Manajemen Cinta


Allah SWT tak hanya memberikan anugerah akal kepada manusia, tapi juga ragam emosi dan rasa yang menjadi penyeimbang logika. Ada cinta, benci, marah, takut, berani, khawatir, senang, dan sedih, yang dimiliki individu dengan kadar berbeda-beda. Maklum, Tuhan sengaja menyiapkan ramuan dan racikan yang tak sama, karena perjalanan hidup masing-masing hamba-Nya berbeda. Satu hal yang pasti,“Racikan” itu tentulah yang terbaik menurut kacamata Tuhan, tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan, mengontrol, dan memanaje agar tidak melenceng dan menyalahi aturan.

Nah, yang terakhir ini tak mudah dilakukan, bahkan tak jarang seseorang berlaku tak adil dengan terlalu ‘mengumbar dan royal’ pada satu jenis rasa dan emosi. Saat merasa senang dan bahagia, ia begitu menikmatinya sehingga lupa dengan segala hal. Tak ingat bahwa di suatu masa ia pernah merasa sangat sedih hingga tak ingin membuka mata dan melihat dunia.

Begitupun ketika merasakan cinta, ia akan memberikan dan melimpahkan sejuta cinta seluas samudera, tanpa batas. Namun tatkala benci datang mengambil alih, muncul rasa dendam yang membutakan mata hati. Sesuatu yang benar, akan selalu tampak salah di matanya.

Memanaje rasa dan emosi memang tak gampang dilakukan karena terkait erat dengan subyektifitas dan persepsi yang dipunyai tiap individu. Ya, maunya sih bersikap seimbang, tapi seimbang menurut siapa?

Dulu, saya pernah merasa kurang simpati dengan KH Hasyim Muzadi. Padahal saya tidak mengenal beliau, belum pernah bertemu, apalagi berbincang langsung. Rasa kurang suka itu tentu tidak muncul begitu saja, tapi karena kelemahan saya dalam menyaring setiap informasi yang muncul dan keteledoran dalam memilah mana yang benar, mendekati benar, sedikit benar, tidak benar, hingga info yang sarat akan kebohongan dan fitnah.

Kesalahan itu diperparah dengan sikap saya yang memberlakukan dan menilai seseorang dengan standar ‘ala saya’. Anda yang sudah mengenal atau paling tidak mengikuti ceramahnya, pasti tahu gayanya yang kalem. Gaya yang menurut saya (waktu itu) kurang tepat dimiliki seorang pemimpin yang seharusnya tampil penuh semangat, berbicara tegas, lantang, dan berapi-api.

Rasa kurang suka, bila dipupuk akan memunculkan antipati, bahkan sebelum seseorang tersebut berbuat sesuatu, kita sudah melakukan justifikasi. Begitu pula yang terjadi saat saya mendatangi silaturahim alumni Gontor di Pesantren Al Hikam (saya lupa tahunnya, yang jelas saya masih mahasiswa ‘imut’, hehe3…). Hadir pada waktu itu Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid, dan alumnus lain. Mereka yang notabene pemimpin partai dan ormas, menyapa kami (untuk tidak mengatakan ceramah/pidato), dan saat itulah saya tahu penilaian terhadap Pak Hasyim sebelumnya salah kaprah.

Menguasai forum, tak selamanya harus dilakukan ala orator, tampil lembut tapi tepat, ternyata juga efektif untuk mengarahkan, mengendalikan dan menarik perhatian massa.

Yach, ini hanya satu contoh dari banyak lainnya. Yang paling gampang adalah kelemahan dalam memanaje rasa benci dan cinta terhadap orang yang pernah atau sedang singgah di hati. Coba Anda hitung berapa banyak pasangan artis yang saat ini saling caci, hujat menghujat, hingga membuka aib mantan pasangan setelah berpisah. Padahal sebelumnya, mereka mengumbar kemesraan dan rasa cinta seakan tak pernah habis apalagi berkurang.

Karena itulah saya percaya ‘cinta itu buta’ sebesar keyakinan saya bahwa ‘benci itu juga buta’.

Anda mungkin pernah menemui (atau merasakan sendiri), seseorang akan membenarkan apa saja perkataan orang yang dicintainya, meskipun terkadang itu sesuatu yang salah. Ia juga ‘mendadak’ menyukai segala macam hal yang disenangi orang terkasih. Yang tidak suka sepak bola, secara drastis berubah menjadi ahli dalam persebak bolaan dan komentator ulung. Yang buta IT, rela pusing mempelajari teori dan kalimat memusingkan demi menyenangkan orang terkasih. Ada saatnya, hati nurani mencoba mengingatkan, tapi tetap kalah dengan rasa dan emosi cinta yang meruah.

Benar juga hadits yang menyatakan, “Kecintaanmu pada sesuatu itu membuat buta dan tuli”. حبك للشئ يعمي و يصم

Sebaliknya, ketika marah dan benci menjadi penguasa emosidan mengalahkan akal serta logika, akan membuat segala hal yang baik dan bagus sebagai cela. Kejujuran terlihat sebagai tipu daya, keikhlasan pun tampak seperti rasa pamrih, hingga rasa cinta dianggap sebagai wujud benci dan penghinaan.

وعين الرضا عن كل عيبٍ كليلةٌ

كما انّ عين السخط تبدي المساويا

“Pandangan mata orang yang meridhai menjadi tak berdaya terhadap setiap aib

Sebagaimana pandangan orang yang marah akan memunculkan berbagai keburukan”

Adil memang milik Tuhan, tapi berusaha untuk berlaku adil hak semua insan. Meskipun memerlukan proses dan latihan panjang tak kenal lelah, kita tetap harus terus mencoba bersikap adil dalam hal cinta, benci, marah, senang, bahagia, dengan memanaje dan melakukan kontrol emosi dan tidak mengikuti ajakan hawa nafsu.

Cinta (selain) Cinta


Bicara cinta sama susahnya seperti bicara tentang Tuhan,
sebab cinta memang bukan untuk jadi bahan pembicaraan,
tapi dirasakan, dinikmati manisnya
diresapi pahitnya…

Begitu juga dengan Tuhan,
tak pernah meminta umat-Nya
untuk selalu berkata ‘aku mengingat-MU’
Aku Mencintai-Mu…
dengan suara lantang
tapi melalui pembuktian sikap dan perilaku


****

Aku menulis ini di blog FS, menjelang subuh diiringi lagu “Menjaga Hati-nya” Yovie-Nuno. Bukan karena sebelumnya mendengarkan lagu ini bersama cinta, bukan!. Lagu ini sudah masuk playlist-ku sejak diluncurkan dan populer.

“Biarkan aku menjaga perasaan ini,
menjaga segenap cinta yang tlah kau beri
Engkau pergi, aku tak kan pergi
Kau menjauh, aku takkan jauh..
Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

Andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati… “

Lagu ini enak didengar, makanya jadi hits, top request, dan banyak dipilih sebagai nada sambung pribadi,terlepas dari program kuis radio di Malang yang mewajibkan peserta untuk mengaktifkan lagu ciptaan Yovie ini sebagai NSP, agar dapat memenangkan tiket lunch bareng mereka. Aku termasuk penyuka “Menjaga Hati”, yang mungkin dengan serius berkata dan meyakini “Wah, ini lagu gue banget!”.

Gue banget, karena ditinggal dan kehilangan cinta. Walau mungkin kata-kata “ditinggal dan kehilangan” kurang pas untuk menggambarkan situasi sebenarnya. Karena cinta tidak pernah tinggal, bagaimana ia bisa pergi dan meninggalkan? bahkan tak pernah ada cinta, lalu bagaimana dapat kehilangan?
Membingungkan dan rumit.

Cinta, datang dan pergi tanpa diminta. Ia memiliki independensi tanpa batas, tak dapat dikekang, diperintah, apalagi diintervensi.

Cinta mempunyai kekuatan luar biasa. Menjadikan seseorang sebagai sosok dan karakter lain (positif atau negatif), jauh dari bayangan, nalar, dan logika.

Sampai saat ini aku meyakini cinta sejati selalu membawa kebaikan dan perubahan positif (seperti di tulisan sebelum ini, anugerah yang sebenarnya adalah cinta yang dapat membawa cinta lebih besar kepada-Nya).

Saat cinta berkata “Sudah terlambat, too latE!! kenapa tidak dari dulu-dulu?”, itu berarti tak ada kesempatan untuk mencinta.

Haruskah dipaksa? tentu tidak. Sebab cinta bukan pemaksaan, cinta adalah kerelaan, keikhlasan. Rela mencintai, maka harus ikhlas untuk tak dicintai.

Cinta membebaskan individu untuk mendapatkan cinta lain yang mungkin lebih besar, indah, dan, memang diciptakan bagi dua pecinta agar saling berbagi kebahagiaan, kesedihan, dan setiap peristiwa yang terjadi dalam jutaan detik perjalanan kehidupan.

Cinta bukan hukuman bagi para pecinta untuk terus “menjaga hati”, sendiri, selamanya seperti sepenggal lirik lagu di atas.

Seperti janji Tuhan Yang Esa, ‘fadzkuruuni adzkurkum’, maka ucapan “Aku mencintaimu” selalu akan dijawab “Aku lebih mencintaimu”. Itulah cinta sebenarnya…
****

Tulisanku penuh dengan kata cinta, karena baru saja berbincang dengan cinta.
Namun bukan karena menyukai lagu Menjaga Hati, maka aku, kamu, atau dia, harus terus mempertahankan cinta yang terhenti setelah ucapan “Aku mencintaimu” tanpa jawaban, tanpa harapan.
di luar sana, ada banyak cinta yang terus menebar harapan, menunggu jawaban…

Nah, berarti aku kurang mencinta?
Tentu Tidak. Jangan pernah meragukan dan menganggap cintaku sebagai cinta mainan, apalagi bohongan. Cinta, bukan permainan.
Hanya, sebuah kesadaran menyeruak, jika berkeras mempertahankan cinta, maka aku tak akan menjadi diriku sendiri. Berubah menjadi sosok pemaksa, egois dan menyebalkan, menjadi pribadi lain yang akan aku benci, hingga melahirkan kebencian kepada cinta.

Cinta…
Sebelum kebencian datang,
bantu aku untuk mendapatkan cinta…(lain)….

***newest:
cinta kembali datang menyapa…
sayang…
ia bukan lagi cinta yang kupuja
yang kepadanya aku menaruh asa
 
“Jangan pernah (lagi) ada asa
maaf…”