Resensi N5M dan NS


Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar” [N5M]

Itu adalah status [atau note ya?] yang ditulis mas Fuadi di akun fesbuknya, Agustus lalu -kalo tidak salah. Banyak yang berkomentar, salah satunya saya. Komentar yang juga pengakuan kalo saya menangis setelah membaca kalimat itu. Swear ewer-ewer boom-boom, saya memang benar-benar menangis, sesenggukan, terharu, merasa tertampar, termotivasi, wes poko’e campur aduk dech.

Aneh ya?
Well, bagi sebagian [banyak] orang mungkin memang aneh. Tapi saya yang menurut beberapa teman termasuk sosok tegar [hallah!], memang gampang banget meneteskan air mata untuk hal-hal yang menyentuh. Termasuk kalimat itu.

Menyentuh?
Absolutely yupz! 😉 bagi saya. Ketika membacanya, saya sedang merasa hampa dan bosan dengan rutinitas *pernahkah kau merasa hatimu hampa…pernahkah kau merasa hatimu kosong…eh! lha kok jadi nyanyiin Hampa-nya Ungu :D. Kalimat itu terasa seperti baterai dan energi luar biasa yang mencoba me-recharge semangat saya untuk bangkit, kembali berani bermimpi, dan mewujudkannya.

Baca lebih lanjut

cintaku [saat ini, nanti, selamanya]


pernahkah  kamu mendustai hati
mengkhianati rasa cinta
menghilangkan, tak mau mengakui keberadaannya?
aku pernah.

itu dulu, saat cinta terasa seperti beban
kala sayang terlihat bagai tekanan
aku mengingkarinya
tak mau mengakui, apalagi mengingat
bahkan sedetik dalam mimpi

tapi tahukah kamu?
cinta tak akan pernah berhenti memberi
cinta tak akan pernah lelah mencintai
tak akan putus asa mengasihi
meski tak diakui, ia akan selalu hadir untuk menyadarkan hati

itu, itu yang dilakukan cintaku
beribu kali aku menolaknya
sejuta kali ia memberi
semakin aku tolak, semakin ia mencintai, lebih…

ah, aku tak bisa menghindar lagi
untuk bertemu dengannya
bernostalgia
sembari merenda kisah dan kasih masa depan

[eh, ini nich cintaku….pondok yang membesarkanku, yang keberadaannya akan selalu ada di hati dan sanubariku…]

hunny-aisyah21


Gedung Kuwait dan Haid


*Episode Masih satugontorputri*

Dibandingkan gedung lain, Kuwait selalu menjadi favorit untuk tempat belajar  di malam hari. Gedung dua lantai yang berada di bagian depan area Gontor Putri itu akan dipenuhi oleh santriwati. Ada yang menghapal sambil berjalan mondar mandir di depan gedung, ada yang duduk di dalam kelas, ada yang mengambil kursi dan menjadikan pagar di lantai dua sebagai meja belajar sekaligus bantal untuk tidur 😀 . Tak sedikit juga santriwati yang sengaja masuk ke ruangan KMI di lantai satu, menghadap ke ustadzah atau ustadz untuk sekadar bertanya pelajaran, mengobrol, atau hanya iseng memanggil.

Ustadzah dan ustadz, siapapun mereka, yang sedang berada di kantor KMI, akan siap sedia melayani berbagai pertanyaan. Menjelaskan, dan membimbing dengan sabar anak didiknya, yang mungkin terlelap tidur saat dia menerangkan pelajaran di kelas. Jika sekarang ini ada konsep one stop shopping, maka guru-guru di Gontor Putri memberikan one stop services kepada seluruh santriwati dari semua kelas, dengan ikhlas.

Aku, termasuk santriwati yang sering berada di area Gedung Kuwait. Sejak sehabis Isya sampai bel waktu tidur dipukul. Bukan, bukan untuk bertanya ke ustadz dan ustadzah tentang pelajaran yang belum kumengerti, tapi aku senang berjalan-jalan di sekitar Kuwait yang diterangi lampu ratusan watt sehingga dapat menghilangkan rasa kantuk, duduk di taman kecil depan gedung sambil melihat lapangan hijau dan pintu gerbang, sambil menunggu kantin dan koperasi yang berada di samping kanan gedung dibuka 😀
Jika ada banyak santriwati yang sengaja mengejar-ngejar ustadz atau ustadzah untuk bertanya, maka sebaliknya, akan selalu saja ada ustadz atau ustadzah yang mendatangiku dan bertanya “Dewi sedang belajar apa?”

“Ups! ini ustadzah,” kataku sambil menunjukkan buku yang aku pegang, yang seringkali aku sendiri lupa sedang membawa buku apa.

Suatu malam, sesudah bagian Ta’lim menutup pintu-pintu kamar, dan menyuruh semua santriwati belajar di luar kamar, aku berencana pergi ke Kuwati seperti biasanya.

“Dewi mau kemana?,” kata Nadi, salah satu temen di kelas III B, saat melihatku berbegas dengan dandanan rapi sambil membawa buku.

“Mau ke gedung Kuwait. Jalan-jalan, mo baca koran, kalo nggak males ya belajar”

“Loh, anti kan lagi dapet (baca: haid) to?

“Lah, emangnya kenapa?

“Eh, nggak tau peraturannya ya?

“Peraturan apaan?

“Yang lagi haid, nggak boleh jalan-jalan ke depan. Di sana banyak ustadz”

“Nah, nah. Apa hubungannya haid dengan ustadz?”

“Yaaaa…kan ketauan nanti Dew!”

“HAH?!! ketauan gimmmana?! emangnya ni lagi tembus ya…,” jawabku dengan nada terkejut, mata terbelalak, sambil spontan melihat ke bagian belakang rokku, dan tak kulihat bulatan merah di sana. Bersih, sebersih rok yang baru saja aku cuci. “Waduh, anti bikin kaget saja. Ketauan gimana sih maksudnya?”

“IYAA! ketauan kalo ente tuh lagi HAID!! kan keliatan to Dew!. Muka jadi kinclong, trus payudara membesar, wes pokoknya cewek yang lagi dapet pasti keliatan berbeda di mata cowok. Makanya nggak boleh ke Kuwait, ntar diliat ustadz kan malu”

Waduh. Mendengar penjelasan Nadi, sekali lagi, aku spontan melihat tubuhku.
Ah, masak iya sih, keliatan? Masak orang tau kalo aku lagi haid? Perubahan payudaraku? Aduuh, padahal sudah pake baju gombrong bin longgar gini. “Eh, emang keliatan ya?,” tanyaku khawatir.

Dengan gaya sok ahli, Nadi mengamatiku dengan seksama. Melihatku dari ujung jilbab (he3…bukan ujung rambut…) sampe ke ujung kaki. Tak hanya sekali, dia menegaskan pengamatannya lagi. Kali ini dari kaki, ke rokku, baju, muka, lalu tersenyum. “Ehmmmm….kayaknya sih keliatan. Tapi aku kan bukan cowok,” ucap Nadi sembari memegang dagu lancipnya.

“Waduuuuh…gimana sih??!. Padahal aku sering ke depan kalo pas dapet, trus kalo ada ustadz yang tau gimana dunk. hiks, hiks…..kan malu Nad….”

“Yaaa…anti sih. masak nggak tau kalo nggak boleh ke depan”

“Emang enggak tau. Lagian peraturan dari mana itu? Kok nggak tertulis, aku ya baru denger dari anti”{

“Itu dari ustadzah senior. Emang peraturan nggak tertulis sih, tapi semua orang tau kok, KECUALI KAMU!”

****

Sejak obrolan dengan Nadi saat itu, aku tak pernah lagi nekad belajar di Gedung Kuwait ketika sedang haid. Aku sendiri, tidak pernah mengkonfirmasi apakah peraturan itu memang ada, ataukah hanya akal-akalan Nadi untuk mengerjaiku. Maklum, gadis cantik asal Jember itu memang terkenal usil. Sayang, cewek dari keluarga borju itu tak dapat menyelesaikan pendidikan di ma’had, bukan karena dikeluarkan, bukan karena nggak kerasan, juga bukan karena malas-malasan, tapi atas permintaan orang tuanya. Hi Nad, klo nggak sengaja ngebaca tulisan ini, call me yach…


* Obrolan terjadi pada tahun 1994.


Bike 2 WoRK, Wismilak *_^


“Mbak, tanggal 20 Juli nanti ikut Fun Bike di Batu bareng 300 bikers. Acara internal sich, tapi khusus mbak Hana kita undang. Rutenya oke, menantang banget, hadiah utamanya mobil*!”

Huehehehe, itu ajakan Mr Hendro tiga hari lalu, dan langsung aku iyakan. “YUpz, dont worry be hepi deh pak, ngikut kok…I’ll be there!”

“AWAS kalo nggak ikut. Lek gak kuat, nggak opo2 sepeda-e dituntun, ada petugas penyisirnya kok,” kata si mister sambil kasih kaos biker.

Ehmmm, kalimat terakhir bikin dirikyu deg-deg-an. Kalo sampe beliaunya kasih komentar kek githu, berarti rutenya emang bener2 menantang. Hikz, lha aku dah say yes ndak mungkin menganulir keikutsertaanku -kayak gol sepak bola aja, dianulir 😛 jadi meskipun membayangkan bakal nuntun sepeda, paling enggak yaa ndak malu-2in githu loh…masak give up di kilometer pertama?

KARENA ITU, mulai kamis lalu aq putuskan untuk bersepeda ria kemanapun pergi 😉 Hari itu, Rute dimulai dari BarNES-VeteRAN ke Dinas Pendidikan Kota Malang, trus ke WearNEs, WiLis, balik ke BaRNeS, baru deh ke Opish. HOReeeeee…..ternyata bisa!! 😀

Wismilak ya, dapet sehatnya, dapet hadiahnya 😉


*soal hadiah, kudu dikonfirmasi again, dirikyu salah denger gara2 ngarep libom 😆 ato….? emang bener Hadiah utamanya MOBIL, or hadiahnya SE-MOBIL. Minggu depan tanya ke Mr Hendro lagi deh

Syukurku kepadaMu


Pagi tadi, seorang teman mengirim SMS, menanyakan apakah di tempatku bekerja saat ini masih ada lowongan kerja (loker). Atau, apakah ada instansi yang memasang loker di media massa di Malang. “Tempatku sekarang, salary-nya kecil. Itu juga dibayar kalo lagi ada uang. Kalo ga ada, ya bisa lebih dikit lagi”.

Dari nominal yang ditulis, memang benar-benar keciiil bangets, sepersepuluh my salary setelah dipotong tunjangan yg distop gara2 Bandung Ceria 😀 . Hampir aja aq keceplosan reply SMS dan nulis “eh ke Malang aja trus ntar kerja di NS 😉 “, maklum doi warga luar kota. (honestly, menjadi kebahagiaan terbesar kalo ke depan NS bisa membuka banyak loker dan lebih bermanfaat bagi masyarakat).

Ya Rabb, syukurku kepadaMu

untuk anugerah sakit dan pedih

serta limpahan nikmat dan cinta….

Suporter


Siang tadi ada telpon tak terduga, @my old flexi number, yang ON cuma untuk kasih tau temen2 my nu number.  Suara pria, agak familiar tapi susah diinget. Maklum deh, terima telponNa sambil setengah sadar karna ngantuux berat.

“Lagi tidur ya Bu?”

“He-eh nich”

“Mumpung di Malang, say hello plus dapet tugas dr mbak Anik bwt nengokin dewi. Percaya sih, klo dewi bisa jaga diri, cuman si mbak mo tau dewi udah bernyali apa belum?”

“EH….? dasar!” 😆

Baca lebih lanjut

.:: Pengetahuan, Investasi Termahal ::.


Tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam.

Tak salah jika ada yang mengatakan ilmu dan pengetahuan itu mahal. Orang berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan memiliki investasi besar yang tak akan punah karena imbas krisis moneter. Krismon dapat mengurangi nilai investasi saham, atau bahkan menghilangkan nilainya dalam sekejap, namun tidak demikian halnya dengan investasi pengetahuan. Sama seperti pepatah Arab yang menganalogikan orang berilmu seperti pohon yang berbuah dan akan terus berbuah tanpa akhir bila si pemilik memanfaatkan dan membagi ilmunya.

Meski I have to say sorry pada rendahnya kesadaran perusahaan yang seringkali masih berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan dana demi me-mintarkan SDMnya. Padahal tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Ehmmm….kayaknya perubahan ini tak terbendung, perlahan namun pasti mutlak terjadi, meski masih ada orang yang sangsi. Sama seperti tren perubahan ke masyarakat informasi saat ini, yang beberapa tahun lalu dicemooh sebagian besar masyarakat Indonesia (termasuk saya, huehehehehe..). Saya masih ingat kelahiran Metro TV yang menawarkan konsep acara berita sebagai produk andalannya. “HAH? Nggak salah tuh, bikin tipi diisi berita?. Iya kalo di LN, di Indonesia mana ada orang yang bakal ngeliat, seharian kok dicekokin berita, bosen!!”. Dan saya salah besar, Metro secara perlahan namun pasti dapat mencuri perhatian publik,bahkan jadi rujukan informasi terkini.

Satu contoh saat musibah tsunami, masyarakat mengandalkan info dari stasiusn tipi ini untuk mengetahui perkembangan terbaru, terlepas dari gayanya yang suka mengulang berita berkali-kali –dan kadang bikin eneg-. Bahkan saya, yang dulu enggan memencet channel yang terkadang dimanfaatkan untuk kampanye Surya Paloh (ya iyaaalah!!, lha wong tipi-tipi dia ini!), menjadi channel utama tipi di kamar. Sebelum tidur, liat berita, bangun pun sarapan berita terlebih dulu (wkakakakakak, in case kalo lagi nggak ngantuk banget). Ya, informasi menjadi sedemikian penting. Menjadi bahan untuk memulai hari.

Back to Knowledge Economy, konsep ini mempercayai bahwa pengetahuan memiliki nilai ekonomis. Pengetahuan merupakan ‘alat’ yang dapat digunakan untuk memproduksi atau menciptakan produk yang berharga jual tinggi, menggantikan prinsip ekonomi sebelumnya yang menyatakan produksi dipengaruhi dua factor, tenaga kerja dan modal.

Satu contoh, pengetahuan tentang desain busana dan menjahit membuat siswa SMKN 1 Batu Malang beberapa waktu lalu menciptakan busana pesta cantik dari bahan murah meriah, serut kayu dan batok kelapa, yang bagi sebagian besar orang dianggap sampah dan harus disingkirkan. Ya, c..? karena ‘pengetahuan’, limbah bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Baca lebih lanjut