Kantor Pos, Jawa Pos, Kompas, SBY, SB, Bentoel, Nyiru Savira


Mendengar kantor pos, secara otomatis Anda akan terbayang suasana ruangan dengan aktivitas petugas sedang melayani masyarakat yang hendak mengirimkan surat, paket, atau wesel. Kok bisa? sebab kantor pos masuk dalam salah satu materi pelajaran di sekolah. Jadi meskipun belum pernah melihat langsung bentuk kantor pos, Anda dapat menjelaskan fungsi dan definisi kantor pos.

Meski mempunyai kata akhir sama, namun Jawa Pos tidak memiliki kaitan dengan kantor pos. Jawa Pos bukan kantor pos yang ada di Pulau Jawa. Ketika mendengar Jawa Pos secara otomatis otak langsung menghadirkan bentuk visual koran, itu karena Anda pernah membaca Jawa Pos, meski dari koran langganan di kantor atau pinjam ke teman. Lain lagi bagi yang belum pernah mendengarnya. Ia akan mengerutkan kening, lalu bertanya “Kantor Pos?”

Pengalaman ini pernah dirasakan rekan saya ketika ada verifikasi data dari sebuah bank penerbit kartu kredit. “Sebel!!, masak dikira kerja di kantor pos?,” cerita temanku dengan mimik cemberut. Kesalahan wajar jika si penelpon tinggal di Jakarta, berasal dari luar Jawa dan berlangganan koran X.

Saat Kompas lahir, saya belum menghirup udara Indonesia, sehingga tidak pernah merasakan sensasi mendengar kata “KOMPAS” untuk pertama kali. Namun saya membayangkan mimik masyarakat kala itu, bisa jadi mereka mengasumsikan Kompas dengan kompas penunjuk arah. “Eeee lha dalah, ternyata Kompas iku koran to…”. (mungkin) itu kalimat yang terlontar saat mengetahui Kompas yang dimaksud adalah nama koran. Baca lebih lanjut

Istana Kedua


Tanpa sengaja saya membaca iklan ucapan selamat atas terpilihnya Istana Kedua karya Asma Nadia sebagai buku (apaaa githu, saya lupa loh… 😉 ) dalam Islamic Book Fair di Kompas edisi minggu (2/3/08). Tadi malam, saat mampir ke Gramed saya pun langsung mencari buku itu. Terus terang, yang membuat saya tertarik hingga memutuskan untuk membeli adalah quote yang ditulis dalam iklan tersebut, yang ternyata adalah kutipan dari omongan Arini, salah satu tokoh dalam novel itu.

“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”

Kalimat sederhana, halus, sekaligus menusuk.

istana-kedua.jpg