temannya temanku


beberapa waktu lalu ada temannya temanku yang memberikan apresiasi dan aplaus panjang padaku, dewi atau yang biasa dipanggil hana oleh sebagian orang, hanya karena melihat salah satu koleksi buku yang terpajang rapi di lemari. persepsinya terhadapku langsung berubah. “hebat!!, dewi punya koleksi buku keren. itu kan buku langka, sejarah! bukan hanya isinya tentang sejarah Indonesia tapi buku itu memang benar-benar kuno, mahal!! mendekati satu juta!”

begitulah ungkapan hiperbola yang dikatakannya kepada temanku. aku yang mendengar kekaguman temannya temanku itu langsung spontan ngakak, huahahahaha….tawaku benar-benar lepas tak terkendali. hah! belom tau dia, buku itu memang ada di lemariku, tapi bukan milikku. aku menghormati sejarah, mengagumi apa yang sudah dilakukan para pahlawan, dan mengapresiasi para musuh (loh kok?!. ya iyalah, kalo nggak ada musuh, maka tak akan pernah ada pahlawan yang mengharumkan nama bangsa to… 😀 ), tapi kalo disuruh membaca buku dengan bentuk yang kurang eye catching itu, aku akan langsung ngantuk.

tapi bagaimanapun juga aku harus mengapresiasi pemilik buku yang sudah memaksa meminjamkan buku tulisan tokoh komunis itu, tentu saja dengan membacanya. halaman demi demi halaman,  satu per satu, meski harus selalu diselingi dengan tidur di tiap lembarnya 😀


Copy Paste…Pembajakan Karya


“Kalau ketemu, saya akan tampar mukanya!!!. Biarin dilaporin ke polisi, akan saya laporkan balik. Rasanya sakit sekali hati ini, kok ada orang seperti itu!”

Kalimat tadi diucapkan ibu saya di Malang beberapa hari lalu. Whew!!, cukup kaget mendengarnya. Karena ibu saya termasuk sosok sabar dan lemah lembut, yang tak akan mau mengotori tangannya untuk melakukan perbuatan kasar seperti ‘menampar’. Ups! tunggu dulu…bukan tanpa sebab jika ibu saya mwaarrrah sekali. Ia marah karena kesal dan sedih dengan perilaku oknum-oknum di Departemen Agama yang tak hanya memalukan instansi, tapi juga merendahkan martabat dirinya sendiri.

“Kurikulum Bahasa Arab yang dibuat bapak, dibajak oleh oknum Depag. Kurikulum Bahasa Arab untuk SMA, diganti untuk MA. Lha bapak yang bikin, ya pasti tau kalo karyanya di-copy paste. Karena ada beberapa poin yang lupa diubah, dasar ndak tau malu!”

“Waduh, kok githu to bu?, kenapa mereka nggak gentle saja sih? mengajak kerjasama bapak, kurikulum dipake tapi legal. Lagian, pastinya ada dana untuk itu kan?”

“Wah, bukan nggak hanya ada dana, tapi disiapkan DANA BESAR di divisi Madrasah Development Center (MDC)”

“Lha dalah!!, trus bapak gimana? diam aja??! Uuuuuh, kalo aku udah mencal-mencak tuh. HARUS DITUNTUT!!”

“YA mau gimana lagi Wi. Kadang yang ngebuat kayak githu ya teman kita sendiri, kita masih mencoba menjaga nama baik semua. Lagian nanti bikin masalah terlalu panjang, males ngurusin yang kayak gini,” kata bapak menimpali.

Jika kurikulum buatan bapakku (bapak di Malang 😉 ) dibajak, ada teman bapak  yang merasa lebih kecewa dan gelo. Depag pernah membuat sebuah lomba menulis buku tentang bahan ajar Bahasa Arab. Menurut juri, buku karya teman bapak layak untuk diterbitkan. Namun realitanya buku karya peserta lain lah yang akhirnya muncul. Dan tahukah Anda? isi buku tersebut sebenarnya adalah hasil karya teman bapak yang dirombak di sana-sini.

“Bisa dibayangkan hasilnya? malah AMBURADUL!!, saya ndak mau pake buku itu untuk bahan ajar,” kata Ibu.

duh, Indonesiaku…..

“Membiasakan” Kewajiban, Menghilangkan Beban


“Sesungguhnya salatku…hanya untukMu”

Berbuat kebajikan, melakukan hal positif dan menjalankan “sesuatu yang benar” menjadi pekerjaan mudah. Yupz!,mudah bangets. Tapi…..(loh, kok pake tapi…?) bagi mereka yang memiliki sikap bijak dan perilaku baik, yang tak pernah terbebani dan merasa berat saat melakukannya. Berbuat baik dan melakukan yang benar layaknya aktivitas minum dan makan, namun bagi sebagian lainnya…..ehmm….bagaikan paksaan untuk minum obat! beraaaat……. 😀 (termasuk saya nih, agak berat berbuat baik. Huehehehe…kalo Anda baca tulisan sebelum revisi ini, bukan bermaksud sombong, tapi tadi menulis pas ngantuks githu 😉 ).

Jika saya (pasti) merasa haus dan lapar saat melewatkan jam makan dan kurang minum, maka si orang baik akan merasa bersalah dan berdosa bila melewatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Saya pernah bertanya kepada salah satu “spiritual teacher” saya, yang doyan banget membaca. “Apa nggak pernah merasa bosen, tiap waktu kok baca buku?”

“Bosan? Nggak. Malah aneh dan muncul rasa bersalah kalau sehari saja tidak menambah halaman buku untuk dibaca?”

“Sama sekali ndak bosen?, lha dewi aja yang doyan ngemil kadang juga bosen loh…(maksudNa, karna kecapean ngemil terus….:D 😆 )” Baca lebih lanjut