Mission Accomplished


Ada sebuah rumah makan yang jadi langganan saya dan teman-teman saat kuliah dulu. Rasanya enak dan yang pasti porsinya banyak. Warung ini selalu ramai pembeli, sejak buka hingga tutup lapak. Motor-motor pelanggan berjajar, bahkan hingga ada yang parkir di seberang jalan, supaya tidak menghalangi kendaraan yang lewat. Sampai sekarang, saat saya lewat di depan warung itu, masih saja ramai pembeli.

Tak hanya di hari biasa. Saat bulan puasa, warung ini pasti diserbu pelanggan yang berburu menu buka puasa dan bahkan dipenuhi orang lagi di waktu sahur. Pindah jam buka dengan jumlah pelanggan yang tetap ramai.  Maka, ketika saya berkunjung ke rumah teman yang lokasinya melewati rumah makan itu, saya ingin bernostalgia dengan masa lalu. Saya mampir ke sana untuk membeli menu dengan lauk yang biasa saya beli dulu.

Saya tidak makan di tempat karena hampir semua meja dipenuhi pelanggan yang sedang makan. Membuat ruangan tak nyaman dan terasa panas. Ketika mahasiswa dulu pun, saya juga jarang makan di tempat. Saya lebih sering membawa pulang dan makan di kos bersama teman-teman yang lain.

Di rumah teman, dengan hati bahagia saya mulai makan. Aneh. Rasa masakannya terasa lain, berbeda dengan yang ada dalam kenangan saya. Melihat saya mengernyitkan kening, teman saya bertanya. “Ada apa?”.

“Masakannya sudah berubah, kok nggak seenak dulu ya,” jawab saya.

“Ah, masak berubah?. Pelanggannya masih banyak banget lho,”.

Kami meneruskan makan sambil masih membicarakan soal cita rasa masakan. Makanan enak, seharusnya tidak lekang oleh zaman. Dari 15 tahun lalu sampai sekarang, harusnya ya tetap enak. Lalu saya teringat sebuah tulisan yang pernah dishare via WhatsApp. Saya lupa tentang tokoh siapa, tapi pengalamannya sama dengan apa yang saya rasakan.

Ia merasa soto paling enak di dekat kampusnya berubah hambar. Tak selezat dulu. Namun ia lalu menyadari, bukan karena bumbu soto itu yang berubah dan dikurangi sehingga tidak lagi lezat, tapi ia sendirilah yang berubah. Semenjak lulus kuliah, ia sudah mengecap banyak makanan bervariasi, termasuk mungkin soto yang lebih enak dari soto dekat kampusnya. Standar enak di lidahnya pun berubah. Warung soto itu tetap menyajikan soto enak dan lezat menurut pelanggannya sekarang, buktinya warung tetap ramai. Warung langganan saya juga masih sangat ramai pembeli, hehehe.

Seiring berjalannya waktu, standar yang kita tetapkan berubah. Perubahan ini bukan sesuatu yang negatif. Karena setiap orang pasti akan melewati proses ini. Saya, Anda, atau mahasiswa-mahasiswa pelanggan warung itu sekarang. Kita, tidak hanya mengalami perubahan soal rasa makanan, tapi bisa juga tentang hal lain.  Style pakaian, tempat nongkrong, tempat belanja, dan lainnya.

Saya lalu teringat dengan gelaran Malang Post School Competition (MSC) 2017 yang berakhir pada 15 November lalu. Event dengan 12 kompetisi ini diikuti 3.000-an pelajar, melibatkan ratusan guru pendamping dari sekitar 100an sekolah di Malang Raya, dengan pengunjung lebih dari 20 ribu orang dalam tiga hari. Saya, atas persetujuan direksi Malang Post mengawali event ini 2010 lalu, berbekal nekat dan sebuah keyakinan “If there is a will there is a way”, kalau ada kemauan ya pasti ada jalan.

Event pertama terselenggara di Aula SMAN Tugu Malang dari rencana di Gedung Kartini Malang. Lokasi berubah last minute, sehari sebelum pelaksanaan pameran!. Apa sebabnya?. Harga sewa tiba-tiba naik berkali dari kesepakatan awal. Jika diteruskan, budget tidak mencukupi. Maka, saya harus berterima kasih kepada Kepala SMAN 1 saat itu, Pak HM Sulthon. Ketika membutuhkan lokasi untuk pameran Mading 3D dalam waktu singkat, beliau menawarkan aula yang menjadi hak bersama tiga SMAN di sana, SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 4.

Event dapat berjalan dengan lancar dalam segala keterbatasannya. Ratusan pelajar senang karena mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya di luar akademis.

Sejak event perdana itu, lokasi MSC di tahun-tahun berikutnya selalu berubah. Mencari lokasi yang  lebih luas dan representatif. Pernah dibuat outdoor, di mall dan Aula Skodam Brawijaya. Kala event ini berjalan tiga atau empat tahun, dengan jumlah peserta lebih dari seribu dan digelar di mall, saya pernah mengatakan kepada kru M-Teens (sekarang nama rubriknya berubah menjadi GenZi, Red) bahwa “mission accomplished”, misi berhasil diselesaikan. Kami berhasil menyajikan sebuah gelaran pesta pelajar terakbar di Malang Raya. Kerja keras mereka terbayar dengan meriahnya event dan ribuan potongan kenangan manis yang disisipkan dalam kotak nostalgia para pelajar, yang akan dikenang hingga mereka dewasa nanti.

Lalu, apakah misi telah benar-benar selesai?. Ternyata belum.

Ketika sebuah misi berhasil diselesaikan dan target dicapai, secara otomatis kita membuat target baru yang lebih besar. Misi lebih sulit. Sama seperti ketika kita berhasil memainkan game pada level tertentu, kita tidak akan berhenti. Tapi tetap memainkannya terus. Begitu juga dengan MSC. Event ini lalu menargertkan jumlah pelajar lebih banyak, lokasi lebih luas, waktu pelaksanaan lebih panjang.

Mission accomplished tepat disampaikan empat tahun lalu, tapi tidak untuk sekarang. Sebab kita berubah, standar rasa kita berbeda. Sama seperti perubahan selera makanan tadi, perubahan ini bukan sesuatu yang negatif, malah positif. Perubahan menunjukkan bahwa kita terus bergerak, tidak diam. Bahwa kita merespon tuntutan zaman. (*)

Pintu Rezeki Allah SWT


dewi_yuhana_chocolateRezeki menjadi salah satu topik diskusi kami malam itu di Melati Restaurant, Tugu Hotel Malang yang cukup dekat dengan tempat kerja. Saya datang telat karena masih harus melihat lay out halaman, memastikan halaman lain selesai dan tidak ada kesalahan. a night routine activity. Saya bisa berjalan kaki ke resto itu dan sampai di sana tak lebih dari 5 menit, tapi membayangkan harus balik lagi ke kantor setelah acara obrolan  selesai, yang tidak tahu jam berapa, saya melaju dengan motor kesayangan.

Melati resto itu one of my fav hotel resto in Malang dan saya bisa merekomendasikan ke siapapun unconditionally, padahal juga nggak dapet fee ataupun royalti, hahaha. Menu-menu di sana wow punya dengan, rasanya yummy dan disajikan dengan konsep yang juga wow. Meskipun begitu, saya harus jujur kalo harganya juga wow untuk ukuran kantong saya saat ini. Nggak tahu untuk setahun lagi -wallahu a’lam wa amin, hehehe. 

Malam itu, di weekdays loh, suasana Melati resto sangat ramai, semua kursi penuh dengan pelanggan mulai dari meja di dekat pintu masuk, meja di dekat swimming pool. Dari yang terisi 5-8 orang per meja, sampai dengan meja yang diatur panjang berisi lebih dari 20 orang di tengah resto. Saya masuk belok kanan menuju meja paling pojok di ruang yang saya lupa namanya. di sanalah meja kami dipesan sebelumnya. 

Teman-teman sudah memesan menu, they just waited the orders to come while I looked at the brown menu book ignoring  main course list and then choosed lava chocolate and bandrek -sweet, hot and spicy drink from sundanese people. Siang hari saja saya memilih minum panas, apalagi malam hari. “Mas, bandreknya yang pannnnnaaas banget ya!” kata saya menekankan order ke waiter yang mengangguk sambil tersenyum ramah. 

Saya lalu mendengarkan obrolan yang berlangsung, semacam cross chat sih, karena tak ada tema pasti. Tapi yang jelas salah satu bahasan malam itu ya tentang rezeki. Bagaimana kita harus menjemput rezeki, mempersiapkan diri dengan baik sehingga sudah benar-benar siap ketika Allah SWT membuka pintu-pintu rezekiNya untuk kita. Ya, di umur segini, yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, saya memahami betul jika rezeki itu tak bisa ditunggu untuk datang dengan tiba-tiba, apalagi tanpa perjuangan dan kerja keras.

“Tapi ketika Allah SWT sudah membuka pintu rezekiNya untuk kita, siapapun tidak bisa menghalangi. Manusia menutup pintu rezeki kita, Allah tetap akan membukakan yang lain,” kata teman saya yang lain.

Saya langsung mengiyakan pernyataan teman saya karena  pernah merasakannya sendiri. Beberapa kali orang menghalang-halangi dan menutup pintu rezeki saya, tapi Allah membukakan pintu lain dengan lebih lebar. Dulu sekali, saya mendapatkan undangan dari mitra -yang saya bangun dari nol- untuk menghadiri sebuah even di Bali. Undangan personal via phone sudah disampaikan, saya juga meminta undangan tertulis di-fax ke kantor. Nama saya sangat jelas tertulis di sana, tapi eh tapi, ternyata keputusan berkata lain. Ada teman lain yang berminat berangkat, menghadap kepada pemegang keputusan untuk meminta undangan tersebut, dan kok ya diperbolehkan. Saya protes, tapi percuma.

Gimana rasanya disabotase? sakit hati lho. Tapi ya itu, pintu rezeki Allah itu banyak, Dia bisa membukanya dengan gampang kapan saja untuk siapa saja yang dikehendaki. Sore hari sakit hati, malamnya saya mendapat telepon dari relasi lain mengabarkan sebuah ajakan kerjasama, yang jika dinominalkan lebih besar dari apa yang saya peroleh ketika menghadiri undangan di Bali…and Allah provided for me from where I didnt expect.  

Masih ada pengalaman lain. Juga bertahun lalu. Kali ini saya harus menghadiri sebuah undangan konser besar dari mitra lain, jika saya tidak lupa, acaranya juga di Bali *aduh, ada sih dengan Bali? hahahaha. Saya sudah memberikan nama, nomor KTP dan mereka pun  menyiapkan tiket pesawat dan booking hotel sesuai nama saya. Did you know? sehari sebelum keberangkatan ada lagi yang ingin membatalkan keberangkatan saya -kali ini datang dari golongan petinggi hehehe-, meminta orang lain yang berangkat. Mau nggak mau, ya harus merelakan kesempatan itu. Tapi Allah memang benar-benar sayang sama saya kok, menggantikan kesempatan yang hilang dengan hal lain yang lebih berharga.

Bahwa, bekerja dan berbisnis itu harus bersinggungan dengan orang lain memang tak bisa dihindari. Tugas kita adalah tetap melakukan yang terbaik, menikmati proses dan meyakini hasil akhirnya pun akan menjadi yang terbaik. Remember this ayah, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haisu la yahtasib…

…and who ever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide for him from (sources) he does not expect… 

umbrella, wine and the cookie museum


Dewi Yuhana1 (2)a copy

the story behind : I remember I was stepped to the restaurant behind when those colourful umbrellas catched my eyes, but the word wine written on that black board stopped me, aaaahh…..

The photo was taken five minutes after exploring a hundred cookies from The Cookie Museum at Esplanade Mall.  Me and Kay knew this cookies from friend we met at Singapore Design Center, he dropped us here!. Thank You!
I recommend you to taste all kinds of its flavours from Madelene Rose, English Lavander, Hainanese Chicken Rice and Nasi Lemak etc. Nasi Lemak cookies? yes, you read the right words.  You can find all Nasi Lemak ingredients in one cookie, even the hot chilli and the unique taste of tiny sea fish. The only problem is the price, hahaha. It’s too expensive for me -right now- to spend USS 45-50 for a very small glass jar of cookies which I can eat all in 15 minutes 😀 

Thank you Kay Kay for being a calm photographer , miss you buddy! ^^ 

 

Semur Jengkol


Saia memang paling jago masak air dan mie 🙂 , nah sejak tiga bulan terakhir, ada satu menu yang saia bisa memasaknya dengan lancar, hapal di luar kepala. SEMUR daging.

Sebenernya, have to say thanks to Bang Uchien seh, temen asal Jakarta yang bentar lagi balik ke tanah leluhurnya. Selama beberapa waktu, dia selalu mampir  di rumah pas wiken. Upz, bukan ngapel, tapi mengantarkan seorang sahabat, QQ untuk menemani akhir pekan saia.

Baca lebih lanjut

Cilok dan Coffee Shop


Jumat (13/6). Setelah lama ndak nyicip cilok, bukan cinlok loh 😀 , saya antre membeli cilok bersama siswi SMKN 1 Batu. Ehmmm….rasanya alot, mirip lem 😆 dan saos sambalnya terlalu encer, tapi tetap enak dimakan karena sensasi yang mengingatkan masa lalu dan….swear ewer2 boom2 dech…. karena saya lapar 😦

Makan cilok di pinggir jalan Bromo Batu bersama anak SMA, huehehehe….membuat saya jadi ‘pusat perhatian’ para pengguna jalan. Baca lebih lanjut