.::. Menjadi Ibu….*_*.::.


Kelas 1 SDKelas 1 SDKelas 3 SDKelas 3 SD

Foto Atas: Abdul Sahid dan Nur Hidayah Kelas 1 SD.
Bawah: Mizan Ali dan Muslimah, kelas 3 SD)

21 April 2008 menjadi momen bersejarah. Bukan karena Hari Kartini yang membuat sebagian besar perempuan memiliki alasan tepat untuk tampil beda. Bermake up lengkap dengan sanggul plus kebaya. Rela bangun pagi buta untuk antre di salon, dan tentu saja menyiapkan budget lebih besar hanya untuk penampilan sehari. “Ah, setahun sekali ini”, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Hari ini bersejarah karena saya resmi menjadi Ibu 😉 !! Ibu dari anak-anak yang cantik (secantik saya 😆 ) dan ganteng. Bukan cuma satu atau dua anak, tapi langsung empat! Alhamdulillah…

Kehadiran mereka, meski hanya lewat foto, menjadi obat mujarab yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada-Nya, meski baru saja melewati hari yang lumayan berat. Oia, saat ini mereka kelas satu dan kelas tiga MI Al Hidayah di Batu.

Doakan anak-anak (asuh) saya selalu sehat, dalam lindunganNya, dapat belajar dengan baik, dan dapat berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara 🙂 😉

Menulis Itu Mudah


Sambil menunggu upload file imel kemarin malam (Kamis/24/1/08), saya sempat ngobrol sebentar dengan Rama, yang mengaku bekerja di salah satu PTN di Malang (Rama, ndak apa2 to,namamu tak tulis di sini). Karena ini terkait dengan pertanyaanmu “Mbak gimana caranya nyari ide untuk menulis?”.

 

Pertanyaan seperti ini seringkali dilontarkan oleh para peserta diklat, pelajar SMA, mahasiswa, para tamu yang berkunjung ke kantor, sampai teman-teman terdekat saya. Nah, menjawab pertanyaan Rama, spontan saya menjawab “Loh, banyak idenya. Tergantung kamu mau nulis apa, berat atau ringan. Misalnya, tulisan tentang kamu yang sedang jatuh cinta, penerapan SPP Proporsional di Unibraw, Pilkada Kota Malang, musibah yang terus terjadi di Malang dan daerah-daerah lain di Indonesia, dan masih banyak lagi”.

 

Setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita dapat dijadikan ide menjadi sebuah tulisan. Beberapa hari lalu, saat berbincang dengan Mas Jamal, secara tiba-tiba saya mendapat ide untuk menulis setelah mendengar dia terus berucap “Syukurlah”.

 

Kembali kepada tema tulisan, ketika saya menyodorkan alternatif topik tersebut, Rama menjawab “Ah, otak dan pemikiran saya ndak sampe ke sana”. Jawaban yang saya yakin hanya bohong semata, maklum lah, kita tidak ngobrol langsung dan bertatap muka, tapi via YM. Dan seperti yang sudah kita ketahui, segala sesuatu dapat terjadi di dunia maya, setiap orang bisa berubah peran, berkata sesukanya, dan membalikkan keadaan. (mungkin) begitu juga dengan Rama, dia bercanda dan pura-pura ndak ngeh dengan topik tersebut.

 

Kenapa saya usulkan tema tentang jatuh cinta, ya karena setiap orang mengalaminya. Meski mungkin tulisan tersebut tidak untuk dipublikasikan, hanya sebagai pembelajaran saja, kecuali jika memang Rama atau Anda ingin berbagai indahnya kisah cinta yang pernah atau sedang dialami dengan masyarakat dunia maya. SPP Proporsional di Unibraw yang memberlakukan nominal SPP berbeda antara mahasiswa dari keluarga kaya dan kurang mampu, cukup layak diangkat menjadi sebuah tulisan, sebab rencana pemberlakukan konsep tersebut sempat mendapat penolakan dari mahasiswa.

 

Selain itu, meski SPP Proporsional berangkat dari prinsip keadilan, proses untuk menentukan mahasiswa X termasuk golongan kaya atau kurang mampu juga tidak mudah dilakukan. Nah, Rama yang bergelut di dunia pendidikan, tentu lebih memahami dan mungkin memiliki masukan serta solusi praktis dan cerdas agar SPP Proporsional dapat diterapkan dan sukses.

 

Begitu juga dengan Pilkada. Setelah Batu, Kota Malang sebentar lagi akan segera menghelat proses demokrasi tersebut dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai warga Malang, Rama mungkin memiliki harapan sosok pemimpin ideal yang seharusnya dipilih masyarakat. Atau, mempunyai koreksi terhadap pembangunan dan kebijakan yang sudah diterapkan di kota ini,sehingga para calon wali kota dapat membenahinya ketika mereka terpilih nanti.

 

Tentang musibah, sebagaimana Anda ketahui, beberapa daerah di Indonesia dilanda musibah yang sama, banjir. Rama, atau siapapun bisa mengusung tema banjir untuk dijadikan tulisan. Mungkin tidak melulu sebagai sebuah tulisan yang menghujat dan menghakimi pemerintah karena penanganan pasca bencana yang kurang optimal atau pencegahan yang seharusnya dapat dilakukan tapi tak pernah dilaksanakan. Tapi tulisan yang mengajak masyarakat untuk sadar menjaga lingkungan, mengedukasi masyarakat agar berani meminta, ‘berteriak’ dan melakukan control kepada pemerintah agar benar-benar melaksanakan program yang terkait dengan lingkungan dan pembangunan infrastruktur sehingga dapat mencegah atau meminimalisir musibah seperti banjir.

 

Yang jelas, banyak tema yang layak dan menarik untuk ditulis. Kita hanya dituntut untuk lebih ‘melihat, mendengar, dan merasakan’, sehinga dapat berempatik dengan setiap kejadian. Bukan hanya cuek dan mementingkan urusan pribadi.

****

 

Jika boleh bercerita, saya (dulu) bukan termasuk orang yang suka menulis. Menulis diary pun (aktivitas yang banyak dilakukan kaum remaja, khususnya perempuan) juga jarang saya lakukan. Menulis materi dan tugas mata kuliah, saya malas melakukannya (yang ini jangan dicontoh ya?!). Yang jelas, saya tidak suka dan tak bisa menulis. Menulis dalam arti harfiah melakukan aktivitas penulisan dengan pensil dan pena, atau menulis yang berarti sebagai ungkapan pemikiran, ide, dan opini tentang sesuatu.

 

Tapi jangan ditanya kalau disuruh untuk ngomong, berbicara, berpidato, dan apapun istilah lain untuk kegiatan verbal, saya tidak akan pernah menolak. Saya paling suka menjadi moderator diskusi di kelas, sampai dijuluki ratu diskusi. Rekan-rekan juga lebih senang saya jadi moderator, sebab saat menjadi audiens saya pasti menjadi penanya aktif (eits, saya tak bermaksud mengajak Anda untuk menilai bahwa saya orang yang analitis. Alasan saya aktif bertanya hanya untuk mengumpulkan poin penilaian dosen saja kok, he3).

 

Saya juga sering menjadi corong alias pembicara di kelompok, sebagai barter saya tidak ikut mengerjakan atau menulis tugas. Pernah, saya terlambat masuk kelas padahal kelompok saya sudah diminta melakukan presentasi di depan. Saya masuk dan langsung duduk di kursi di depan kelas, mempresentasikan tugas yang belum saya baca. Alhamdulillah sukses.

 

Contoh di atas bukan bertujuan untuk menonjolkan diri. Karena kemampuan saya sebenarnya memang tak se-wah apa yang saya tulis. Saya berani berbicara karena saya termasuk tipikal orang yang cuek, nekad, dan mungkin ngeyel-an (he3). Nah, sayangnya tipe orang seperti saya ini cukup banyak di Indonesia. Pintar ngomong, tapi tidak bisa (baca: tidak mau) menuliskan apa yang dibicarakannya secara sistematis. Padahal tulisan adalah bukti dan dokumentasi otentik sepanjang masa (duileee), dan dapat dijadikan bahan referensi oleh orang lain. Bagaimanapun, otak yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia memiliki keterbatasan. Manusia tak selamanya dapat mengingat ilmu, teori, dan pengetahuan yang dimiliki. Nah, lewat tulisan lah dia bisa berbagi dan mengabadikan ilmunya.

Menyadari tidak bisa menuliskan ide dan pemikiran, diam-diam saya berusaha untuk belajar menulis. Mulai dari mencoba menuliskan setiap detil peristiwa yang saya alami sehari-hari dan berusaha membuat konsep tulisan serius seperti yang biasa dimuat di media massa. Ini saya lakukan saat saya duduk di semester lima atau enam (saya lupa). Sayangnya, saya bukan orang yang telaten dan langsung putus asa, begitu saya tak menghasilkan karya satu pun. Bagi saya, menulis merupakan pekerjaan berat dan tak mungkin saya lakukan.

 

Sampai kemudian saya ngiri dengan prestasi rekan-rekan di HMI yang tulisannya dimuat media massa. Saat saya membaca artikel mereka, saya merasa tema yang diangkat biasa-biasa saja, alias saya merasa saya dapat menuliskannya. Atau, terkadang tema tersebut sebenarnya juga pernah terlintas dalam pikiran, namun tak kunjung saya realisasikan dalam sebuah tulisan. Anda tahu bagaimana reaksi saya kala itu?

 

Saya hanya berkata “Ah, kalau begini saya juga bisa. Dia aja lebih dulu ngirim ke Koran”. He3, kalimat ini adalah pernyataan yang sering dilontarkan mereka yang gampang merasa iri dengan prestasi atau kesuksesan orang lain, namun tak pernah berusaha untuk mencapai dan menggapai prestasi tersebut. Rasa iri tak selamanya negatif, jika kita mencoba mengalihkannya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, iri akan berubah menjadi racun mematikan yang dapat merusak diri di kala kita terus menyimpan dan bahkan menyiramnya hingga tumbuh subur.

 

Dalam perjalanan aktivitas di HMI, saya kemudian terpilih menjadi pejabat Ketua HMI Komisariat Psikologi. Ego sebagai ketua sempat menggelitik dan menantang saya untuk dapat menghasilkan tulisan atau artikel yang dimuat di Koran. Sekali lagi sangat disayangkan, lagi-lagi saya tidak berhasil menyelesaikan setiap artikel yang saya tulis. Hingga suatu hari, saat kami sedang promo HMI kepada mahasiswa baru di samping pintu gerbang masuk UMM, Jamil –anggota yang notabene adik tingkat- menunjukkan artikelnya yang dimuat di harian pagi Malang Post. Temanya amat sangat sederhana, bahaya merokok.

 

Bukannya saya memuji dan membuatnya bangga, saya kembali berkomentar “Ah, aku juga bisa nulis yang begini ini”. Saya kembali melakukan mekanisme pertahanan diri (meski salah). Hanya, peristiwa kali ini lebih membekas dibandingkan saat saya melihat artikel teman-teman se-angkatan. Membekas, karena saat itu saya sudah mau lengser dari ketua dan sedang bingung memikirkan aktivitas apa yang akan saya jalani setelah itu. Wah, wah…gejala post power syndrome neh.

 

Karena itulah, tanpa sepengetahuan teman-teman komisariat, saya ikut diklat jurnalistik yang digelar oleh harian pagi Malang Post. Saya belajar teori jurnalisitik dari nol, mengikuti program magang yang ditetapkan, dan tentu saja ‘dengan terpaksa harus menulis’.Diklat tersebut ternyata tidak sia-sia, paling tidak saat ini saya bisa mengungkapkan ide dan pemikiran melalui tulisan.