Mendadak Suka Sepak Bola


Dari dulu, aku bukan penggemar bola. Nggak pernah dengan sengaja nonton pertandingan sepak bola, baik di tipi ato permainan langsung di stadion. Aku juga nggak pernah hapal dengan para pemain sepak bola, mo dia cakep, kerrren, ato predikat  lainnya, kecuali si Beckham n’ Ronaldo (teuteuepp, he3). Padahal, banyak banget pemain sepak bola Arema, Persema, dan klub lain yang mampir ke kantor. Mo sendirian, berduaan, sampe se-klub. Tapi ya itu, namanya aja nggak suka ama sepak bola, kedatangan mereka pun tak pernah aku lirik sama sekali.

Tapi saat aku sakit dan membaca berita tentang anulir gol Arema oleh wasit di Kediri, menyusul kerusuhan yang terjadi setelah itu, aku mulai melirik berita-berita olahraga, khususnya yang berkaitan dengan Arema. Secara, berita Arema dan Aremania selalu menempati headline di Malang Post dan halaman Olahraga Jawa Pos dalam beberapa hari terakhir. Aku, menyempatkan diri membaca berita-berita itu sesaat sebelum tidur. Eh, meski ndak ikut ngeliat pertandingan di Kediri, aku ternyata bisa memahami kekesalan Aremania.

Lha wong aku yang notabene bukan gibol, jadi sebel setelah ngebaca berita dan track record Djajat dalam beberapa pertandingan ‘rusuh’, gimana mereka, para supporter yang jelas-jelas amat sangat mencintai dan mendukung klub sepakbolanya. Ya pasti sebel, se-sebel-sebelnya. Marah, semarah-marahnya, sampe nekat nimpuk wasit ato ngebakar fasilitas stadion (aksi ini sebenarnya sangat aku sayangkan, lha sebelumnya Aremania kan mendapat predikat supporter terbaik?). Tapi ya itulah, kumpulan massa yang merasa kecewa secara psikologis memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan saat sendirian (merusak, melempar, de el el).  

Sore ini, saat melihat temen2 kantor bersemangat menonton pertandingan lanjutan antara Arema dan Persiwa di anTV (tanpa penonton di stadion), aku ikut merasakan gairah mereka. Kekesalan saat gol tidak masuk, dan sensasi lainnya. Wah, keknya aku kok jadi mulai suka ama sepak bola nich.