Resensi N5M dan NS


Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar” [N5M]

Itu adalah status [atau note ya?] yang ditulis mas Fuadi di akun fesbuknya, Agustus lalu -kalo tidak salah. Banyak yang berkomentar, salah satunya saya. Komentar yang juga pengakuan kalo saya menangis setelah membaca kalimat itu. Swear ewer-ewer boom-boom, saya memang benar-benar menangis, sesenggukan, terharu, merasa tertampar, termotivasi, wes poko’e campur aduk dech.

Aneh ya?
Well, bagi sebagian [banyak] orang mungkin memang aneh. Tapi saya yang menurut beberapa teman termasuk sosok tegar [hallah!], memang gampang banget meneteskan air mata untuk hal-hal yang menyentuh. Termasuk kalimat itu.

Menyentuh?
Absolutely yupz! 😉 bagi saya. Ketika membacanya, saya sedang merasa hampa dan bosan dengan rutinitas *pernahkah kau merasa hatimu hampa…pernahkah kau merasa hatimu kosong…eh! lha kok jadi nyanyiin Hampa-nya Ungu :D. Kalimat itu terasa seperti baterai dan energi luar biasa yang mencoba me-recharge semangat saya untuk bangkit, kembali berani bermimpi, dan mewujudkannya.

Baca lebih lanjut

Cita-citaku Ingin Jadi Pegawai Negeri


Episode Ujian Lisan

Hari ini aku bangun pagi, 04.15 WIB, antre wudhu di kamar mandi dan berangkat untuk salat Subuh berjamaah di Gedung Kuwait. Masjid Pondok masih dalam tahap pembangunan, sehingga kami para calon santri dan santriwati harus rela salat di salah satu ruangan gedung dan menyebar ke emperan. Rutinitas bangun pagi yang harus aku jalani di pondok sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Maklum saja, saat di rumah, aku sudah dibiasakan bangun sesaat setelah azan subuh dikumandangkan. Meski itupun hasil dari cubitan ‘manis’ Ibu, atau goyangan lembut dari tangannya yang membangunkanku.

“Ayo, cepat bangun. Bapak sudah azan, orang lain yang rumahnya jauh saja sudah ke musala, masak kamu yang di sini, tidur di rumah yang berdempetan dengan musala masih tidur, malu!,” katanya. Seingatku kalimat itulah yang selalu diucapkan Ibu saat membangunkan aku, yang seringkali memang ogah-ogahan untuk membuka mata.

Meski bukan beban yang berat, tetap saja rasa malas sering menghampiri dan mencoba merayuku untuk tetap bersembunyi di balik selimut, mencoba berpura-pura tak mendengar bel yang dipukul keras untuk membangunkan santriwati. Tapi pikiran rasionalku bekerja seimbang dengan rasa malas yang datang. Di tengah keinginan untuk meneruskan tidur di kamar, aku masih sempat berpikir jika aku tidak salat berjamaah pasti akan mendapat hukuman dari kakak kelas, meski statusku masih calon santriwati. Kalo dihukum, aku pasti malu sekali. Dan aku nggak mau mendapat malu. Jadi, dengan lemah aku berusaha memaksa untuk membuka mata, bangun, dan berjalan gontai ke kamar mandi.

Usai salat subuh di shaf paling akhir, aku kembali pulang ke kamar dan langsung pergi lagi ke kamar mandi. Aku ingin mandi pagi karena hari ini adalah hari spesial. Dari obrolan temen-temen calon santriwati, aku baru tahu kalau hari ini ada jadwal ujian lisan. Karena itu, usai mandi aku langsung mengenakan baju terbaikku, jubah hitam dengan jilbab hitam (gila aja!!, kayak orang berkabung). But, I like black. Dan untuk acara sepenting itu, warna hitam pasti akan membantu menumbuhkan rasa percaya diriku.

****

Pukul 08.00 WIB. “Dewi Yuhana, masuk!,” teriak salah satu perempuan di ruangan 101 Kuwait. Dengan sedikit berdebar aku masuk ke dalam ruangan yang aslinya sebuah kelas itu. Di sana, ada satu kursi kosong yang sengaja diletakkan di tengah-tengah, sementara di depannya ada tiga orang perempuan berwajah serius yang selanjutnya aku panggil ustadzah. Harus kuakui, awalnya aneh juga memanggil mereka dengan kata ustadzah. Tapi mau bagaimana lagi, semua teman-temanku dan kakak-kakak menyebut mereka ustadzah. Oia, Ustadzah adalah kata bahasa Arab, yang artinya bu guru. Walau awalnya terasa janggal, lama kelamaan aku terbiasa kok mengucapkan kata ustadzah, malah rasanya jadi keren banget, aku bisa ngomong bahasa Arab!!, meski masih satu kata, huehehehe.

Kembali ke ruangan dimana aku dipanggil, secara otomatis aku langsung duduk di kursi kosong, memandang ketiga ustadzah yang ada di depanku, menunggu intruksi dan pertanyaan dari mereka.

“Masmuki?,” kata ustadzah yang ada di tengah.

Tergagap aku mendengar pertanyaan singkatnya. Tapi dengan sangat pe-de dan keras, aku langsung menjawab. “Ismi Dewi Yuhana”, yang disambut senyuman mereka bertiga.

Horeee, aku bisa ngomong pake bahasa Arab lagi. Ah, untung tadi sempat diajari salah satu teman di kamar. Katanya, saat ujian lisan ustadzah akan menguji kemampuan bahasa Arab calon santriwati. Dan salah satu pertanyaannya adalah Masmuki atau man ismuki. “Artinya siapa nama kamu. Aku kemarin juga ditanya seperti itu. Kalo kamu ditanya, jawab aja dengan menyebutkan ismi Halimah,” jelas temenku yang bernama Halimah dengan bangga. Sepertinya, dia sudah merasa bagaikan suhu bahasa Arab hanya karena mengetahui arti masmuki, man ismuki, dan ismi. Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih kepadanya, hingga aku bisa menjawab pertanyaan ustadzah itu dengan tenang, cepat, dan benar!.

“Kamu kembar dengan Lutfiah,” tanya ustadzah yang ada di sebelah kiri.
“Enggak,” jawabku.

“Kok pakaiannya sama”.

“Memangnya, kalo bajunya sama harus kembar?,” tanyaku balik yang lagi-lagi dijawab dengan senyuman mereka. Sebelum giliranku untuk diinterogasi, Lutfiah, sepupuku memang masuk terlebih dahulu. Dan pagi itu, Lutfi juga mengenakan baju yang sama denganku, jubah hitam plus jilbab hitam.

“Dewi, kenapa kamu ingin masuk Gontor Putri?,” tanya ustadzah yang duduk di sebelah kanan.

Oalah, pertanyaan opo to iku. Aku mau masuk pondok yang pengin belajar, githu aja kok ditanyain, kataku dalam hati. “Ya pengin belajar ustadzah, khususnya ilmu agama”.

“Kalau boleh tahu, cita-cita Dewi ingin menjadi apa?”.

“Mau jadi Pegawai Negeri!”. Jawaban spontan itu tak lagi membuat ketiga ustadzah di depanku tersenyum seperti sebelumnya, mereka langsung tertawa!. Loh, loh, memangnya ada yang salah dengan jawabanku? rasanya kok ndak ada. Lalu kenapa mereka tertawa?. Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika aku menjawab ingin jadi pegawai negeri. Bapakku seorang guru, dan pegawai negeri. Pakdeku dari Ibu, Pakdeku dari Bapak, sebagian besar adalah pegawai negeri. Jadi aku hidup di sekeliling para pegawai negeri, sehingga wajar dong kalau aku juga ingin menjadi seperti mereka.

“Kalau ingin jadi pegawai negeri, kenapa masuk pondok?,” tanya ustadzah di tengah dengan serius.

“Kenapa? memangnya kalau saya pengin jadi pegawai negeri nggak boleh masuk pondok,” jawab saya sekaligus bertanya.

“Bukan begitu, pondok ini nantinya mencetak alumnus yang akan menjadi guru. Makanya namanya Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI), kalau Dewi ingin jadi pegawai negeri, ya sekolah saja di luar pondok”.

Aih, aih, kok malah ustadzahnya ngomong begitu ya?!. “Ustadzah, pegawai negeri kan ada yang guru. Bapak saya guru”.

“Iya, tapi pondok ini tidak akan mencetak pegawai negeri”.

“Ya nggak apa-apa, saya tetap mondok di sini, tapi saya juga ingin jadi pegawai negeri!,” kataku ngotot. Lagi-lagi, ketiganya tertawa.

****

CAT: Semua cerita tentang ujian masuk ke Gontor Putri terjadi di tahun 1992. Saat mengikuti ujian lisan, Lutfi belum bercerita tentang menu-menu enak di salah satu pondok di PO, jadi lah kami berdua mengikuti semua ujian dengan bersemangat. 🙂