Pak Kamilun Muhtadin itu. . .


Subuh hari ini (17/7/12) saya dikagetkan dengan broadcast dari pak Husnun yang mengabarkan tentang wafatnya pak Kamilun Muhtadin, Ketua Takmir Masjid Jamik Kota Malang, tadi malam. Perasaan sedih dan kehilangan muncul dengan tiba-tiba, apalagi tak berapa lama kemudian muncul komentar dari teman-teman tentang pengalaman dan kesan mereka saat bersinggungan dengan mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang ini.

Saya sebenarnya tidak terlalu lama berhubungan dengan beliau, pun tidak begitu sering bertemu. Saya hanya beberapa kali bertatap muka untuk urusan pekerjaan karena menggantikan tugas rekan yang sedang cuti. Tapi momen yang ‘hanya beberapa’ itu begitu membekas dan terkenang  Pak Kamilun  mampu menempati satu sudut penting di hati saya, sebuah ruang yang berdiri tegak tanpa ia perlu bersusah payah membangunnya. Kecil, namun kokoh dan kuat. Kecil, tapi akan selalu ada meski ia sudah tiada. Baca lebih lanjut

Berkawan dengan Emosi


Ok, saya minta maaf. Maaf beribu maaf karena tidak bisa menepati janji untuk menulis aktif di blog ini dalam setahun kemarin. Oh, Anda merasa tidak pernah mendengar janji saya tersebut? Ya iyalah! karena saya memang tidak pernah berjanji kepada Anda atau siapapun di luar sana kecuali kepada saya sendiri.

Tidak perlu mengurai alasan #panjang kali lebar sama dengan luas# karena akan selalu saja ada yang bisa dijadikan kambing hitam, kenapa saya enggan menulis di rumah kecil ini, kemarin. Padahal nich, ada banyak cerita, kisah atau apapun namanya yang bisa ditulis loh. Ah sudahlah, 2011 sudah berlalu.

Berkawan dengan Emosi

Ada apa dengan emosi? kenapa harus berkawan dengan emosi? apa saya sedang emosi? yes, Iam!.

Baca lebih lanjut

Oh, Ada Murid Kentut!


Jika Anda seorang guru, apa yang akan Anda lakukan saat ada seorang murid kentut di kelas, dengan suara super duper keras pula?. Duuud brooottt… 😀

Muka memerah, mengamuk marah, lalu berceramah mengenai etika dan lain sebagainya. Berkhutbah bagaimana seharusnya sikap seorang murid di dalam kelas,  hingga tentang adab dan sopan santun ketimuran yang harus dijunjung tinggi, atau menyuruh murid tersebut keluar kelas dan memberinya hukuman?. Mungkin ya (melakukan semua yang saya sebutkan tadi), mungkin juga tidak.

Creative. Ahmad Dahlan adalah contoh  pendidik yang kreatif. Saat dia mengajar dan ada murid  kentut di dalam kelas, ia tidak serta merta marah atau meminta murid bersangkutan meminta maaf. Ia malah bercerita tentang betapa nikmatnya seseorang bisa kentut. Karena kentut adalah anugerah Tuhan yang sungguh luar biasa, bukti kecintaanNya kepada manusia dan salah satu wujud karunia yang harus disyukuri.

“Kita harus bersyukur bisa kentut. Coba bayangkan tubuh manusia seperti balon tanpa lubang untuk mengeluarkan gas. Balon tersebut terus diisi dengan udara, dipompa terus, lagi dan lagi hingga menggelembung dan akhirnya duarrrr, pecah!. Tapi Tuhan sayang dengan manusia hingga memberinya lubang untuk kentut, makanya, sebagai rasa syukur kita harus berucap. . .”

“Alhamdulillah”, jawab seluruh murid.

Think Fast. Untuk menjadi kreatif, seorang pendidik harus bisa berpikir cepat, mencari ide pengembangan (pembelajaran) dari stimulan yang muncul di dalam kelas. Jika contoh (stimulan) dalam film Sang Pencerah besutan Hanung Bramantyo tersebut tentang murid yang kentut, maka ada bermacam peristiwa yang bisa kita temui dalam kelas sehari-hari.  Anda, para pendidik, harus bisa menyikapinya dengan dewasa (dan tentu saja kreatif).^^


Resensi N5M dan NS


Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar” [N5M]

Itu adalah status [atau note ya?] yang ditulis mas Fuadi di akun fesbuknya, Agustus lalu -kalo tidak salah. Banyak yang berkomentar, salah satunya saya. Komentar yang juga pengakuan kalo saya menangis setelah membaca kalimat itu. Swear ewer-ewer boom-boom, saya memang benar-benar menangis, sesenggukan, terharu, merasa tertampar, termotivasi, wes poko’e campur aduk dech.

Aneh ya?
Well, bagi sebagian [banyak] orang mungkin memang aneh. Tapi saya yang menurut beberapa teman termasuk sosok tegar [hallah!], memang gampang banget meneteskan air mata untuk hal-hal yang menyentuh. Termasuk kalimat itu.

Menyentuh?
Absolutely yupz! 😉 bagi saya. Ketika membacanya, saya sedang merasa hampa dan bosan dengan rutinitas *pernahkah kau merasa hatimu hampa…pernahkah kau merasa hatimu kosong…eh! lha kok jadi nyanyiin Hampa-nya Ungu :D. Kalimat itu terasa seperti baterai dan energi luar biasa yang mencoba me-recharge semangat saya untuk bangkit, kembali berani bermimpi, dan mewujudkannya.

Baca lebih lanjut

Anarkis, Kekerasan, dan Anak Perempuan


Tiga kelas porak poranda. Kursi terbalik, rusak. Buku-buku hancur lebur dengan lembaran yang sobek, terkoyak. Piala-piala yang sebelumnya tampak gagah berdiri di lemari pajang, bergeletakan di lantai dengan kondisi tak kalah mengenaskan, patah menjadi dua, tiga, tak mampu menampakkan kecantikan dan prestasi membanggakan di balik perolehannya.

Visual dari kelas hancur itu sebenarnya tak langsung menarik perhatian saya. Maklum, sudah terbiasa melihat perusakan aset, ruangan, gedung, atau apapun sejenisnya yang dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab di tanah air yang lebih parah dari itu. Narasi selanjutnya lah yang kemudian membuat saya kaget. Suara narator perempuan yang terdengar telinga itu langsung diolah otak dalam sepersekian detik kecepatan, yang kemudian mengintruksikan mata untuk langsung melihat layar TV, mengalihkan dari keasikan saya sebelumnya, membaca.

Jika bisa berbicara dan mengungkapkan perasaan, TV yang sebelumnya saya cueki dan hanya menjadi background suara itu mungkin akan berteriak girang. “Horrrrrreeeeeeee, I finally get ur attention!”.

Kalimat narator inilah yang membuat saya terbengong-bengong:  “Perusakan kelas di MI Raudhatul Hikmah Mojokerto itu dilakukan oleh BL dan S, siswi kelas 3 SDN II Desa Wotanmas Jedong Mojokerto. Dua anak perempuan yang masih berusia 9 tahun itu mengaku cemburu karena gedung MI tersebut lebih bagus dari sekolah mereka yang jelek”. Hallah dalah!! oalah nduk, nduk. . . kasian bener kalian, menjadi korban pelaku anarkis yang jumlahnya tak jua berkurang.

Baca lebih lanjut

injury time


tadi seorang rekan menanyakan detil kontrak dengan salah satu perusahaan, padahal kontrak tertulis yang asli tidak ada di tanganku.
aku putuskan untuk membuka imel, membuka folder sent mencari file berisi tentang rekaman komunikasi dan negosiasiku dengannya. sebagian file itu masih ada, tapi yang membuatku  betah membuka folder adalah beberapa file masa lalu yang ternyata belum terhapus dan masih bertengger manis di  sana . aku buka, membacanya sembari tersenyum dan  mengingat ragam cerita yang pernah terjadi saat semua file tersebut ditulis, dikirimkan.

Baca lebih lanjut

Kesalahan Kecil (Fatal) di Film Laskar Pelangi


فَمَن يَعْمَلْ مِثقالَ ذَرّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Anda pasti tahu ayat ketujuh dari surat الزلزلة ini. “Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarahpun, maka ia akan melihat (balasan)nya”. Ayat yang sering dijadikan rujukan saat seseorang menasehati sesamanya untuk berbuat baik. “Ente nggak bakal rugi kok. Berbuat baik itu mesti ada pahalanya, meski itu masih dalam niat sekalipun. Malaikat mencatat, Allah melihat”

Ayat ini pula yang ditulis Bu Muslimah yang diperankan Cut Mini dalam Laskar Pelangi. Ayat ini muncul dan di-shoot tak lebih dari tiga detik. Cukup singkat, tapi otakku melakukan scanning cukup cepat. Karena itu, setelah papan tulis tak terlihat, aku bertanya kepada QQ, yang kebetulan duduk di sampingku “Q, mitsqoola itu pake tsa (ث) apa sin (س)?”. Baca lebih lanjut