My Writing Influencer


writingIt’s a shame for me when I wrote “I’ll paint my words regulerly after a very long hiatus and then I did nothing”, it happened when I open my blog, always. I felt same theme, same spirit and ended with no new article. I thank God, alhamdulillah I remember my pasword, still, hahaha.

I open the blog commonly after reading something or having chit chat with friend who showed me his/her articles, like what happening now. My friend sent me the news link of him through BBM and something unseen stabs downward my mind “why dont you post ur daily activities on your blog to substitute your laziness of writing”.

“Im not celebrity, why should I post my daily activities?” I asked to my inner goddes. Ups! pardon me to use this Anastasia’s word -you know who if you watch the movie that Indonesia banned already-.

“Everyone knows you’re not artist nor actor, you even not a famous person”. Said my inner goddes. Oh right! it touch my heart qucikly T_T.

“But you’re celebrity in ur own community”. She continued. Aha! I’m blushing.

Since I trust my inner goddes, I then decided to post all of my daily activities, not to feel as I’m celebrity, but as I believed since long time that blog is a longterm diary, my proof history of life. I promise I’ll punish my self if it will end with no posting as before :).

Locari, 10:35 AM

Pintu Rezeki Allah SWT


dewi_yuhana_chocolateRezeki menjadi salah satu topik diskusi kami malam itu di Melati Restaurant, Tugu Hotel Malang yang cukup dekat dengan tempat kerja. Saya datang telat karena masih harus melihat lay out halaman, memastikan halaman lain selesai dan tidak ada kesalahan. a night routine activity. Saya bisa berjalan kaki ke resto itu dan sampai di sana tak lebih dari 5 menit, tapi membayangkan harus balik lagi ke kantor setelah acara obrolan  selesai, yang tidak tahu jam berapa, saya melaju dengan motor kesayangan.

Melati resto itu one of my fav hotel resto in Malang dan saya bisa merekomendasikan ke siapapun unconditionally, padahal juga nggak dapet fee ataupun royalti, hahaha. Menu-menu di sana wow punya dengan, rasanya yummy dan disajikan dengan konsep yang juga wow. Meskipun begitu, saya harus jujur kalo harganya juga wow untuk ukuran kantong saya saat ini. Nggak tahu untuk setahun lagi -wallahu a’lam wa amin, hehehe. 

Malam itu, di weekdays loh, suasana Melati resto sangat ramai, semua kursi penuh dengan pelanggan mulai dari meja di dekat pintu masuk, meja di dekat swimming pool. Dari yang terisi 5-8 orang per meja, sampai dengan meja yang diatur panjang berisi lebih dari 20 orang di tengah resto. Saya masuk belok kanan menuju meja paling pojok di ruang yang saya lupa namanya. di sanalah meja kami dipesan sebelumnya. 

Teman-teman sudah memesan menu, they just waited the orders to come while I looked at the brown menu book ignoring  main course list and then choosed lava chocolate and bandrek -sweet, hot and spicy drink from sundanese people. Siang hari saja saya memilih minum panas, apalagi malam hari. “Mas, bandreknya yang pannnnnaaas banget ya!” kata saya menekankan order ke waiter yang mengangguk sambil tersenyum ramah. 

Saya lalu mendengarkan obrolan yang berlangsung, semacam cross chat sih, karena tak ada tema pasti. Tapi yang jelas salah satu bahasan malam itu ya tentang rezeki. Bagaimana kita harus menjemput rezeki, mempersiapkan diri dengan baik sehingga sudah benar-benar siap ketika Allah SWT membuka pintu-pintu rezekiNya untuk kita. Ya, di umur segini, yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, saya memahami betul jika rezeki itu tak bisa ditunggu untuk datang dengan tiba-tiba, apalagi tanpa perjuangan dan kerja keras.

“Tapi ketika Allah SWT sudah membuka pintu rezekiNya untuk kita, siapapun tidak bisa menghalangi. Manusia menutup pintu rezeki kita, Allah tetap akan membukakan yang lain,” kata teman saya yang lain.

Saya langsung mengiyakan pernyataan teman saya karena  pernah merasakannya sendiri. Beberapa kali orang menghalang-halangi dan menutup pintu rezeki saya, tapi Allah membukakan pintu lain dengan lebih lebar. Dulu sekali, saya mendapatkan undangan dari mitra -yang saya bangun dari nol- untuk menghadiri sebuah even di Bali. Undangan personal via phone sudah disampaikan, saya juga meminta undangan tertulis di-fax ke kantor. Nama saya sangat jelas tertulis di sana, tapi eh tapi, ternyata keputusan berkata lain. Ada teman lain yang berminat berangkat, menghadap kepada pemegang keputusan untuk meminta undangan tersebut, dan kok ya diperbolehkan. Saya protes, tapi percuma.

Gimana rasanya disabotase? sakit hati lho. Tapi ya itu, pintu rezeki Allah itu banyak, Dia bisa membukanya dengan gampang kapan saja untuk siapa saja yang dikehendaki. Sore hari sakit hati, malamnya saya mendapat telepon dari relasi lain mengabarkan sebuah ajakan kerjasama, yang jika dinominalkan lebih besar dari apa yang saya peroleh ketika menghadiri undangan di Bali…and Allah provided for me from where I didnt expect.  

Masih ada pengalaman lain. Juga bertahun lalu. Kali ini saya harus menghadiri sebuah undangan konser besar dari mitra lain, jika saya tidak lupa, acaranya juga di Bali *aduh, ada sih dengan Bali? hahahaha. Saya sudah memberikan nama, nomor KTP dan mereka pun  menyiapkan tiket pesawat dan booking hotel sesuai nama saya. Did you know? sehari sebelum keberangkatan ada lagi yang ingin membatalkan keberangkatan saya -kali ini datang dari golongan petinggi hehehe-, meminta orang lain yang berangkat. Mau nggak mau, ya harus merelakan kesempatan itu. Tapi Allah memang benar-benar sayang sama saya kok, menggantikan kesempatan yang hilang dengan hal lain yang lebih berharga.

Bahwa, bekerja dan berbisnis itu harus bersinggungan dengan orang lain memang tak bisa dihindari. Tugas kita adalah tetap melakukan yang terbaik, menikmati proses dan meyakini hasil akhirnya pun akan menjadi yang terbaik. Remember this ayah, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haisu la yahtasib…

…and who ever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide for him from (sources) he does not expect… 

tatap matanya


dewi yuhana

lihat selalu matanya,
untuk bertanya
dan mendapat jawaban
jujurkah ia, sedih ataukah senang

pandang lurus matanya,
untuk menegaskan pesan
membuang ragu, sampai ia paham

tatap matanya,
dengan tegak dan berani
tak perlu kata dan suara
lihat apa yang kau temukan di sana

 

#West Coast Village Residences

 

 

Converting SGD to IDR


Singapore, Day 14

Ah, nggak terasa sudah 14 hari berada di kota paling mahal sedunia. Mulai adaptasi dengan cuaca, jam shalat dan jadwal yang  sangat padat dalam sehari, sampai nggak sempat nulis apa-apa di sini. Oia, saya juga sudah menapaktilasi sebagian rute saat backpacker tahun 2012 lalu ke negara ini, meski belum semua sih, paling tidak saya mengingat penampakan terminal bus di deket Bugis Street saat saya kesini dengan bus dari Shah Alam, Malaysia.

Singapura, sebagai salah satu negara paling dekat dengan Indonesia, dengan jadwal direct flight super banyak dalam sehari dari berbagai maskapai airlines (mulai kelas budget sampai yang mahal), memang sudah sangat familiar bagi masyarakat tanah air. Tulisan traveler Indo yang ke Sing juga beredar bak kacang goreng di blog-blog mereka. Belom lagi berita tentang selebriti dan sosialita yang bolak balik Indo-Sing hanya untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh serta berobat, makin membuat Singapore layaknya bagian dari salah satu provinsi di Indonesia, #eh.

Baca lebih lanjut

Lima Menit Sebelum Tidur……^^


whew, bener-bener sudah lama nggak nengokin blog ini. kasiaaan deh ya, dicuekin gak pernah di-up date.
pas buka blog inipun sebenarnya juga nggak sengaja, nggak ada niat gitu, gara-gara jam segini (00.56) belom tidur padahal ngantuk dan capek banget, ya udah lah pilihan ada pada buka laptop, gugling, browsing and something like that, hingga akhirnya dari perjalanan yang muter-muter itu lha kok malah mampir di blog sendiri, hahahaha.

Menerapkan konsep empati, saya jadi berasa nelongso kalo jadi si blog, karena ia dilupakan begitu saja setelah ada banyak varian socmed yang menawarkan up date dalam kalimat singkat dengan banyak follower, teman dan apapun lah namanya. Hari gini, siapa sih yang masih aktif ngeblog dan baca blog? yaaaa paling orang-orang itu aja. Tapi coba tanyakan siapa yang selalu apdet status dan aktif ngetwit, posting foto di path atau instagram? wah, banyak banget lah.

trus, saya mau nulis apa sekarang? nggaaak ada!. secara bener-bener udah ngantuk, dan besok musti bangun pagi biar bisa renang pagi-pagi (hallah, jangan percaya, wong saya renangnya sore hari kok. airnya anget! 😀 ), #eh emang udah mahir renang gitu? semogaa 🙂 . karena gak ada topik yang mau ditulis dan dishare, jadi wajar dong kalo saya posting foto narsis? haahaha. 

dewi yuhana & girls

Oia, saya yang mana? bener banget, mata Anda masih normal dan belum harus pake kacamata, saya yang pake jilbab merah cantik ituuuuh, yang ada di tengah (hiks, kok jilbabnya yang cantik?!), dan so pasti orangnya lebih cantik. bukan cuman (bakal) calon presiden yang bisa kampanye gratis di media masing-masing, pemilik blog juga sah melakukan pencitraan ‘cantik’ di blognya ;).

Sebelah kiri saya namanya Sonam, berasal dari negara dengan tingkat kebahagiaan warga yang cukup tinggi, Butan. oh, I’m dreaming to visit the country dengan populasi less than 1 million itu someday, yaaaa somehow bisa kesana deh, kalo Tuhan udah kasih izin, apapun bisa kan? :). Meski Sonam udah wanti-wanti, kalo kesana musti siap-siap jalan kaki padahal saya gak ngefans sama aktivitas satu itu, uh!. Yang sebelah kanan, yang manis itu namanya Nishima, she’s Indian.

ehmmm, kalo ke negara ini saya belom kepikiran buat main kesana *idih, gaya banget yakz?! emang mau kesana? sapa yang ajak? sapa yang biayain?*. Saya punya target, meminta Nishima menyanyi ala artis Bollywood, dia nggak bakalan tau target saya ini, karena gak bakal baca blog ini, even dia mampir di sini, jaga gak bakal paham bahasanya kok^^.

 

 

Saya dan Beauty Pageant


Kakang Mbakyu Kota Malang 2013

Saya lupa kapan tepatnya pertama kali berkenalan dengan ajang, kontes atau pemilihan duta-duta dan ratu kecantikan. Enam atau tujuh tahun lalu? entahlah. Saya benar-benar lupa.

Namun saya ingat saat pertama kali diminta menjadi juri pemilihan model. Kala itu, acara digelar di halaman sebuah rumah (atau gedung) besar dengan suasana etnik dengan beberapa gazebo unik, yang entah milik siapa. Yang menggelar pun, entah siapa mereka. Karena yang saya ingat adalah, betapa bingungnya saya waktu itu, mengingat wajah dan fisik para model satu per satu, -yang di mata saya- mereka semua sama, hahaha!. 

Saya juga tidak menyangka jika mereka  akan tampil di hadapan saya hanya dalam hitungan detik!, not more than 40 seconds. Saya juga tidak mengira jika mereka hanya tampil sekali saja. Omaigad, mereka sudah dandan super maksimal dan hanya perform zuper kilat. poor them 😀

Saya sebenarnya harus meminta maaf kepada penyelenggara, sebab tidak bisa menilai secara maksimal. bahkan bisa dikatakan asal-asalan, karena nilai itu tidak keluar dari penilaian secara obyektif. Nilai itu muncul sambil melirik angka yang ditulis juri lain, trus saya tambahin atau kurangin dikit, wkwkwkwk. Jangan salahkan saya, salahkan panitia yang tidak melakukan briefing dan memberikan warning pada saya bagaimana mekanisme pemilihan model yang mereka gelar, #ngeles. 

Pengalaman lain yang saya ingat, ketika diminta untuk menjuri pemilihan duta di Lostamasta. Gimana ndak ingat, lha wong saya berjilbab kok diminta menjuri acara di cafe (semi diskotek). Gebleknya, saya kok ya mau ya? *terus terang, saya mau karena waktu itu penasaran sich, hehehe. Pengin liat aja gimana suasana tempat hang out anak-anak muda di area Sengkaling itu. Hasilnya, saya musti menahan napas karena banyak asap rokok. Saat jeda pun, saya memilih kabur ke lantai dua yang open air untuk mencari udara segar. Saat di ruangan, saya lebih banyak bernapas dengan mulut, hiks, sembari terheran-heran dengan mereka yang bisa menikmati suasana di dalam. Katakan saya ndeso, emang iya :D.

Usai acara, saya harus ‘thaharah’ dari ujung kepala sampai kaki untuk menghilangkan bau asap yang menempel di pori-pori kulit sampai rambut. terdengar lebay, tapi swear beneran!. 

Sejak saat itu, sudah cukup banyak acara pemilihan model dan fashion yang saya terlibat sebagai juri di dalamnya. Bersanding dengan mereka, para pakar di bidang masing-masing. Tahun lalu (2012), saya bergabung sebagai juri Kakang Mbakyu Kota Malang, tahun ini saya jadi sponsor aja dech. #Eh, maksudnya Malang Post yang jadi sponsor^^

trus, apa sich maksud tulisan ini? nggak ada, aslinya cuman pengin upload foto itu aja kok :p