Converting SGD to IDR


Singapore, Day 14

Ah, nggak terasa sudah 14 hari berada di kota paling mahal sedunia. Mulai adaptasi dengan cuaca, jam shalat dan jadwal yang  sangat padat dalam sehari, sampai nggak sempat nulis apa-apa di sini. Oia, saya juga sudah menapaktilasi sebagian rute saat backpacker tahun 2012 lalu ke negara ini, meski belum semua sih, paling tidak saya mengingat penampakan terminal bus di deket Bugis Street saat saya kesini dengan bus dari Shah Alam, Malaysia.

Singapura, sebagai salah satu negara paling dekat dengan Indonesia, dengan jadwal direct flight super banyak dalam sehari dari berbagai maskapai airlines (mulai kelas budget sampai yang mahal), memang sudah sangat familiar bagi masyarakat tanah air. Tulisan traveler Indo yang ke Sing juga beredar bak kacang goreng di blog-blog mereka. Belom lagi berita tentang selebriti dan sosialita yang bolak balik Indo-Sing hanya untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh serta berobat, makin membuat Singapore layaknya bagian dari salah satu provinsi di Indonesia, #eh.

Oia, jangan lupakan juga aksi para pejabat yang kemudian tertangkap tangan KPK karena kasus korupsi, suap dan sejenisnya, mereka banyak yang berlibur ke kota ini atau bahkan bertemu dengan pemberi suap dan melakukan negosiasi di sini. Ya, memang banyaaaaak banget orang Indo di Singapura, saat berdiri di antara pengguna MRT, duduk di bus, jalan-jalan di mall, kita bisa dengan mudah mendengar percakapan sekelompok orang dengan menggunakan bahasa Indonesia. Atau, ketika berjalan-jalan di Bugis Street yang seringkali dijadikan tujuan wisata oleh para travel agent, hampir di tiap toko pasti ada ‘orang kita’ yang sedang melakukan tawar menawar. Saat saya berkeliling Bugis street dengan teman dari Vietnam, minggu lalu, saya juga bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sedang berwisata. Maklum, hari itu bertepatan dengan weekend.

Kondisi ini juga terjadi di Pattaya dan Bangkok. Bahkan, saat mampir di toko Naraya di MBK Mall Bangkok, saat itu saya menemukan semua pembeli di dalam toko adalah orang Indonesia!!. Mulai dari pembeli berjilbab semacam saya :D, warga keturunan China berlogat medok ala Surabaya sampai yang berlogat Sunda. Kita semua berlomba-lomba membeli tas berbahan kain yang memang didesain lucu. Harganya pun terjangkau dengan kantong, meski awalnya selalu kaget karena otak seringkali secara otomatis meng-convert bath dengan dollar. Misal, ketika mendengar harga tas 500 bath (jika dolar saat itu 12.000, maka harganya menjadi IDR 600 ribu). Namun biasanya, beberapa saat kemudian, saya baru menyadari jika IDR:Bath = 1:390, jadi harga tas itu sekitar IDR 195 ribu. Yaaaaa, masih terjangkau lah buat pelancong dengan kantong pas-pasan macam saya, hehehe.

Oia, GBK Mall ini juga terkenaaaaaal banget di kalangan Indonesian people. Bahkan, mereka seringkali mempelesetkannya menjadi Mall Bung Karno!. Di kalangan perempuan, Naraya juga menjadi toko tas favorit. Rasanya hampir semua traveler perempuan yang pernah ke Bangkok tahu soal toko ini. Saya, yang biasanya dilayani ala kadarnya sama dokter di salah satu klinik di Malang, bisa ngobrol bermenit-menit hanya karena dia melihat tas yang saya pakai. “Mbak beli di Naraya ya?”….

Back to Sing. Sebagai negara dan kota yang diklaim termahal di dunia, kurang sah dong kalo pertama kali kesini nggak kaget dengan harga-harga yang dibandrol. A bunch of spinach minimal SGD 1,5, pepaya seperampat SGD 1,80, semangka yang dipotong seperempat dan mangga per biji masing-masing SDG 2 (nilai tukar rupiah ke dolar Singapura sekarang ini 1: 9000 something gitu, tapi biar gampang dalam mengalikannya, saya genapkan jadi 10 ribu, jadi bikin tambahk syok kan?).

Saya ini paling demen dengan buah dan sayur-sayuran yang bisa diperoleh dengan gampang dan murah di Malang. Saking gampangnya, hanya dengan jalan kaki ke depan gang pinggir jalan dari deket rumah saya aja udah bisa beli aneka buah, bisa ditawar lagi 😀 (eh, tapi saya punya prinsip nggak mau menawar buah-buahan yang dijual oleh pedagang kecil, karena saya pun nggak bakal menawar saat beli di Istana Buah atau di Lai-lai).  Melihat harga-harga segitu di Sing, langsung deh matematika berhitung saya jalan dengan cepat, mengukur dan menimbang nominal stipend yang saya peroleh per bulan dengan kebutuhan buah-buahan yang nggak biasa diabaikan. Bukan tanpa alasan sih saya menyukai sayuran dan buah-buahan. Sebagai orang dengan bonus berat badan, saya tersugesti bahwa makan banyak buah-buahan dan sayuran bisa mengurangi BB *hehehe, padahal yaaaaa tetep aja lho :p .

Selama beberapa hari di Singapore, saya masih sering aja latah mengonversikan nilai SGD dengan rupiah. Lama-lama capek juga, hahahaha. Nilai rupiah kita, diakui atau enggak, yaaaaa emang rendah. Mau nggak mau harus diterima. Jadi biar hidup tenang, yaaa lets enjoy Singapore, tanpa harus memikirkan hasil konversi mata uangnya^^

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s