Antara Sriwijaya-Bondowoso


Sudah lama aku tidak menghirup campuran segala macam ‘aroma’ seperti yang aku rasakan tadi sore. Ada bau apek jaket yang sudah berminggu atau berbulan-bulan tak pernah dicuci, aroma asinnya keringat (entah kenapa aku menulis keringat itu asin, padahal ya belum pernah sekalipun indra perasaku mencicipi tetesan keringat), aroma parfum, cologne, campuran keringat dan cologne, asap rokok, bau shampo rambut, dan aroma-aroma lain yang susah didefinisikan karena sudah tercampur menjadi satu.

Baca lebih lanjut

Untuk Sahabat


Kupersembahkan bunga ini, untuk kalian yang memiliki sahabat, menyayangi dan mengasihinya sepenuh hati...(semoga aku, salah satu diantaranya...*_*..he3..)

Habis salat subuh tadi ada SMS masuk. Ehmmm….jarang tuh terima SMS pagi hari, kecuali telpon dari bapakkyu ato bunda. Waaaah…..ternyata dari salah satu mitra bisnis. Isi SMSnya sih hampir sama dengan SMS yang pernah aku terima duluuuu sekali.
Bukan isinya yang kemudian membuat aku memutuskan untuk menuliskannya di sini, tapi makna di balik itu. Bahwa dia care, bahwa dia menganggapku sahabatnya 🙂
makasih……

Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh
Karena persahabatan seperti tangan dengan mata
Saat tangan luka, mata menangis
Saat mata menangis, tangan menghapusnya……


Lelaki, Perempuan, dan Naluri Mendua


Bos mau dicariin satu githu, tapi aku tak janji. Aku upayakan, nanti selera bos payah pula

Itu sepenggal kalimat Sekretaris Daerah Bintan Azirwan dalam percakapan telpon dengan anggota DPR Al Amin Nasution. Ya Tuhan, saya tidak bisa membayangkan perasaan Kristina saat mendengar percakapan yang diketahui jutaan masyarakat Indonesia. Lha wong saya yang bukan siapa-siapa Kristina dan tak memiliki hubungan kerabat dengan Al Amin saja kaget plus shock saat membaca judul berita “Amin Minta “Bonus” Perempuan” di Jawa Pos pagi ini.

“GiLA!! ndak malu sama namanya ya…….. AL AMIN!!, yang terpercaya. Ya Allah, gayanya alim kek gini, lha kok doyan juga. dasar laut, dasar sungai, dasar samudera! dasar lelaki kurang ajar!!….” ucapku spontan. Air mineral yang sudah di tangan pun urung aku minum.  

“Yah mbak, biasa deh kayak githuan,” kata Nita, mahasiswa UMM, yang membangunkanku pagi-pagi hanya untuk mengambilkan sertifikat workshop untuk temannya. Nita sebenarnya juga peserta workshop, dia ikut sejak acara pertamaku dulu, dan sekarang sudah menjadi dekat layaknya sodara aja.

 Jadi inget pernyataan spontan yang pernah dilontarkan seseorang “Mendua itu naluri lelaki. Aku mencintai yang satu, tapi nggak mau kehilangan yang lain”. Fiuh!!…Naluri ya?.

 

Bike 2 WoRK, Wismilak *_^


“Mbak, tanggal 20 Juli nanti ikut Fun Bike di Batu bareng 300 bikers. Acara internal sich, tapi khusus mbak Hana kita undang. Rutenya oke, menantang banget, hadiah utamanya mobil*!”

Huehehehe, itu ajakan Mr Hendro tiga hari lalu, dan langsung aku iyakan. “YUpz, dont worry be hepi deh pak, ngikut kok…I’ll be there!”

“AWAS kalo nggak ikut. Lek gak kuat, nggak opo2 sepeda-e dituntun, ada petugas penyisirnya kok,” kata si mister sambil kasih kaos biker.

Ehmmm, kalimat terakhir bikin dirikyu deg-deg-an. Kalo sampe beliaunya kasih komentar kek githu, berarti rutenya emang bener2 menantang. Hikz, lha aku dah say yes ndak mungkin menganulir keikutsertaanku -kayak gol sepak bola aja, dianulir 😛 jadi meskipun membayangkan bakal nuntun sepeda, paling enggak yaa ndak malu-2in githu loh…masak give up di kilometer pertama?

KARENA ITU, mulai kamis lalu aq putuskan untuk bersepeda ria kemanapun pergi 😉 Hari itu, Rute dimulai dari BarNES-VeteRAN ke Dinas Pendidikan Kota Malang, trus ke WearNEs, WiLis, balik ke BaRNeS, baru deh ke Opish. HOReeeeee…..ternyata bisa!! 😀

Wismilak ya, dapet sehatnya, dapet hadiahnya 😉


*soal hadiah, kudu dikonfirmasi again, dirikyu salah denger gara2 ngarep libom 😆 ato….? emang bener Hadiah utamanya MOBIL, or hadiahnya SE-MOBIL. Minggu depan tanya ke Mr Hendro lagi deh

Syukurku kepadaMu


Pagi tadi, seorang teman mengirim SMS, menanyakan apakah di tempatku bekerja saat ini masih ada lowongan kerja (loker). Atau, apakah ada instansi yang memasang loker di media massa di Malang. “Tempatku sekarang, salary-nya kecil. Itu juga dibayar kalo lagi ada uang. Kalo ga ada, ya bisa lebih dikit lagi”.

Dari nominal yang ditulis, memang benar-benar keciiil bangets, sepersepuluh my salary setelah dipotong tunjangan yg distop gara2 Bandung Ceria 😀 . Hampir aja aq keceplosan reply SMS dan nulis “eh ke Malang aja trus ntar kerja di NS 😉 “, maklum doi warga luar kota. (honestly, menjadi kebahagiaan terbesar kalo ke depan NS bisa membuka banyak loker dan lebih bermanfaat bagi masyarakat).

Ya Rabb, syukurku kepadaMu

untuk anugerah sakit dan pedih

serta limpahan nikmat dan cinta….

Suporter


Siang tadi ada telpon tak terduga, @my old flexi number, yang ON cuma untuk kasih tau temen2 my nu number.  Suara pria, agak familiar tapi susah diinget. Maklum deh, terima telponNa sambil setengah sadar karna ngantuux berat.

“Lagi tidur ya Bu?”

“He-eh nich”

“Mumpung di Malang, say hello plus dapet tugas dr mbak Anik bwt nengokin dewi. Percaya sih, klo dewi bisa jaga diri, cuman si mbak mo tau dewi udah bernyali apa belum?”

“EH….? dasar!” 😆

Baca lebih lanjut

.:: Pengetahuan, Investasi Termahal ::.


Tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam.

Tak salah jika ada yang mengatakan ilmu dan pengetahuan itu mahal. Orang berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan memiliki investasi besar yang tak akan punah karena imbas krisis moneter. Krismon dapat mengurangi nilai investasi saham, atau bahkan menghilangkan nilainya dalam sekejap, namun tidak demikian halnya dengan investasi pengetahuan. Sama seperti pepatah Arab yang menganalogikan orang berilmu seperti pohon yang berbuah dan akan terus berbuah tanpa akhir bila si pemilik memanfaatkan dan membagi ilmunya.

Meski I have to say sorry pada rendahnya kesadaran perusahaan yang seringkali masih berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan dana demi me-mintarkan SDMnya. Padahal tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Ehmmm….kayaknya perubahan ini tak terbendung, perlahan namun pasti mutlak terjadi, meski masih ada orang yang sangsi. Sama seperti tren perubahan ke masyarakat informasi saat ini, yang beberapa tahun lalu dicemooh sebagian besar masyarakat Indonesia (termasuk saya, huehehehehe..). Saya masih ingat kelahiran Metro TV yang menawarkan konsep acara berita sebagai produk andalannya. “HAH? Nggak salah tuh, bikin tipi diisi berita?. Iya kalo di LN, di Indonesia mana ada orang yang bakal ngeliat, seharian kok dicekokin berita, bosen!!”. Dan saya salah besar, Metro secara perlahan namun pasti dapat mencuri perhatian publik,bahkan jadi rujukan informasi terkini.

Satu contoh saat musibah tsunami, masyarakat mengandalkan info dari stasiusn tipi ini untuk mengetahui perkembangan terbaru, terlepas dari gayanya yang suka mengulang berita berkali-kali –dan kadang bikin eneg-. Bahkan saya, yang dulu enggan memencet channel yang terkadang dimanfaatkan untuk kampanye Surya Paloh (ya iyaaalah!!, lha wong tipi-tipi dia ini!), menjadi channel utama tipi di kamar. Sebelum tidur, liat berita, bangun pun sarapan berita terlebih dulu (wkakakakakak, in case kalo lagi nggak ngantuk banget). Ya, informasi menjadi sedemikian penting. Menjadi bahan untuk memulai hari.

Back to Knowledge Economy, konsep ini mempercayai bahwa pengetahuan memiliki nilai ekonomis. Pengetahuan merupakan ‘alat’ yang dapat digunakan untuk memproduksi atau menciptakan produk yang berharga jual tinggi, menggantikan prinsip ekonomi sebelumnya yang menyatakan produksi dipengaruhi dua factor, tenaga kerja dan modal.

Satu contoh, pengetahuan tentang desain busana dan menjahit membuat siswa SMKN 1 Batu Malang beberapa waktu lalu menciptakan busana pesta cantik dari bahan murah meriah, serut kayu dan batok kelapa, yang bagi sebagian besar orang dianggap sampah dan harus disingkirkan. Ya, c..? karena ‘pengetahuan’, limbah bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Baca lebih lanjut