Rapuh, Belajar untuk Kuat


terkadang kita memang harus menjadi lidi,
untuk menyadari bahwa kita tak bisa [selalu] sendiri
membutuhkan orang lain,
untuk saling menguatkan, menyempurnakan…

itu komen saya untuk note seorang teman di fesbuk yang menulis  “jangan menjadi lidi, yang hanya kuat saat bersatu dan rapuh kala sendiri”. hai teman -to not write ur complete name here-, menjadi rapuh bukan sebuah kesalahan, kelemahan, apalagi dosa. menjadi rapuh menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia, makhluk sosial yang diciptakan untuk hidup bermasyarakat, saling membantu, membutuhkan, wujud dari hablun min annaas, ukhuwah dan apapun istilah lainnya.

menjadi rapuh merupakan kesempatan belajar untuk lebih kuat, tegar.
manusia tak akan menikmati saat kuat sebelum merasakan dan melewati fase rapuh. tak akan mensyukuri dan memahami kesenangan dan kebahagiaan sebelum merasakan kesedihan. selalu [harus] ada keseimbangan dalam hidup, ada hitam dan putih, ada yin-yang, malam-siang, matahari dan bulan.

rasakan kerapuhanmu, kelemahanmu, kesedihanmu…
sebagai anugerah nikmat dariNya

Jangan Pernah Menunda (lagi)


Dulu, saya sempat membaca artikel ini di milis (meski saya lupa milis yang mana). Ketika tadi pagi browsing artikel tentang psikologi, tak sengaja saya menemukannya lagi. Membaca ulang, saya masih tetap saja menangis, tersedu, merasakan kegelisahan dan kebingungan si pemuda, sekaligus perasaan campur aduk si ibu. Menyesal dan bersalah, mungkin itu yang dirasakan perempuan itu atas tuduhan prasangkanya kepada si pemuda.

Saya paling susah mentolerir pengamen, pengemis, dan peminta-minta necis yang mendatangi setiap rumah dengan kedok sumbangan untuk panti asuhan. Biasanya, saya selalu melihat performance mereka untuk menentukan apakah akan berbagi rejeki dari Allah receh ataukah tidak. Jika secara fisik si peminta tak memungkinkannya untuk bekerja (tua sekali, cacat), saya akan berbaik hati. Jika masih segar bugar, kuat, lebih baik saya mengatakan tidak, dari pada memberi namun kurang ikhlas.

Baca lebih lanjut

Rahasia dan Resolusi


Tak terasa, 2008 akan segera berakhir menyambut hari-hari baru di 2009. Beberapa tabloid dan majalah bahkan sudah mulai mengulas ramalan-ramalan yang (mungkin) terjadi tahun depan dengan mewawancarai para peramal dan ahli “apapun istilah sejenisnya” yang wajah mereka sering wira wiri di layar kaca, menawarkan solusi instans dan singkat seharga Rp 2000.
Hair stylist dan fashion designer juga  naik daun. Pendapat mereka tentang tren potongan rambut dan model busana tahun depan diburu untuk kemudian disajikan kepada pembaca. Topik tersebut diulas karena begitulah yang diharapkan dan  dibaca oleh masyarakat,  sekaligus menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita adalah orang-orang kurang pede.

Memasuki tahun baru yang ditanya kok si mama, ki bodo, atau  ki dan ki lainnya. Yang saya yakin, mereka sendiri nggak tahu tentang masa depan mereka dan apa yang akan mereka temui dan hadapi nanti.

Masa depan adalah rahasia.
Dan karena rahasia itulah ia menjadi tantangan dan misteri hidup yang menarik… Baca lebih lanjut

Idul Adha; Belajar Ikhlas


قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى


قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ


Saat onlen di YM tadi sore aku menuliskan “learning to sacrifice, Met Hari Raya Idul Adha”. Lalu ada seorang teman bertanya “Emangnya ente belajar berkorban apaan?”

“Ehmmm, aku nggak tau juga. Belajar berkorban apa, untuk apa, atau untuk siapa”

“Lah, trus why did u write the sentence?”

“Suka2 dunk. Lagian kan aku nulisnya sedang belajar tuh. Yang namanya belajar itu proses…”

“dari dulu kok prosessss……..”

” 😀 ”

*** Baca lebih lanjut

Masa Lalu & Cerita Penghubung


J : If the time could be turn back, what d u want to be change?
Mom : nothing
J : I mean, if u did a big mistake…that affects to ur life, d u want to change it?
Mom : No!
J : Why?
Mom : Coz I cant learn something If I didnt make a mistake

Kalo gak salah, githu tuh percakapan Jenna Rink dengan ibunya di pilem tadi malem, maklum deh kemampuan bahasa buleku belepotan bangetz. Lagian, nontonnya sambil berlinang air mata, uuuh…sentimentilku keluar dweh….
Sometimes, aku ngebayangin beberapa peristiwa masa lalu yang ingin aku ubah. “Seandainya waktu itu, gw ngelakuin X”. “Seandainya aku ambil keputusan A”, dan seandainya, seandainya lainnya…
“LOh, kalo aku ambil keputusan lain, berarti kejadian akan berubah. Aku akan mengalami peristiwa lain, dan tidak akan menjadi seperti sekarang”
a lesson learned.

**** Baca lebih lanjut

Berat Vs Ringan


Saat masih sering nonton film kartun, ada salah satu yang saya sukai, HAMTARO. Bukan karena si tokoh yang imut dan lucu, tapi kalimat yang selalu diucapkan sebelum pilem berakhir. “Hari ini indah dan menyenangkan. Semoga besok akan lebih baik lagi”.

Sugesti dan motivasi.

Terus terang, jadwal pekerjaan hari ini sangaaat banyak. Jam 09.00 musti out dari rumah, bukan untuk jalan-jalan dan hunting kontrakan lagi, tapi rapat besar karena ada big boss yang datang. Untung maksiNa @rumah makan yang otre banget, LINTANG (kapan2 saya tuliskan deh, bis gak ada foto lokasi), soalNa habis ntu masih harus ngurusin band & dance competition (gile, soal band mah cuman tau lagu-lagunya aja. ndak pernah ngegelar acara, eeeeh lha kok ini malah mo bikin gede-gedean), pilih lagu n’ syarat-syarat buat kompetisinya. Ehmmm, maunya sih lagu-2nya Agnes, Mulan Jamidonk (ups!), Rihanna, Kelly Clarkson, Leona Lewis, Letto, Ungu, Alicia Keys, Sugababes, Pink, K Minogue, Dewi2, Dewa 19, Tompi, BEP, (lah kok semua?…). Tapi yo wis lah, memenuhi keinginan semua orang, menampung selera mereka, TOP 40 lah yang dipilih.

Eh, jadi nulis lagu.
Gini deh, sebenarnya aku mo nulis kondisi kita saat bangun pagi (apakah senang, bahagia, tersenyum, tertawa, atau cemberut, sedih, dll) memiliki pengaruh besar dengan apa yang akan kita rasakan dalam sehari itu.

Contoh, aktivitas dan apa yang terjadi hari ini sangat berat dan melelahkan. Tapi feeling dan mood saya sedang bagus, sehingga kondisi eksternal yang negatif tak berpengaruh besar pada apa yang saya rasakan. So, terima kasih Tuhan, Allah Yang ESA, untuk karuniaNya.

Hiks, rasanya pannnaaaassss……musti ngayuh sepeda dulu deh, wanna take shower and then balik lagi ke kantor. nayamul lah, ganti baju, en shopping bentar 😀


Untuk PKL, Masyarakat, Indonesia, untuk Kita Semua….


Bismillah….

Sabtu (7/6/8..) di rumah Pak Bambang AW yang begitu asri….

“Mbak, coba bikin acara seminar motivasi untuk pedagang kaki lima (PKL) gratis!. Datangkan Adrie Wongso, motivator sukses asli Malang dan lulusan SD. Tokoh nyata yang bisa menginspirasi PKL bahwa mereka pun bisa sukses seperti dia. Agar PKL benar-benar mau fight, sadar untuk berubah dengan memberikan pelayanan yang baik, memperhatikan kebersihan. Sehingga tanpa dioprak-oprak Satpol PP, PKL di Malang bisa menertibkan dirinya sendiri,” kata Pak Johan.

“Waduh, Adrie Wongso ya…mahal dunk pak:-( ” Baca lebih lanjut