[mengkudeta] hati


heartAllah SWT menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk [fi ahsani taqwiim], dengan kombinasi otak yang mengatur semua kegiatan motorik dan hati yang menjadi pengendali serta kontrol untuk ego dan logika. Hati, tempat kita bertanya untuk beberapa hal yang terkadang tak bisa dianalisis, dimengerti, dan dijelaskan oleh logika.

Hati akan menjawab dengan jujur, apa adanya, menerangkan sejelas-jelasnya, semuanya, tak ada yang ditutup-tutupi, dikurangi, atau dilebihi.
Hati seringkali menjawab tanpa kita minta, menjelaskan meski tak kita butuhkan. Walau diabaikan, ia tetap teguh bertahan, menjadi kawan yang selalu mengingatkan.
Hati tak akan mengeluh, putus asa, atau menyerah untuk berkata jujur dan transparan. Sampai kapanpun, ia akan tetap sama sebagaimana diciptakan Yang Kuasa, sebagai segumpal darah yang mewakili keseluruhan sifat manusia.

Hatiku selalu memberitahuku tentang sesuatu, apakah itu baik atau buruk untukku. sering aku mendengar dan mematuhi anjurannya. walo tak jarang berdebat, bahkan menyangkal paparannya

kejujuran hati terkadang menyakitkan. kebenaran yang diungkapkannya menyedihkan, hingga ia ditinggalkan, sendirian, tak didengarkan..
beberapa hari lalu aku menyembunyikan hatiku dalam kotak besi, tertutup dengan rangkaian kunci kombinasi. lalu menaruhnya dalam laci tersembunyi, hingga tak seorangpun bisa mencari, apalagi menemui.
aku, aku melakukan kudeta. memberontak pada hati, melawan akal dan logika. tunduk pada perintah nafsu, menikmati ilusi palsu…
hatiku berteriak, aku diam
hatiku menjerit, aku bergeming
hatiku diam, aku kelabakan
hatiku pasrah, aku menangis berdarah-darah
menyadari semua khilaf dan salah…
ah…..


Cinta (selain) Cinta


Bicara cinta sama susahnya seperti bicara tentang Tuhan,
sebab cinta memang bukan untuk jadi bahan pembicaraan,
tapi dirasakan, dinikmati manisnya
diresapi pahitnya…

Begitu juga dengan Tuhan,
tak pernah meminta umat-Nya
untuk selalu berkata ‘aku mengingat-MU’
Aku Mencintai-Mu…
dengan suara lantang
tapi melalui pembuktian sikap dan perilaku


****

Aku menulis ini di blog FS, menjelang subuh diiringi lagu “Menjaga Hati-nya” Yovie-Nuno. Bukan karena sebelumnya mendengarkan lagu ini bersama cinta, bukan!. Lagu ini sudah masuk playlist-ku sejak diluncurkan dan populer.

“Biarkan aku menjaga perasaan ini,
menjaga segenap cinta yang tlah kau beri
Engkau pergi, aku tak kan pergi
Kau menjauh, aku takkan jauh..
Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

Andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati… “

Lagu ini enak didengar, makanya jadi hits, top request, dan banyak dipilih sebagai nada sambung pribadi,terlepas dari program kuis radio di Malang yang mewajibkan peserta untuk mengaktifkan lagu ciptaan Yovie ini sebagai NSP, agar dapat memenangkan tiket lunch bareng mereka. Aku termasuk penyuka “Menjaga Hati”, yang mungkin dengan serius berkata dan meyakini “Wah, ini lagu gue banget!”.

Gue banget, karena ditinggal dan kehilangan cinta. Walau mungkin kata-kata “ditinggal dan kehilangan” kurang pas untuk menggambarkan situasi sebenarnya. Karena cinta tidak pernah tinggal, bagaimana ia bisa pergi dan meninggalkan? bahkan tak pernah ada cinta, lalu bagaimana dapat kehilangan?
Membingungkan dan rumit.

Cinta, datang dan pergi tanpa diminta. Ia memiliki independensi tanpa batas, tak dapat dikekang, diperintah, apalagi diintervensi.

Cinta mempunyai kekuatan luar biasa. Menjadikan seseorang sebagai sosok dan karakter lain (positif atau negatif), jauh dari bayangan, nalar, dan logika.

Sampai saat ini aku meyakini cinta sejati selalu membawa kebaikan dan perubahan positif (seperti di tulisan sebelum ini, anugerah yang sebenarnya adalah cinta yang dapat membawa cinta lebih besar kepada-Nya).

Saat cinta berkata “Sudah terlambat, too latE!! kenapa tidak dari dulu-dulu?”, itu berarti tak ada kesempatan untuk mencinta.

Haruskah dipaksa? tentu tidak. Sebab cinta bukan pemaksaan, cinta adalah kerelaan, keikhlasan. Rela mencintai, maka harus ikhlas untuk tak dicintai.

Cinta membebaskan individu untuk mendapatkan cinta lain yang mungkin lebih besar, indah, dan, memang diciptakan bagi dua pecinta agar saling berbagi kebahagiaan, kesedihan, dan setiap peristiwa yang terjadi dalam jutaan detik perjalanan kehidupan.

Cinta bukan hukuman bagi para pecinta untuk terus “menjaga hati”, sendiri, selamanya seperti sepenggal lirik lagu di atas.

Seperti janji Tuhan Yang Esa, ‘fadzkuruuni adzkurkum’, maka ucapan “Aku mencintaimu” selalu akan dijawab “Aku lebih mencintaimu”. Itulah cinta sebenarnya…
****

Tulisanku penuh dengan kata cinta, karena baru saja berbincang dengan cinta.
Namun bukan karena menyukai lagu Menjaga Hati, maka aku, kamu, atau dia, harus terus mempertahankan cinta yang terhenti setelah ucapan “Aku mencintaimu” tanpa jawaban, tanpa harapan.
di luar sana, ada banyak cinta yang terus menebar harapan, menunggu jawaban…

Nah, berarti aku kurang mencinta?
Tentu Tidak. Jangan pernah meragukan dan menganggap cintaku sebagai cinta mainan, apalagi bohongan. Cinta, bukan permainan.
Hanya, sebuah kesadaran menyeruak, jika berkeras mempertahankan cinta, maka aku tak akan menjadi diriku sendiri. Berubah menjadi sosok pemaksa, egois dan menyebalkan, menjadi pribadi lain yang akan aku benci, hingga melahirkan kebencian kepada cinta.

Cinta…
Sebelum kebencian datang,
bantu aku untuk mendapatkan cinta…(lain)….

***newest:
cinta kembali datang menyapa…
sayang…
ia bukan lagi cinta yang kupuja
yang kepadanya aku menaruh asa
 
“Jangan pernah (lagi) ada asa
maaf…”