saya yang tidak mau terlihat sakit kan?). Kami tidak memakai jasa kursi roda hasil negosiasi ketua rombongan yang datang langsung ke hotel. Saya mencari sendiri di area masjidil haram, biayanya pun lebih murah karena proses tawar menawar dilakukan sendiri.  

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s