Jangan Pernah Menunda (lagi)


Dulu, saya sempat membaca artikel ini di milis (meski saya lupa milis yang mana). Ketika tadi pagi browsing artikel tentang psikologi, tak sengaja saya menemukannya lagi. Membaca ulang, saya masih tetap saja menangis, tersedu, merasakan kegelisahan dan kebingungan si pemuda, sekaligus perasaan campur aduk si ibu. Menyesal dan bersalah, mungkin itu yang dirasakan perempuan itu atas tuduhan prasangkanya kepada si pemuda.

Saya paling susah mentolerir pengamen, pengemis, dan peminta-minta necis yang mendatangi setiap rumah dengan kedok sumbangan untuk panti asuhan. Biasanya, saya selalu melihat performance mereka untuk menentukan apakah akan berbagi rejeki dari Allah receh ataukah tidak. Jika secara fisik si peminta tak memungkinkannya untuk bekerja (tua sekali, cacat), saya akan berbaik hati. Jika masih segar bugar, kuat, lebih baik saya mengatakan tidak, dari pada memberi namun kurang ikhlas.

Baca lebih lanjut

Sehari bersama Hilmi


hilmi-tante

sbenernya seh ada foto pas renang tuh, cuman lupa simpen *_^

gud mom, wanna be..huehehehe. yach, paling enggak sabtu (15/12/07) lalu aq dah jadi tante yang baik untuk Hilmi. Ehm, pastinya dech, dia makin sayang n’ bangga sama tantenya yang cantik ini (upz!! keluar dech narsisnya…)

Jam 10.00 WIB, aku membawa ponakanku ke Play Ground deket Matos. Kita langsung menuju kolam renang dan dengan dengan semangat, Hilmi mengganti baju dan nyebur ‘plung’ ke kolam yang cetek itu.

Melihat wajahnya yang polos, menjadi sebuah hiburan tersendiri saat aku begitu memikirkan bapak dan ibu di rumah. Aku semakin terpana dan tersenyum sendiri melihat ponakanku itu langsung mendapat banyak teman dan akrab dengan mereka. Bahkan, tanpa dikomando, segerombolan bocah itu membuat lomba seluncur.

Yach, anak kecil memang selalu polos, jujur, dan mampu mempercayai temannya 100 persen. Tak ada perasaan curiga, apalagi intrik. Kita, orang dewasa sekali waktu memang harus meluangkan waktu untuk belajar tentang kepolosan dan rasa percaya yang dimiliki anak kecil.
Mereka akan mengatakan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan, tanpa beban. Itu juga yang mengilhami dan memberiku keberanian untuk mengakui perasaan yang pernah dan masih aku rasakan kepada seseorang, di malam harinya.