Pintu Rezeki Allah SWT


dewi_yuhana_chocolateRezeki menjadi salah satu topik diskusi kami malam itu di Melati Restaurant, Tugu Hotel Malang yang cukup dekat dengan tempat kerja. Saya datang telat karena masih harus melihat lay out halaman, memastikan halaman lain selesai dan tidak ada kesalahan. a night routine activity. Saya bisa berjalan kaki ke resto itu dan sampai di sana tak lebih dari 5 menit, tapi membayangkan harus balik lagi ke kantor setelah acara obrolan  selesai, yang tidak tahu jam berapa, saya melaju dengan motor kesayangan.

Melati resto itu one of my fav hotel resto in Malang dan saya bisa merekomendasikan ke siapapun unconditionally, padahal juga nggak dapet fee ataupun royalti, hahaha. Menu-menu di sana wow punya dengan, rasanya yummy dan disajikan dengan konsep yang juga wow. Meskipun begitu, saya harus jujur kalo harganya juga wow untuk ukuran kantong saya saat ini. Nggak tahu untuk setahun lagi -wallahu a’lam wa amin, hehehe. 

Malam itu, di weekdays loh, suasana Melati resto sangat ramai, semua kursi penuh dengan pelanggan mulai dari meja di dekat pintu masuk, meja di dekat swimming pool. Dari yang terisi 5-8 orang per meja, sampai dengan meja yang diatur panjang berisi lebih dari 20 orang di tengah resto. Saya masuk belok kanan menuju meja paling pojok di ruang yang saya lupa namanya. di sanalah meja kami dipesan sebelumnya. 

Teman-teman sudah memesan menu, they just waited the orders to come while I looked at the brown menu book ignoring  main course list and then choosed lava chocolate and bandrek -sweet, hot and spicy drink from sundanese people. Siang hari saja saya memilih minum panas, apalagi malam hari. “Mas, bandreknya yang pannnnnaaas banget ya!” kata saya menekankan order ke waiter yang mengangguk sambil tersenyum ramah. 

Saya lalu mendengarkan obrolan yang berlangsung, semacam cross chat sih, karena tak ada tema pasti. Tapi yang jelas salah satu bahasan malam itu ya tentang rezeki. Bagaimana kita harus menjemput rezeki, mempersiapkan diri dengan baik sehingga sudah benar-benar siap ketika Allah SWT membuka pintu-pintu rezekiNya untuk kita. Ya, di umur segini, yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, saya memahami betul jika rezeki itu tak bisa ditunggu untuk datang dengan tiba-tiba, apalagi tanpa perjuangan dan kerja keras.

“Tapi ketika Allah SWT sudah membuka pintu rezekiNya untuk kita, siapapun tidak bisa menghalangi. Manusia menutup pintu rezeki kita, Allah tetap akan membukakan yang lain,” kata teman saya yang lain.

Saya langsung mengiyakan pernyataan teman saya karena  pernah merasakannya sendiri. Beberapa kali orang menghalang-halangi dan menutup pintu rezeki saya, tapi Allah membukakan pintu lain dengan lebih lebar. Dulu sekali, saya mendapatkan undangan dari mitra -yang saya bangun dari nol- untuk menghadiri sebuah even di Bali. Undangan personal via phone sudah disampaikan, saya juga meminta undangan tertulis di-fax ke kantor. Nama saya sangat jelas tertulis di sana, tapi eh tapi, ternyata keputusan berkata lain. Ada teman lain yang berminat berangkat, menghadap kepada pemegang keputusan untuk meminta undangan tersebut, dan kok ya diperbolehkan. Saya protes, tapi percuma.

Gimana rasanya disabotase? sakit hati lho. Tapi ya itu, pintu rezeki Allah itu banyak, Dia bisa membukanya dengan gampang kapan saja untuk siapa saja yang dikehendaki. Sore hari sakit hati, malamnya saya mendapat telepon dari relasi lain mengabarkan sebuah ajakan kerjasama, yang jika dinominalkan lebih besar dari apa yang saya peroleh ketika menghadiri undangan di Bali…and Allah provided for me from where I didnt expect.  

Masih ada pengalaman lain. Juga bertahun lalu. Kali ini saya harus menghadiri sebuah undangan konser besar dari mitra lain, jika saya tidak lupa, acaranya juga di Bali *aduh, ada sih dengan Bali? hahahaha. Saya sudah memberikan nama, nomor KTP dan mereka pun  menyiapkan tiket pesawat dan booking hotel sesuai nama saya. Did you know? sehari sebelum keberangkatan ada lagi yang ingin membatalkan keberangkatan saya -kali ini datang dari golongan petinggi hehehe-, meminta orang lain yang berangkat. Mau nggak mau, ya harus merelakan kesempatan itu. Tapi Allah memang benar-benar sayang sama saya kok, menggantikan kesempatan yang hilang dengan hal lain yang lebih berharga.

Bahwa, bekerja dan berbisnis itu harus bersinggungan dengan orang lain memang tak bisa dihindari. Tugas kita adalah tetap melakukan yang terbaik, menikmati proses dan meyakini hasil akhirnya pun akan menjadi yang terbaik. Remember this ayah, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haisu la yahtasib…

…and who ever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide for him from (sources) he does not expect… 

Suporter


Siang tadi ada telpon tak terduga, @my old flexi number, yang ON cuma untuk kasih tau temen2 my nu number.  Suara pria, agak familiar tapi susah diinget. Maklum deh, terima telponNa sambil setengah sadar karna ngantuux berat.

“Lagi tidur ya Bu?”

“He-eh nich”

“Mumpung di Malang, say hello plus dapet tugas dr mbak Anik bwt nengokin dewi. Percaya sih, klo dewi bisa jaga diri, cuman si mbak mo tau dewi udah bernyali apa belum?”

“EH….? dasar!” 😆

Baca lebih lanjut

Jualan Puls@


Setiap peristiwa selalu memiliki hikmah. Gusti yang Maha Agung tak akan pernah membiarkan hamba terkasih merana. Paling enggak, aku merasa begiitu disayangi dan dirahmati oleh Sang Pencipta Alam Semesta dari setiap hal yang aku rasakan dan aku alami.

Beberapa waktu lalu, hapeku (GSM) terjatuh dan terlindas mobil, langsung ringsek. Keesokan harinya aku memutuskan untuk membeli penggantinya. Saat pemilik counter mengantarkan hape ke kantor, iseng aku menanyakan apakah dia bisa menyelematkan memory telpon, SMS, dan pic yang tersimpan di hapeku yang sedang sekarat. Karena setelah insiden hape terlindas mobil itu aku baru sadar, ternyata semua nomor telpon teman dan relasi aku simpan di memory hape, bukan simcard.

Mendengar permintaanku, dia tidak bisa menjanjikan, tapi tetap membawa hapeku yg sudah penyok. Keesokan harinya, aku mendapat kabar klo semua memory bisa diselamatkan. bahkan, hapeku bisa difungsikan lagi dengan mengganti komponen (yang aku nggak ngerti dan ndak mau tau apa itu). Alhamdulillah, hape itu bisa selamat. Duh, senengnyaaa. Maklum, hape itu pemberian dari seorang relasi setahun lalu, saat dia merasa kasihan melihatku sangat ‘nelongso’ setelah kecopetan hape.

Sebagai sebuah pemberian, hape itu tentu sangat memiliki makna. Jadi sejelek apapun keadaannya, aku bakal berusaha untuk tetap ‘menghidupkannya’. Untuk mengingatkanku, bahwa di suatu masa, masih ada seorang yang respek dan percaya kepadaku.

Setelah selesai perbaikan, ternyata hapeku memang bener2 bisa hidup. Oh, Allah bener2 begitu menyayangiku. Sekali lagi, Alhamdulillah…..

****

Nah, jumat malam, Ervin, salah satu temen ngajakin makan di Pulosari. Dari perbincangan iseng saat aku menanyakan bisnis counternya, aku memutuskan untuk mendayagunakan hapeku untuk jualan pulsa, wkekekekek… jadi pedagang nich… 😉 😉 😛