Belajar Optimis, Percaya SkenarioNya


M Lucky Adnan. Nama yang bagus bukan? Sebagus sang pemilik nama yang dikarunia Allah SWT paras tampan, budi pekerti halus, kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan kemampuan memahami makna firmanNya. Tak sekadar tahu arti sebuah ayat, dia pun meyakini dan mempercayai kebenarannya dengan total, tanpa keraguan, pertanyaan, apalagi kecurigaan. Sikap yang semakin menyempurnakan ketampanan fisiknya.

 

Saya tak mengenal Lucky Adnan dan baru melihatnya pagi ini, itu pun tak lebih dari 15 menit. Pertemuan (jika dapat dikatakan sebagai pertemuan) singkat yang sarat makna, hingga menohok perasaan saya dengan sangat telak. Ibarat pemain tinju, saya tak hanya kalah angka tapi jatuh terkapar karena pukulan lawan. Baca lebih lanjut

kEna TIPUS? kok BISA…..


“Maaf, aku nggak bisa dateng ke acaranya. Lagi sakit nich,” jawabku saat ditelpon seorang temen.

“Sakit apa? pantes, suaranya lemah”.

“Kena tipus nich”.

“Loh, kok bisa?”.

“Ya, buktinya bisa. Nggak usah kaget githu, wong aku sendiri juga kaget. Kok bisa sakit ‘semi serius’ hehehe”.

****

Pertanyaan ‘Loh, kok bisa?’, selalu dilontarkan secara spontan oleh temen-temen yang tau aku sakit. Yach, maklum juga sich klo mereka kaget saat mendapati aku sakit, dan bener-bener sakit. Bukan cuma flu, batuk, ato demam biasa. Tapi kena tipus!.

Aku, yang biasanya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan, harus rela terkapar tak berdaya, doing nothing, istirahat total tal, tal, tal!. Meringkuk rapat di kamar kos yang tak luas, di atas kasur yang keras, dan hanya ditemani my luv bro, Aziz. Duh, kessiiiaaaannya!!.

Sebenernya, pengin banget pulang ke Tulungagung. Cuma ya itu, ngebayangin perjalanan ke rumah, rasanya kepala udah puyeng, perut mual, dan the answer is NO!, I’ve to stay di Malang. Lagian, kalo aku pulang pasti ngerepotin my mom, dan semakin membuat dia capek. meskipun, klo boleh jujur, I miz her so much. Biasalah, anak kos klo lagi sakit pasti inget ama keluarga di rumah, yang terbiasa merawat dan memanjakan kita. hikz, hikz, hikz…

Ada temen yang nyaranin untuk opname. Tapi aku sendiri gak suka ‘bau’ rumah sakit, dan membayangkan suntikan infus. Duh, EnggAKK!!!. 

Selain itu, meskipun kasur di kosku udah keras dan gak layak pake, paling enggak ukurannya jumbo, lha klo di RS? pake single bed githu, pasti aku gak bakal bisa muter-muter pas tidur. (xixixixi….panas tubuh yang tinggi emang ngebuat aku tidur dalam berbagai gaya dan pose 😉 ).

Yang menyedihkan, penyakit yang menyerang usus halus dan disebabkan bakteri Salmonella Thypi ini bisa kambuh (lagi) dua minggu setelah pemberian antibiotik. So, penderitanya memang diwajibkan untuk mentaati setiap perintah dan larangan dokter. Misalnya aja, harus makan makanan yang halus, tidak boleh pedas, mengurangi makanan berserat, dan tentu saja harus menjaga stamina dan menghindari rasa lelah berlebih.

Yang terpenting juga, KEBERSIHAN makanan musti dijaga. Maklum dech, penyebab bakteri itu bisa masuk dan menyerang usus halus, salah satunya emang dari makanan yang kurang higienis. (duuuuh, berarti gw nggak ngejaga kebersihan?!) eits No!. Siapa sich yang mau makan makanan gak higienis? Pasti ga ada yang mau dunk!!. Hanya saja, aku yang emang langganan makanan ‘warung n’ kantin’, emang kudu hati-hati memilih makanan dan higienitasnya. Selain tentu saja, stamina dan imun tubuh yang harus diperhatikan. Sebenarnya, klo badan dalam kondisi fit, pasti dech penyakit itu gak bakal dateng. Dan kalo diinget2 lagi, dua minggu sebelum terkapar sakit, aktivitasku emang meningkat tajam!.

Dalam sehari, aku pernah pergi-pulang dari Malang-Semarang-Tulungagung! (sebenarnya, pengalaman di perjalanan itu mo aku tulis juga di sini, tapi belom sempet). Selain itu, pulang ke Tulungagung malem hari dan balik ke Malang keesokan harinya untuk kemudian langsung bekerja, juga aku lakukan beberapa kali. Belum lagi, pola makanku yang emang berantakan. ya sudah, emang gak salah kalo si tipus itu dateng!. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan aku untuk memperhatikan tubuh pemberian-Nya, menyayangi dan merawatnya sebaik mungkin. Mungkin juga, Dia mencoba ‘menggelitik’ aku untuk melakukan perenungan, yang tak akan bisa aku lakukan saat sehat. Dan, masih banyak kemungkinan lainnya. Yang jelas, ada banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya aku peroleh dari nikmat sakit yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa.

****

Datangnya tipus, benar-benar tak bisa aku prediksi sebelumnya. Sebab hari dimana aku sakit, aku tidak merasakan clue ataupun gejala-gejala yang menunjukkan aku akan sakit. Hari itu (Jumat, 4 Januari 2008), aku berangkat ke kantor seperti biasa. Pukul 15.30 WIB, saat mulai rapat redaksi, aku merasa sedikit demam.

“Opo’o Han?,” tanya mas Indra saat melihatku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku.

“Nggak tau nih, nggreges,” jawabku.

“Wah, ati-ati, pancaroba. Mau flu tuh,” celetuk rekan yang lain.

Setelah rapat, aku semakin merasa kedinginan dan mematikan salah satu AC. Anita, rekan di samping mejaku berkomentar. “Ah, ente sakit kali. Wong aku lho nggak ngerasa kedinginan, biasa aja hawanya!”.

Aku mengiyakan dalam diam. KArena setelah itu, bukan cuma dingin menggigit yang aku rasakan, tapi juga rasa pusing luarrrr biasa. Bahkan, saat wudhu salat maghrib aku semakin gemetar dan menggigil kedinginan. Begitu juga ketika ruku dan sujud, kepala rasanya seperti dipalu dan dipukul berulang-ulang. Setelah itu, aku bekerja seperti robot. Tak bisa merasa, dan hanya melakukan editing super cepat.

Saking pusingnya, aku pulang kantor lebih sore dan tak ikut rapat malam. Itupun aku minta diantar salah satu rekan kantor. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan berharap kondisiku bisa fresh keesokan harinya.

Ternyata, saat bangun untuk salat Subuh, rasa pening dan panas yang aku rasakan semakin menggila. Saat berjalan ke kamar mandi, aku harus berjuang mati-matian, berpegangan ke dinding agar tak terjatuh. Upz!!, bulu kudukku langsung berdiri saat air dingin membasahi tangan dan wajahku. Rasa pening pun semakin bertambah. Heran juga, pagi itu aku bisa kembali ke kamar dengan selamat dan masih sempat  membawa ember (huehehehe, tau kan manfaat ember? yupz!!, untuk menampung semua yang kukeluarkan dari perutku 😉 ).

****

Untung, adekku hari itu ada di Malang. Dia lah yang akhirnya merawatku, membawa ke dokter, dan meladeni celotehanku yang tanpa makna (saking panasnya tubuh, aku ngoceh terus menerus).

“Iya mbak, habis ngomong A langsung pindah ke Z. Coba waktu itu, aku rekam, pasti dech sampen tertawa mendengarnya. Lucu bangetz!!,” katanya.

>>>untung, dia lupa nggak ngerekam. Waaaah, bisa menurunkan pamor dan derajatku tuh…. yach, anyway busway, many thx untuk Aziz, yang dengan telaten menungguiku, menyiapkan segala makanan, dan obat yang aku perlukan. Eits, trus sekarang mengantar dan menjemputku di kantor…

Masa Lalu, Sekarang, dan Masa Depan


Jangan pernah melupakan, atau bahkan sengaja menghilangkan momen yang pernah terjadi dalam perjalanan hidup. Karena setiap peristiwa, yang kecil atau yang besar, yang menyenangkan atau menyedihkan adalah pelajaran.

Peristiwa menyakitkan dikenang bukan untuk dijadikan hantu-hantu malam, tapi menjadi pengingat agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitu juga dengan kejadian menyenangkan, selalu diingat bukan untuk dijadikan pemuas ego dan kesombongan, tapi motivasi untuk lebih maju dan menjadi insan yang lebih baik lagi.

Masa lalu, saat ini, dan masa depan, memiliki mata rantai yang tak akan terputus. Ibarat puzle, kita tak dapat menyembunyikan atau menghilangkan satu keping pun, karena akan membuatnya tak sempurna. Bahkan, mencoba mengganti kepingan kusam dengan satu keping sejenis yang baru, tetap akan terlihat dengan jelas. 

Begitu juga dalam hidup, kita tak dapat berbohong dan mencoba menciptakan sejarah baru, hanya untuk membuat perjalanan hidup terlihat indah. Sekeras apapun kita menyangkal secuil peristiwa menyedihkan, menyakitkan, atau memalukan, ia akan tetap datang dan menampakkan diri di depan mata. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyikapi dan melihat peristiwa tersebut, lalu belajar darinya.