Aku, Allah, dan Cinta…


Menjelang petang, aku berteriak memanggil Tuhan, memaksaNya untuk menerima dan mendengarkan protesku, di luar jam yang sudah ditentukan.

“Tuhaaan…, Engkau dimana sih?! Aku benar-benar harus berbicara denganMu, menunjukkan ketidakadilan yang sudah Engkau gariskan. Garis yang membuat hamba jatuh pada titik nol, tingkat terendah dari yang paling rendah. Sakit dan terhina, maksudnya itu apa to?”

” 🙂 …”

“SuNGGUH tERLALU!!! aku teriak2, cuma dibalas sENyUM?! dijawab dunk….!!”

“Pertanyaanmu terlalu banyak, dan sebenarnya nggak perlu jawaban. Kamu sudah tau”

“Kalo tau, ndak bakal aku nanya…Kalo tau, ndak bakal aku jatuh…Kalo tau, nggak akan ada rasa terhina. Jadi KEnapa?”

“Ada beberapa hal yang sudah aku tentukan, dan tak dapat kau atau manusia lain mengubahnya. Tapi, keputusanku itu tak berarti menjadi batas ruang gerakmu, engkau bebas sebebas-bebasnya, dalam melangkah serta menentukan ritme dan warna perjalanan hidupmu” Baca lebih lanjut