Belajar dari Pak Daming….


“Calon Hakim Agung: Yang Diperkosa dan Pemerkosa sama-sama menikmati”, begitu kira-kira judul berita yang muncul di timeline saya. Setengah kaget tak percaya saya membaca judul tersebut di tengah kantuk menjelang tidur lewat gadget yang kemudian tergeletak begitu saja di kasur. Melihat timeline memang menjadi aktivitas sebelum tidur sejak kehadiran twitter, eh maksudnya, sejak saya mulai bisa berkicau di socmed dengan ikon burung itu.

Berita tentang pemerkosaan atau yang terkait dengan itu biasanya memang tidak menarik minat saya, nggak tega membacanya sambil membayangkan betapa menyakitkannya peristiwa tersebut bagi si perempuan dan keluarganya. Jjadi malam itu saya tidak membuka link berita tersebut, hingga keesokan harinya muncul banyak hujatan di twitter dan semakin banyak situs onlen yang memberitakannya.

Ok, saya kemudian mulai membuka link berita dan membacanya. Eh,  semakin dibuat melongo saja dengan pernyataan si calon hakim agung yang bernama pak Daming Sanusi. Satu pertanyaan yang muncul di benak saya usai membaca berita itu adalah, apa dia dalam kondisi sadar saat melontarkan pertanyaan tersebut?. Gila bener!!
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa dia punya anak perempuan??. Kasihan benar anaknya punya bapak seperti itu. Swear, saya kasihan sekali dengan anak perempuannya.

***

Manusia tempat salah dan khilaf, jadi wajar kalau di saat-saat tertentu kita salah berucap. Namun kesalahan ucap pun mempunyai batasan. Ucapan Pak Daming yang begitu menyakitkan, yang kemudian diakui sebagai bahan candaan untuk mencairkan suasana di tengah fit & proper test itu jelas-jelas TIDAK BOLEH DIUCAPKAN oleh seorang calon hakim agung!. Tidak boleh diucapkan oleh seorang hakim yang dengan ketukan palunya memutuskan seseorang bersalah atau tidak, yang dengan titahnya dapat mengganjar hukuman pada tersangka.

Ok, saya tidak akan menghakimi pak hakim lebih lanjut, sudah sangat banyak orang yang menghukumnya saat ini. Saya hanya ingin mengajak diri saya sendiri dan (mungkin) Anda yang tak sengaja membaca tulisan ini untuk belajar dari pak Daming, bahwa perkataan dapat menjadi senjata yang lebih tajam dari pedang, senjata mematikan yang efeknya seperti nuklir,  menyisakan bekas luka yang tak hilang dalam waktu singkat. Menyakitkan.

Bahwa kita benar-benar harus memikirkan perkataan dan pernyataan yang akan kita ucapkan. Sebelum tanpa sengaja (atau dengan sengaja?) kita menyakiti orang lain dengan perkataan yang terlontar dari mulut tanpa saringan. Ah, damn!

2 responses to “Belajar dari Pak Daming….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s