“Suamiku Ingin Kawin Lagi”


“Nggak ada angin, nggak ada hujan, suamiku mau kawin lagi”

SMS singkat itu ditunjukkan teman sekantor tadi sore. Bukan bercerita tentang dirinya, tapi SMS kiriman dari seorang sahabatnya di Indramayu. Kepadaku, rekan samping mejaku itu mengaku kaget!. Menurutnya, selama ini ia selalu mendapat SMS bernada hepi, ceria, dan bahagia. Tak sekalipun sahabatnya itu mengeluh atau bercerita tentang permasalahan rumah tangga.

    Usai menunjukkan SMS itu, ia langsung mereply “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!”, yang ternyata langsung mendapat balasan cepat.

“Nah, itu dia. Perempuan itu ndak ngeliat harta suamiku. Dia mengaku pengin jadi istri kedua karena mengharap ridhoku, duuuuh…..”

Woww!!, speechless. Terus terang, kali ini saya tak dapat berkomentar banyak atas peristiwa yang dialami sahabat temanku. Untuk menuliskannya di sinipun, saya harus berpikir berkali-kali. Tulis, enggak, tulis, enggak, dan….tulis. Baca lebih lanjut

SeKasuR, seDapur, seSumuR


Sayangi IstRi, JanGan AbaikAN kELuarGA

Ada falsafah Jawa yang mengatakan bahwa kesuksesan pria dalam hidup harus didasari keseimbangan dalam tiga hal, yaitu sekasur, sedapur, dan sesumur. Saya baru mengetahui dan mendengar falsafah ini, hari ini. Dari tulisan wartawan soal ceramah Mochtar Riady di Universitas Ma Chung pagi tadi.

Sekasur, berarti bahwa seorang pria tak akan sukses tanpa dukungan dari istri. Karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan peran istri dalam keluarga dan juga karier. Anda, kaum pria, akan bisa menggapai kesuksesan lebih besar dan lebih tinggi bila istri Anda mendukung, memahami, dan mendoakan Anda. Falsafah ini sama dengan pepatah Arab yang mengatakan bahwa “ wara’a kulli rojulin ‘adhiimin mar’atun shalihah “, di belakang setiap pemimpin besar (lelaki utama) ada wanita shalilah.

Ada banyak contoh pemimpin besar yang kemudian jatuh karena perilaku istri yang kurang mendukung. Saat si pria kaya dan berjaya, sang istri berulah dengan menuntut materi berlebih. Berbelanja tanpa batas, mengoleksi berlian selangit, dan memuaskan hobi mewah berkelas. Anda mungkin masih ingat Imelda Marcos, pengoleksi ribuan sepatu yang dibeli dari uang hasil korupsi sang suami. Sebagai istri, Imelda sebenarnya dapat mengarahkan sang suami untuk tidak berkorupsi dan memakan uang rakyat. Namun dia malah mendukung aksi suami dengan terus dan terus membeli sepatu dan barang fashionable lain, yang tentunya membutuhkan dana mahal. Suaminya, Ferdinand Marcos pun jatuh dari jabatannya dengan tidak hormat.

Meski demikian, tak sedikit juga pria yang setelah kaya melupakan jasa sang istri. Ketika miskin dan masih dalam taraf berjuang, suami dan istri saling bahu membahu, saling menguatkan, saling berbagi mimpi, dan berbagi kebahagiaan. Namun setelah sukses, dia malah membagi kesuksesan dengan wanita lain. Nah, kalo sudah begini, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Ada contohnya (mohon maaf dengan kelurga bersangkutan), tapi karena sudah menjadi rahasia umum, jadi saya bisa menjadikannya contoh. Bahkan Anda, mungkin sudah melihat videonya, yupZ siapa lagi kalo bukan Yahya Zaini. Pria yang sebelum tragedi video mesumnya beredar digadang-gadang akan menjadi Menteri Agama itu harus merelakan karier politiknya tamat karena ‘kelalaiannya’ berbagi sukses dengan wanita selain istrinya. Dia, saat ini masih bisa ‘hidup’ pun karena sang istri ‘masih’ mau mendampingi dan membuatnya tegar. Lha kalo enggak, mau lari kemana dia?!.

Sedapur. Kesuksesan seorang pria akan semakin berlipat saat dia tidak melupakan keluarga dan anak-anak. Sesibuk apapun, dia harus tetap memberikan perhatian kepada keluarganya. Bagaimana dia bisa sukses memimpin sebuah perusahaan, saat keluarganya yang notabene merupakan miniatur kecil sebuah perusahaan atau komunitas besar tidak dapat dia pimpin dengan baik.

Tentang falsafah yang ini, banyak contoh peristiwa nyata yang terjadi di hadapan kita. Berapa banyak orang tua yang dipermalukan tingkah polah anak yang kurang terpuji. Atau, berapa banyak pria sukses yang terpaksa menyesal di kemudian hari saat melihat anaknya terjerumus ke lembah hitam karena dia tak pernah memberikan perhatian.

Sesumur . Seseorang tak bisa sukses sendiri, tentu ada orang yang mendukung dan membantunya mencapai kesuksesan itu. Jika sebuah perusahaan, maka karyawan menjadi pendukungnya. Jadi, sekali-kali, Anda jangan pernah melupakan dan meremehkan karyawan dan bawahan Anda dalam kesuksesan yang Anda capai.

Anda, tak ada apa-apanya tanpa mereka. Karena itulah, saat suksespun Anda harus tetap memperhatikan kesejahteraan karyawan, jangan memeras keringat dan darah mereka. Ada lagi sebuah pepatah (wah, saya lupa, ini pepatah apa hadits ya?!), yang meminta Anda untuk memberikan upah seorang pekerja sebelum keringatnya mengering. Yang berarti, haram bagi Anda untuk menunda memberikan hak yang seharusnya dia dapat, apalagi memotong, dan menilapnya.

So, kalo ingin sukses jangan pernah mengabaikan istri Anda!.