Aku dan Dia


Aku bertemu denganMu, sekali lagi, dalam pikiran liarku. Kembali berhadapan denganMu, bercengkerama, bercanda, bahkan saling mengolok. Uh, ya, aku memang kurang ajar dan tak tau sopan santun. Itu bukan masalah bagiMu. Karena Kau paling mengerti, memahamiku. Luar dalam. Bahkan untuk hal-hal yang aku ingkari keberadaannya.

Berbeda dengan biasanya, kali ini aku tak banyak meminta, tak ada permohonan khusus, hingga Engkau bingung dan menanyakannya kepadaku. “What happen aya naon Dew?! say it!”

Baca lebih lanjut

Permohonan dan Doa


(jika) Anda CEO, Direktur Utama, atau General Manager sebuah perusahaan. Kira-kira, apa yang Anda rasakan saat mendapati anak buah Anda menghadap dan mengajukan beberapa permohonan seperti di bawah ini.

“Tuan, saya mohon Engkau menaikkan gaji kami,  karena harga-harga bahan pokok meningkat, semakin mahal, sedangkan kebutuhan tetap sama. Jauhkan kami dari kesengsaraan karena tak mampu membeli makan, bantu keluarga kami dengan kekuasaan yang  Engkau miliki. Bantu kami Ya Tuanku”.

Bila Anda termasuk pribadi yang dermawan, ramah, dan suka menolong, pasti akan menanggapi permohonan itu dengan tenang sembari berempati dengan apa yang mereka rasakan. Mungkin Anda tidak langsung menaikkan gaji karena kondisi internal dan eksternal tidak memungkinkan untuk membuat kebijakan tersebut. Tapi paling tidak, Anda akan mengulurkan bantuan kepada anak buah yang sangat membutuhkan bantuan itu. Baca lebih lanjut

Aku dan Tuhanku


        Setiap pagi, Tuhan memberiku kesempatan untuk berdialog dan mengajukan satu permintaan khusus yang akan Dia kabulkan. Memang sich, tidak saat itu juga terealisasi seperti hasil sulap yang “abrakadabra!” lalu wussss….dapat memunculkan sesuatu di depan mata, meski aku tahu jika Dia berkehendak mewujudkan sesuatu, cukup dengan “Kun Fa Yakun!”, maka apapun itu akan muncul dan terjadi dalam sekejap, sebelum mata berkedip, secepat kilat.

Tapi…

Kun Fa Yakun milik Tuhanku tidak untuk menjadikan hamba-Nya malas dan manja,

tidak untuk menciptakan manusia peminta yang tak pernah berusaha,

pun bukan untuk melahirkan individu yang hanya mengandalkan doa,

apalagi sosok cengeng yang gampang putus asa.

        Kun Fa Yakun milik-Nya adalah pelajaran dan proses yang melaluinya aku dituntut untuk dapat merealisasikan semua yang aku inginkan, impikan, dan cita-citakan, dengan usaha dan perjuangan, panjang dan tak kenal lelah.

Tapi aku bukan malaikat,
karena aku tahu arti lelah sekaligus dapat merasakannya.
Memahami kata jenuh sebanyak aku dibingungkan oleh kejenuhan.
Menjadi cengeng dan amat berharap agar Dia berkata “Kun Fa Yakun!”
agar…
perasaan itu tetap ada
atau hilang….

***

Pagi ini, kembali aku mengajukan satu permohonan.
“Tuhan, beri hamba-Mu kemampuan untuk mengontrol perasaan”.

    “Kemarin kau meminta bantuan agar dapat mengontrol emosi. Sekarang, perasaan?”.

    “Iya”

    “Bukannya aku tak bisa dan tak mau. Kamu salah satu hamba tersayangku. Tapi…”

    “Wuiih, terima kasih Tuhan. Makanya dunk, buruan dikabulin ya…iya….ayo duunkkk, GPL!”

    “GPL?!!ngomong sama Tuhan kok pake bahasa singkatan, ndak sopan kamu!”

    “Eh, inggih Tuhanku….nyuwun pangapunten…maaf…tapi permintaan hamba tadi bisa dikabulkan ya..”

    “Begini, ngomong Ya, bagiku gampang sekali. Sebelum itu aku ingin kau tahu kalau aku senang saat melihatmu mampu mengontrol emosi, yang menunjukkan kamu semakin dewasa dan matang. Bahwa kamu tak semata-mata menggantungkan perubahan tersebut kepadaku, sebab kemampuan mengontrol dan memanaje emosi bukan hanya hasil doa, melainkan buah daril usaha dan latihan. Nah, tentang permintaanmu untuk dapat mengontrol perasaan? ehmm…Dewi…….emosi dan perasaan adalah sesuatu yang berbeda. Kali ini aku tak akan menjawab doamu, seberapa sering kau berdoa, dan berapa lama kau bersujud, tak akan mempengaruhi keputusanku”.

    “Waduuuh, perasaan itu hampir sama kayak emosi..udah dech, langsung dikabulin aja, ga pake penjelasan panjang lebar”

    “Wekz, anak nakal!!, dikasih tau kok bandel. Rasa dan perasaan adalah sesuatu yang alami, ia muncul dan lahir dengan sendirinya, tak dapat kau minta sesuai kehendak. Yang harus kau tahu, sifat alami itulah yang sebenarnya membantumu untuk belajar lebih dewasa dalam berpikir dan berperilaku”

    “Ya TUhaaaaan, aku mendengarkan kok!. Permintaanku dikabulkan kan? Jangan mengakatakan ENgkau tak sanggup mewujudkan. Karena ENgkau adalah Sang Maha, Laa Ilaaha Illa Anta, jadi..tak ada kata tidak bisa kan dalam kamus-Mu?” Baca lebih lanjut